Life Flowers


Paijo yang tidak Ingkar Janji
February 13, 2007, 1:25 am
Filed under: Hello World, Short Stories | Tags:

 

Paijo adalah cerita pendek yang menggambarkan anak-anak petani yang mulai meninggalkan akar budaya mereka demi gengsi…….Oleh karenanya banyak sekali sawah-sawah di desa terbengkalai. Paijo tidak hanya satu orang, mungkin ada Paijo-Paijo yang lainnya yang gengsi dengan keadaan yang telah ada

ndesa1.jpgOrang-orang di kampung sudah hilir mudik akan bepergian, ada yang mau ke pasar, ada yang mau ke sawah atau kebun. Sesekali ada yang memanggil-manggil Paijo, “Hei, Paijo, ayo pergi ke pasar…….Lumayan bisa cuci mata di sana, Poniyem sudah nunggu di depan gerobak bakso”. Tetapi yang dipanggil-panggil hanya diam, sambil terus membenahi sarung dan bantalnya. Mboknya sesekali menyahut kalau kebetulan mendengar, “Paijonya lagi ngimpi Supra X dan Hape, mbok tape, embuh! Pingin jadi Panji klantung, Bocah tidak kalap“. Orang-orang yang lewat hanya cengar-cengir. Matahari sudah setinggi pohon mangga depan rumah, masih saja Paijo terbuai mimpi-mimpi. Entah lagi mimpi apa lagi dia, mungkin saja baru mimpi naik motor Supra X dan sedang menimang-nimang HP. Pemuda seumur dia belum juga punya nalar, kerja di bengkel tidak betah, apalagi tidak mau belajar sama sekali. Jadi tukang ojek saja malah digunakan untuk menggoda cewek. Apalagi jadi perangkat desa di Kelurahan. Tidurnya saja yang terus mendengkur. Masih saja bantal lusuh itu dipeluk-peluk. Matahari sudah kelihatan jelas, tapi mata dan telinga ditutup rapat-rapat. Sementara itu Ibunya sudah keluar masuk sumur mengisi air di gentong yang sudah mau habis, sambil berkali-kali memegang punggungnya. Ya, punggung tua, sudah tidak kuat lagi menahan beban. Di ember besar pakaian-pakaian Paijo semakin berbau amis, karena malas mencuci. Mboknya suka kasihan melihat Paijo, walaupun Paijo semakin malas dan berlagu, sehingga dicucikannya Paijo sekarang sudah tidak mau lagi bekerja yang kasar-kasar. Suara grubag-grubug di kali belakang rumah itu sama sekali tidak membangunkannya dari dunia maya. Entahlah, makin hari makin malas dia. Cangkul bapaknya hampir tidak tersentuh. Rumput-rumput di sawah dibiarkannya meninggi. Kerbau untuk membajak tidak pernah dikombor dengan air garam, badan kerbau semakin mengecil. Entah apa yang terjadi dengan Paijo, beberapa hari yang lalu Paijo minta dibelikan handphone sama motor Honda Supra X. Mana Simboknya punya duit sebanyak itu, kalau tidak jualan sawah, sapi atau kambing. Padahal bagi orang desa yang namanya tanah dan ternak itu harta yang sangat berharga. Dengan harapan sebagai tabungan kalau ada kebutuhan mendadak.

ndeso-2.jpgSekitar jam 10 pagi, Paijo baru bangun, menggeliat-liatkan badannya. Mboknya sudah pergi ke pasar. Bapaknya sudah menggarap sawahnya yang terletak di pinggir desanya. Betul-betul tidak ada malunya sama sekali menjadi beban orangtuanya yang hanya mendekati hari tua. Dilihatnya isi dapur Mboknya. Tampak di situ sayur tempe oseng-oseng dan sebakul nasi. “Tempe terus, kapan gemuknya, tiap hari tempe…tempe…..” Sambil marah-marah, dia mengambil nasi dan sayur sepiring penuh, seperti orang habis sambatan. Dimasukkannya makanan ke mulutnya banyak-banyak. Sudah biasa dia mengunyah makanan sambil ngomel terus, mencaci-caci makanan dan Simboknya yang memasak. Sama sekali tidak bisa menghargai orang benar-benar Paijo itu. Sementara tangan kanannya memasukkan makanan ke mulutnya yang hitam karena suka merokok, tangan kirinya memencet-mencet tombol tv, “Dari dulu tv kok ya o berwarna hitam putih melulu, merknya nasional, di atas meja doyong, kalau begini lihat orang cantik kelihatan sama saja dengan tempe goreng….(dia ngomel sambil mengunyah tempe gorengan Simboknya), sana sini hanya semut, kapan bisa beli parabola………Jangankan ada parabola, makan saja kayak gini terus.”

