Life Flowers


Nonton Kuch-Kuch Hota Tai dari Lereng Bukit
March 12, 2007, 8:30 am
Filed under: Bedah Media AuVi, Hello World | Tags:

Kenapa mesti nonton Kuch-Kuch Hotai dari Lereng Bukit ? Soalnya mungkin banyak tambahan dan pengurangannya. Kuch-kuch Hota Hai adalah sebuah film India yang dibintangi oleh Shah Rukh Khan (Rahul Khaana), Kajol (Anjali Sharma), Rani Mukherjee (Tina Maholtra) dengan bintang tamu Salman Khan (Amar). Saya jamin setiap orang yang menonton film ini pasti akan meneteskan airmata. Yang jelas film ini tidak mengecewakan penontonnya, karena happy Ending. Film ini memadukan seni kontemporer dengan seni tradisional India. Di sana dipenuhi musik dan tarian lokal, juga ada dance modern. Dia menceritakan keabadian cinta. Di dalamnya dibumbui tahayul tentang bintang jatuh, barangsiapa berdoa pada saat bintang jatuh, maka Tuhan akan mengabulkan. Di dalamnya ditemui budaya toleransi agama dan budaya. Yang jelas golongan tua (nenek) sebagai pelestari budaya tradisional selalu tidak terima kalau budaya lokal tergusur budaya global.

Kisah ini diawali dengan kehidupan kampus dengan tokoh utama Anjali Sharma (?) dan Rahul Khaana. Rahul adalah seorang playboy kampus, sedangkan Anjali Sharma adalah seorang mahasiswi tomboy. Dua-duanya sama-sama punya hobby main basket. Anjali selalu memenangkan setiap lomba bola basket bila main basket melawan Rahul. Oleh karenanya Rahul selalu berusaha dengan cara curang sekalipun untuk memenangkan lomba. Keduanya selalu saja berantem, tapi lama-lama berteman. Anjali mulai merasa indahnya persahabatan itu.

Keakraban Rahul dan Anjali itu ditengarai oleh hadirnya seorang mahasiswi pindahan London yang kebetulan anak Profesor di kampus itu, Tina namanya. Pada awalnya yang terjadi persahabatan akrab antar tiga tokoh tadi. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah What is Love, and what is friendship. Ternyata Love bisa menjadi Friendship atau sebaliknya. Love is friendship.

Dasar Rahul mata keranjang. Pertama-tama dia jaga gengsi, tetapi ternyata dia betul-betul jatuh cinta. Sementara itu sesuatu yang tidak disadari Rahul telah terjadi, Anjali yang tomboy merasakan jatuh cinta yang pertama pada Rahul. Dia mulai belajar berdandan. Memang Anjali dan Tina adalah dua sosok yang bertolak belakang, Tina adalah sosok feminin, suka berdandan, sedangkan Anjali adalah gadis tomboy, apa adanya. Hubungan Rahul dan Anjali yang berawal dari permusuhan, persahabatan itu akhirnya berlanjut pada cinta Anjali.

Pada suatu malam Rahul ingin menyatakan cintanya kepada Tina, sedangkan Anjali ingin menyatakan cintanya pada Rahul. Rahul mengendap-endap rumah Profesornya, Maholtra untuk menyatakan cintanya pada Tina, tetapi belum sempat tersampaikan. Dia harus lari-lari menghindari Bapaknya Tina. Di jalan dia bertabrakan dengan Anjali. Kata cinta yang harus diucapkan di depan Tina itu terucap di depan Anjali. Itulah yang meninggalkan luka yang dalam bagi Anjali sampai Anjali harus pindah kampus. Hanya sebuah selendang merah yang dia berikan kepada Rahul dan Tina sebagai kenang-kenangan.

Rahul dan Tina akhirnya menikah tanpa kehadiran Anjali. Begitu Tina melahirkan bayi pertamanya, dia harus meninggal dunia, sehingga anaknya diasuh oleh Rahul sendiri. Sampai beberapa tahun Rahul masih memuja perkawinannya. Dia berpendapat bahwa “Menikah itu sekali, seperti hanya Hiduppun sekali“. Tina hanya meninggalkan sebuah surat dan kado kepada anak bayinya, surat dan kado tersebut tidak boleh diberikan sebelum anaknya berumur 7/8 tahun. Sebagai penghargaan Tina atas pengorbanan cinta Anjali, maka anaknya dinamakan Anjali. Anjali selalu menangis bila diminta menceritakan Ibunya.

Anjali kecil sekarang telah berumur 7 tahun dan akan merayakan hari ulang tahunnya. Dia menangis sedih karena ulangtahunnya tidak dihadiri oleh ibunya. Ketika dia membaca suratnya, dia mengerti bahwa dia diberi tugas oleh almarhumah Ibunya untuk menemukan Anjali dewasa untuk dijodohkan dengan Ayahnya. Kemudian dia dibantu neneknya berusaha menelusuri jejak-jejak Anjali Sharma.