Ketika dia baru mau memasukkan makanan, sambil matanya melototi bintang iklan sabun mandi, Tamara Blezinky, sambil berkhayal punya isteri kayak dia, …..tiba-tiba terdengar suara-suara di balik tirai batik di ruang tengah, “…makan, makan saja, tidak usah meggerutu, memangnya kamu bisa apa, hanya tidur, makan, begadang, kenapa tidak kamu pegang itu cangkul milik Bapakmu, lihat Simbok dan Bapakmu yang sudah bungkuk dan batuk-batuk saja …..apa kamu nggak kasihan, apa kalau minta Honda Supra X itu tidak pakai uang, pakai dengkulmu saja. Jangan lihat Fajar, dia kan anak lurah, sedangkan kamu hanya anak petani, Simboknya hanya bakul di pasar Beringharjo………..” Paijo tersentak dan kaget, tidak ada orang kok ada suara………..Dia pikir dirinya telah gila, dicubit-cubitnya seluruh kulit badannya yang warnanya kecoklat-coklatan. Kemudian Paijo berteriak, “Hei,…orangtua tak tahu diri, coba perlihatkan dirimu, memangnya kamu siapa? Berani marah-marah di depanku. Kalau aku bukan anak Lurah, kenapa? Kalau Bapakku hanya petani dan Mbokku hanya bakul di pasar Beringharjo, kenapa memangnya.” Diambilnya gobang Bapaknya yang biasa untuk membelah kelapa sambil matanya melotot-lotot lari-lari ke luar, ternyata tidak ada siapa-siapa. Saking marahnya denga suara-suara itu, dia tidak melihat tanah basah berlumut di belakang rumah. Dia terpeleset dan terjerembab ke bawah. Kembali lagi suara itu datang, “Ha…ha….dasar orang gila, tidak ukur diri, ngimpi terus…”. Badannya hanya lemas, mau bangun dari genangan air itupun tidak sanggup. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dia bangun dan segera ganti pakaian.

Dari waktu ke waktu sejak terdengar suara itu dia mulai merenungi nasib dirinya. Tetapi kadang-kadang dia hanya apatis terhadap apa yang terjadi padanya. “Betul juga ya suara itu, Bapak dan Mbokku kerja apa, kok aku mimpi-mimpi dibelikan Supra X dan handphone. Hm, lalu apa yang bisa kuperbuat, aku mau ngojek juga tidak ada motor, mau mbengkel nggak punya modal. Siapa yang akan menolongku. Kalau aku membantu Bapak di sawah, apa yang kudapatkan. Capek, kulitku makin hitam, tidak ada kembang desa satupun naksir aku, punggungku yang muda ini kan bungkuk. Rupaya Paijo baru menderita penyakit paranoid akut takut jelek. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan yang lain juga membutuhkan modal yang besar pula. Mau melamar pekerjaan di ibu kota, butuh uang saku yang tidak sedikit dan pasti Bapak sama Simboknya tidak mau melepaskan. Ternyata hampir semua pekerjaan membutuhkan kocek yang tidak sedikit. Semuanya membutuhkan modal yang besar. Siapa yang akan menolongku?

Kemudian dia berlari-lari menuju di sawah. Matanya menoleh ke sana ke mari, tetapi tidak juga ditemukan yang dicarinya. Sesaat kemudian dilihat Bapaknya yang lagi membersihkan lumpur dari cangkul di parit dengan sawahnya, dicium-ciumnya tangan Bapaknya itu,”Ampun Pak, maafkan saya, saya seharusnya sudah bekerja membantu Bapak, saya sudah besar, tapi masih bikin susah Bapak saja…….Pak, saya ingin membantu Bapak cari uang, tapi Paijo nggak mau kalau disuruh megang-megang cangkul, memandikan sapi. Maaf Pak, Paijo nggak mau…” Kata Paijo sambil menangis tersedu-sedu bagaikan anak kemarin sore kehilangan mainannya. Bapaknya hanya tertawa ngakak,”Bapak ngimpi apa, kok kamu kayak gini, malu bapak, dilihat tetangga-tetangga. Sudah, sudah, kita ngomongnya di gubug saja’. Kemudian mereka berdua melewati pematang menuju gubug di ujung persawahan itu.

Paijo, anakku yang bagus sendiri, kalau kamu tidak mau megang cangkul, terus siapa yang akan mengolah sawah dan ladang kita ini. Apa kamu tidak malu sama paman-pamanmu yang masih rajin ke sawah. Kalau kamu tidak mau ke sawah, pasti nanti sawah-sawah kita diminta oleh kakekmu. Padahal sebagai orang desa, tanahlah harta yang paling berharga dibanding dengan yang lainnya. Kamu lahir dari keturunan petani, bukan dari Lurah. Kenapa kamu mengingkari kelahiranmu, Nak. Bapak juga tidak habis pikir, selain kamu sekarang ini semakin malas, juga pikirannya aneh-aneh saja. Apa Bapak harus menjual sawah atau sapi buat beli Honda Supra X sama Hape. Apa kamu ingin membunuh Bapak Simbokmu pelan-pelan……Oalah le, anakku yang bagus sendiri.”

Paijo hanya diam saja, pandangannya beralih ke arah hamparan sawah di sekelilingnya. airmata meleleh di pipinya. Rasa gengsi yang selama ini dia pegang dengan kukuhnya mulai luntur. Kadang-kadang paranoid takut jelek itu selalu mengalahkan yang lain. Kalau mengandalkan paranoidnya dia tidak akan mungkin mendapatkan penghasilan, tidak bisa membeli motor dan hp yang bagus, seperti Fajar, anak Pak Lurah desanya.

Terngiang-ngiang terus suara-suara tak bertuan itu, dia mikir terus. Sore itu dia mendatangi Kakaknya yang kebetulan tinggal di seberang. Dia mau bicara sesuatu. Di depan pintu kakangnya sudah menegurnya “Eee..Paijo, tumben ke sini, ada perlu apa, sore…sore gini. Kebetulan Mbakyumu baru nggoreng tahu isi sama mendoan, sini masuk saja……Waduh saudaraku laki yang ngganteng sendiri,”. Paijo hanya bersungut-sungut, tidak seperti biasanya selalu mbagusi. Paijo lama sekali diam membisu seribu basa, bingung mau ngomong apa. Biasanya mbakyu iparnya sudah curiga duluan, kalau Paijo datang pasti karena gara-gara mau minta uang. Kali ini Mbakyunya masih di dapur masak, mungkin nggak tahu kalau Paijo datang.

“Begini Kang Nyoto, kakangku yang paling dekat denganku hanya Kakang saja, saya pingin minta pendapatmu, pekerjaan apa yang harus kujalani nanti. Kang, aku nggak suka nyangkul lagi, memandikan sapi, aku bosan Kang, mbok cariin aku kerja yang nggak pakai nyangkul-nyangkul.”

“Mau nggak kamu ikut aku pergi ke pasar hewan, menjadi blantik. Lumayan dapat untung. nanti kamu belajar menyembelih hewan, bekerja di tempat jagal. mau enggak?”

“Berhubungan dengan binatang lagi? Mbok yang lainnya, yang megang-megang hp, atau bolpoin……..malas Kang pekerjaan semacam itu?”

“Lha, kamu itu gengsi saja adanya kok Paijo, kita ini anak agraris. Bapak dan Mbokmu petani, kamu nggak mau meneruskan pekerjaan orangtuamu. Waduh…waduh….”

“Begini, Kang pinjami aku montormu untuk ngojek di pasar Kang…..aku tetep mau nyangkul, tapi yaitu aku mau nyambi ngojek,……”

“Urusan perempuan lagi ini,…..ngojek atau perempuan. Jujur saja, naksir Poniyem anaknya bakul bakso ya…..Paijo, Paijo

“O…alah Kang, tega betul ngomomg begitu sama Adik lanang, ora Kang, benaran…”

“……… ya udah pakai itu Yamaha…….”kata Kang Nyoto sambil mengunyah bakwan yang tadi dipegangnya. Sesekali mengisap rokok gulungan. “Lihat nih, Kakangmu ini merokok ya cukup rokok gulungan, sedang kamu nggak kerja saja maunya rokok Samsu melulu…..Kasihan Simbok, Di.”

Paijo baru lega ketika Kakangnya mengabulkan keinginannya untuk meminjam montor Yamahanya, biar sudah jelek, tetapi lumayan, siapa tau bisa menambah uang. Lama-lama bisa buat beli Hp, si Noki…(maksudnya Nokia).

Paginya tampak Paijo sedang memandikan montor Yamahanya itu dengan air kali. Bapak Simboknya hanya terheran-heran dengan perubahan Paijo tersebut. Apa Paijo sedang kesurupan apa ya, kok nyanyi..nyanyi Sewu Kuta……Setelah mandi langsung berpamitan pergi ngojek di pasar kecamatan. Dasar Paijo memang gemagus, glelengan (laki-laki ganjen) di pasar pun disorakin sama cewek-cewek yang ada di pasar. Pantes-pantes kalau nggak mau megang pacul sama ngarit buat makanan sapinya Bapaknya. paijo, Paijo mbok eling.

Janji Paijo untuk berubah sikap dan perilaku tampaknya betul-betul terwujudkan, untuk berapa lama itu……………O-alah Paijo..Paijo kamu itu mbok nggak usah nggaya, kasihan mbokmu to….



Bunga Kertas
February 12, 2007, 8:27 am
Filed under: Hello World, Short Stories | Tags:

      Kaki-kaki langsing bersepatu kulit dengan hak runcing itu melangkah pasti di atas lantai keramik menuju sebuah ruangan di Hotel Kirana, yang berada di kaki Kaliurang. Bayangan tubuhnya tampak sekali di balik ujung gang itu. Langkah-langkah sepatunya menimbulkan irama yang indah bagi yang mendengarnya. Tak berapa lama kemudian, dia telah berganti menjadi sosok wanita yang berbusana batik. Dia sibuk melayani tamu hotel yang akan menginap di hotel Kirana. Begitulah kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Gayatri, gadis desa yang baru beberapa minggu bekerja di Hotel Kirana sebagai petugas customer service di Hotel Kirana. Hotel Kirana, hotel berbintang lima milik Mr. Narotama Sayogi yang terletak di bawah Kaliurang. Dengan fasilitas lapangan golf luas di kelilingi pemandangan sekitarnya seolah-olah berada tepat di bawah Gunung Merapi.

 

Minggu-minggu pertama bekerja sempat membuat Gayatri terkena homesick di sana, sehingga dia harus sering bolak balik dari Kaliurang - Klaten. Di Klaten Gayatri memiliki seorang tunangan yang selalu menjadi sumber spiritnya. Sebenarnya Imam sudah berkali-kali meminta Gayatri untuk segera menikah, tetapi sepertinya Gayatri masih ingin menikmati kebebasan. Imam sendiri sudah terlalu sibuk mengajar di sebuah SMA di daerah tersebut. Kalau liburan Gayatri hanya meluangkan waktunya berduaan dengan Imam, tunangannya itu. Sebenarnya tahun depan mereka merencanakan untuk menikah, tetapi pengelola hotel belum mengizinkan. Biasa orang-orang di kampung sudah ceriwis saja, melihat mereka selalu bermesraan di jalanan desa menaiki sepeda onthel. Apabila Gayatri akan kembali bekerja, Imam dengan sabar mengantarnya hingga terminal, sambil tangannya melambai-lambaikan tangannya.

#######

Esok paginya Gayatri telah bersiap bekerja di depan meja resepsionis. Hari ini sangat banyak tamu memenuhi hampir seluruh kamar Hotel Kirana, salah satunya adalah Bastian, seseorang yang membawa pengaruh besar di dalam hidupnya. Silih berganti tamu-tamu datang. Oleh karenanya dia tidak bisa pulang duluan. Gayatri memilih pulang setelah semua tugas selesai. Hari ini dia harus mengecek data-data tamu hotel yang terus berdatangan. Tiba-tiba dia melihat seorang tamu yang berjalan sempoyongan mendekati meja kerjanya, setelah didekatinya ternyata Bastian. Rupanya dia baru saja pulang dari kafe, kasihan dia melihat pria itu, sehingga dia mengantarnya ke ruangannya. Di kamar nomor 431 itulah kehidupannya diakhiri oleh seorang pengusaha muda itu. Dalam keadaan mabuk, laki-laki itu melakukan ………………………………………

Gayatri buru-buru pulang pulang ke Klaten. Dia hanya menangis meratapi nasibnya. Sampai di kampung dia tidak menceritakan apapun yang terjadi.

Gayatri tidak kembali lagi ke Hotel Kirana. Imam berusaha menghubunginya, tetapi Gayatri terus bersembunyi di balik ilalang-ilalang. Tangisannya tidak menyembuhkan luka hatinya. Aliran sungai besar di kampungnya itu tidak bisa menyucikannya lagi. Dia ingin membalas tindakan pria yang ada di hotel itu setimpal dengan apa yang telah dilakukan padanya, tetapi dia tidak berdaya.

Sudah hari ke 7 kepulangannya di Klaten. Dia belum juga sembuh dari keadaannya. Dia begitu membenci dirinya sendiri, sampai akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya di jurang. Baru saja dia hendak mengayunkan badannya, seseorang telah menariknya ke belakang. Tidak disadarinya Imam menyaksikan apa yang dilakukannya. Dua kekuatan itu saling tarik manarik.

“Biarkan aku, kenapa harus kau cegah diriku, jangan kau cegah aku bunuh diri, aku pingin bunuh diri, biarkan aku mati, Kak” teriak Gayatri sambil menangis tersedu-sedu. Imam hanya memeluk Gayatri dan membelai rambutnya.

“Kamu tidak percaya padaku, sehingga tidak mau menceritakan apa yang terjadi padamu, sehingga berhari-hari menghindariku, menyembunyikan wajahmu di balik ilalang-ilalang, ceritalah padaku, Gayatri……………” hibur Imam kepada Gayatri.

“Kak, aku nggak bisa cerita apa yang terjadi, aku benci pada diriku sendiri, aku jijik melihat diriku di air itu…………..Lihat, Kak. Lihat Kak, memalukan sekali, memalukan sekali………….” ratap Gayatri.

“Kenapa mesti malu, mana kecerianmu, siapa yang kurang ajar padamu, coba tata hatimu, ceritakan padaku………” kata Imam.

Akhirnya Gayatri menceritakan apa yang terjadi kepada Imam dan menyatakan diri tidak mau menikah lagi dengan Imam. Imam memaksa berkali-kali agar Gayatri mau menikah dengannya, tetapi dia tidak mau. Gayatri merasa tidak berguna lagi bagi Imam dan menganjurkan Imam untuk menikahi gadis suci lainnya. Imam untuk ke sekian kalinya tidak mengerti apa yang dikatakan Gayatri. Gayatri berusaha memberi pengertian. Sampai akhirnya Imam mengerti, tetapi Imam berjanji untuk selalu mencintai Gayatri sampai kapanpun. Imam akan selalu menjaganya biarpun Gayatri tidak menjadi istrinya.

Di rumahnya kepala Hotel Kirana datang. Mr Narotama sudah menunggu lama, tetapi hanya menemui Ibunya. Dia menanyakan kenapa Kirana tidak pernah masuk lagi bekerja. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Tadinya Kirana tidak mau menceritakan apa yang telah terjadi padanya, tetapi karena dipaksa juga, akhirnya Gayatri bercerita bahwa dirinya telah ternoda oleh salah seorang tamu Hotel Kirana. Kebetulan saja Kepala Hotel Kirana adalah duda tua berumur 60 tahun yang bersedia bertanggung jawab untuk semua yang terjadi. Imampun dengan berat hati melepaskan Gayatri. Gayatri dan Pak Narotama akhirnya menikah.

Di hari pernikahan itu tertutup semua luka-luka di hati Imam dan Gayatri. Harapan mereka untuk membentuk keluarga yang bahagia telah ternoda oleh Rahwana. Akan tetapi, pada akhirnya Gayatri menikmati harta dan kesuksesan di bidang perhotelan. Begitu anak perempuannya lahir langsung dititipkan kepada Ibunya di desa. Dia sendiri hidup bersama Pak Narotama. Selama bersama Pak Narotama dia belajar apa saja, mengenai perhotelan dan bisnis lainnya. Gayatri tidak bisa megucapkan terima kasih untuk yang telah dilakukan Pak Narotama. Hanyalah keinginan Gayatri untuk meringankan beban pekerjaan Pak Narotama di kantornya.

Sepuluh tahun kemudian Pak Narotama meninggal. Meninggalnya Pak Narotama itu telah meninggalkan kesedihan bagi Gayatri. Orang yang telah mengantarkan Gayatri ke pintu kesuksesan itu telah meninggalkannya, menghadap Yang Kuasa. Sekian lamanya Gayatri termenung di atas pusara Pak Narotama.Tiba-tiba saja dia bangkit menyeka air matanya, karena tidak akan pernah ada yang bisa menyeka air matanya selain dirinya sendiri.

######

Setahun setelah meninggalnya Pak Narotama, Gayatri telah berubah menjadi singa betina di bidang bisnis perhotelan. Untuk memperlancar tugasnya dia mengirimkan anak gadisnya bersekolah ke Singapura. Dia paling tidak suka diganggu oleh anak gadisnya. Dia mulai menata kehidupannya untuk menempatkan dirinya sebagai pengusaha wanita.

Terbukti beberapa tahun kemudian dia telah memiliki anak perusahaan di mana-mana. Dia sekarang telah menikmati glamoritas. Pertemuan dengan anggota keluarga lainnya hampir tidak pernah terjadi. Bahkan dia melarang anaknya kembali, karena dia lebih suka hidup tanpa kehadiran anaknya. Dendamnya dilampiaskan dengan dia merangkul pengusaha-pengusaha muda lainnya dalam grup bisnisnya.

“Ha..ha..ha, aku telah sukses, tetapi bahagiakah aku dengan semua ini…” kata Gayatri kepada seorang teman lelakinya. Gayatri lari sempoyongan ditopang oleh temannya itu. Untung saja tidak terbersit niat buruk dari temannya itu. Temannya tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Pemandangan seperti itu sudah sering terjadi setiap ada temu kolega bisnisnya. Gayatri ingin melampiaskan dendamnya kepada beberapa teman bisnisnya. Di dalam setiap acara-acara semacam itu tanpa sengaja dia berpapasan dengan pria yang memudarkan mimpinya hidup bersama Imam. Bastian itu muncul kembali. Dan masih seperti dulu, Bastian selalu dikelilingi perempuan-perempuan seksi, masih suka minum-minum di bar atau kafe. Menginap di hotel bersama-sama mereka. Gayatri menyaksikan semua itu dengan cibiran. Melihat kenyataan itu Gayatri segera menggaet salah seorang kolega mudanya, Arnab. Arnab dengan setia menemani kemanapun Gayatri pergi.

Kalau dulu Gayatri melarang-larang anaknya, Cindi untuk tinggal bersamanya, tetapi akhir-akhir ini dia berkeinginan agar Cindi kembali. Ia segera menghubungi Ibunya agar Cindi dapat segera kembali dari Singapura. Kebetulan Cindi ingin menikmati suasana kampung Mama kandungnya itu yang selalu menjauh darinya. Cindi menjadi bertanya-tanya mengapa sekarang Ibunya begitu ngotot ingin menariknya untuk pulang.

#####

Hari ini Cindi kembali dari Singapura. Gayatri meminta Ibunya dan sopirnya yang menjemput di Bandara. Gayatri baru menyibukkan kerja dengan transaksi-transaksi bersama kolega-kolega bisnisnya. Ibunya hanya heran karena Gayatri tidak seperti Ibu lainnya yang begitu merindukan anaknya. Gayatri lain, dia justru semakin sibuk bekerja. Setiap Ibu dan anaknya menegurnya, dia hanya marah-marah.

“Apa Ibu tidak tahu, kalau aku sangat sibuk. Juga kamu, Cindi, jangan pedulikan Ibu, tidurlah dan makanlah sesukamu di sini.” kata Gayatri ketus.

Hampir tiap hari Gayatri tidak sempat bercengkerama dengan anggota keluarga lainnya. Kalau tidak pulang kemalaman, ya pulang dalam keadaan mabuk.

####

Siang itu untuk menghilangkan kejenuhan di rumahnya, Cindi bersama Neneknya pergi ke supermarket. Dia mencoba-coba baju. Kebetulan saja ketika sedang memilih-milih baju, ia bertemu dengan Bastian. Pertemuan pertama itu telah memberinya spirit untuk terus tinggal di kota Mamanya. Sejak inilah hari-hari Cindi diwarnai oleh kehadiran Bastian. Hubungan Bastian dan Cindi belum diketahui oleh Gayatri, karena Gayatri selalu menyibukkan diri pada pekerjaan-pekerjaan kantor. Hanya Arnab yang selalu berusaha memuaskannya, tetapi hati kecil Gayatri mengatakan tidak untuk Arnab. Tetapi bagaimanapun Gayatri menikmati keindahan yang diberikan Arnab.

Hubungan Bastian dan Cindi semakin jauh. Gayatri belum tahu juga sampai dia memergokinya sendiri ketika Bastian mengajak Cindi menginap di sebuah hotel yang juga menjadi miliknya. Gayatri hanya ternganga menyaksikan semua itu. Segera saja Gayatri menarik tangan Cindi dan mengajaknya pulang tanpa bicara sepatah katapun.

Bastian terus mendekati Cindi dan berusaha minta izin kepada Gayatri untuk menikahinya. Sejauh itu Bastian masih tidak mengenali Gayatri, gadis di Hotel Kirana 17 tahun yang lalu. Bastian terus memaksa Gayatri agar mengizinkannya menikahi Cindi. sampai pada suatu titik Gayatri mengizinkannya juga.

Pernikahan Bastian dan Cindi diadakan di Hall Hotel Kirana dihadiri semua kolega Gayatri. Semua orang yang tahu bahwa Cindi adalah anak Bastian hanya bertanya-tanya dalam hati, kenapa Gayatri begitu saja mengizinkan Cindi menikah dengan Bapaknya. Semua jenis minuman dihidangkan dalam pesta pernikahan antara anak dan ayah tersebut. Entah apa yang dilihat orang terhadap Gayatri saat itu, senyuman, tawa renyah, sinis, kekecewaan, atau apa. Semua tersembunyi di balik bibir berlipstik itu. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya, dia hanya bungkam.

Begitu acara usai, Gayatri masuk ke kamarnya, dia menangis tersedu-sedu melihat semua itu. Kadang-kadang diapun tertawa-tawa sendiri. Sampai pada akhirnya dia tidak sanggup lagi menahan kepedihannya. Imam, tunangannya dulu menemukannya di kamar, di sanalah Gayatri menceritakan padanya bahwa Cindi itu anaknya bersama Bastian. Segera saja Imam menghubungi Bastian agar menunda bulan madu mereka dan menceritakan bahwa Cindi adalah anaknya. Begitu Imam, Bastian, Cindi sampai di ruangan Gayatri, yang ada hanyalah sosok tiada bernyawa. Bibir berlipstik itu menahan pedih hingga bertahun-tahun. Kini dia telah puas, tetapi kesedihan tetap menggelayut di raut mukanya. Kenapa harus anaknya sendiri yang dia umpankan untuk membalas dendamnya. Kesuksesan yang dia peroleh selama ini ternyata tidak berujung pada kebahagiaan bagi dirinya.

………………………………………………………………………………………………..

Cindi telah menemukan Ayahnya dalam situasi yang serba tidak nyaman. Akhirnya Bastian menyatakan diri untuk menjalani hidup yang lebih dekat dengan Tuhan, menjauhi hingar bingar keramaian kafe, bar, hotel.

 

Tamat………………………………………………………………………….

(cerita ini fiktif belaka, kalau ada lokasi, nama yang sama mohon tidak diambil hati, disadur dari telenovela Thailand)

(ekosuryanti@yahoo.co.id)