Setelah ditelusuri ternyata dia sudah mau tunangan dengan Amar (Salman Khan). Terlihat dari wajah Anjali itu tampak tidak ada wajah cinta, sepertinya hanya mematuhi orangtuanya. Anjali kecil sangat kecewa mendengar pertunangan ini. Anjali kecil berharap bisa bertemu dengan Anjali dewasa.

Pada suatu hari ada Perkemahan Musim Panas di suatu tempat. Anjali kecil memaksa ikut walaupun Bapaknya melarang. Neneknya justru mendukung keinginan Anjali ini. Kebetulan Rahul sedang ada pertemuan bisnis di London.

Dilarang ataupun tidak, Anjeli kecil ditemani Neneknya berhasil tiba di Perkemahan Musim Panas. Tak dinyana-nyana dia di sana bertemu dengan Anjali dewasa. Anjali dewasa belum tahu kalau anak perempuan itu adalah anak Rahul. Baru ketika Anjali meminta semua peserta Camping menulis cerita tentang Ibunya. Anjali kecil hanya menangis karena Ibunya telah meninggal. Anjali melihat sebuah foto yang dibawa oleh anak itu, barulah dia tahu kalau Anjali kecil adalah anak Tina dan Rahul.

Sementara itu Rahul sudah tidak sabar bertemu anak semata wayangnya, Anjali Kecil. Rahul segera menyusul ke Perkemahan. Di sinilah Rahul bertemu kembali dengan Anjeli Sharma. Anjali sendiri sudah bertunangan dengan Amar, sedangkan di hatinya masih mencintai Rahul. Suatu dilema terjadi. Kuch-Kuch Hota Hai, Sesuatu telah terjadi yang tidak kau sadari. Bintang jatuh adalah saksi kedua doa mereka.

Anjeli kecil berusaha menggagalkan pernikahan Amar dan Anjeli dewasa. Dan akhirnya berhasil. Anjali dewasa berhasil menikah dengan Rahul tanpa kemarahan Amar. Amar adalah laki-laki berjiwa besar yang mau menerima kenyataan bahwa cinta sejati dan cinta pertama Anjali adalah Rahul. Kisah ini berakhir dengan kebahagiaan semua orang.



Bukan Gempa yang pertama
March 10, 2007, 6:02 am
Filed under: Deepthought, Hello World | Tags:

Sebenarnya gempa bumi di DIY pada tanggal 27 mei 2006 itu bukanlah yang pertama kali, sudah berkali-kali gempa terjadi. Akan tetapi sepertinya selama ini kurang menjadi perhatian publik. Aceh, Sumatra Utara, Sukabumi sering menjadi langganan gempa, jadi tidak percaya kalau Yogyakarta bisa kena gempa.

Pagi-pagi ketika manusia-manusia tengah mempersiapkan kesibukan dunia, kesibukan di pasar, kesibukan di kantor, kesibukan di sekolah, kesibukan di stadion olahraga dan sebagainya, bumi Yogyakarta diguncangkan. Pada Sabtu, 27 Mei 2006, Yogyakarta dan Jawa Tengah dientak Gempa tektonik 5,9 skala richter, wilayah Bantul terutama, luluh lantak. Rumah-rumah penduduk rata dengan tanah. Korban jiwa, harta, dan benda melengkapi tragedi guncangan bumi di selatan Pulau Jawa ini.

Bagi beberapa orang mungkin saat itu Tuhan sedang ingin ‘ngerjain manusia’. Beberapa hari sebelumnya manusia sudah dibingungkan oleh ulah Eyang Merapi. Eyang Merapi yang sudah sedemikian sepuhnya itu batuk-batuk dan mengeluarkan lendir, kadang-kadang memuntahkan cairan merah yang terasa sangat panas. kadang-kadang semua yang ada di perutnya ‘muncrat‘ ke mana-mana. Kalau Eyang Merapi sudah terserang penyakit seperti itu, semua warga yang tinggal di sekitarnya pasti kebingungan. Belum banyak orang yang tahu obatnya Eyang Merapi. Yang jelas kalau Eyang lagi sakit, mendingan menyingkir jauh-jauh.

Pagi-pagi di mana banyak orang sedang sibuk menyiapkan pekerjaannya dan ada pula yang justru lagi sibuk dengan mimpinya di ranjang, diusik oleh suara gemuruh dan guncangan yang sangat kuat sebesar 5,9 SR. Semua orang segera melarikan diri dari segala yang jatuh tertarik gravitasi bumi. Genting-genting melorot dan pecah, tembok-tembok luruh ke bawah simpuh kepada Dewa Tanah karena tidak sanggup berdiri kokoh. Orang-orang berteriak dengan bermacam-macam ekspresi, ada yang menunjukkan ekspresi kepasrahan dan kereligiusannya, ketakutannya, culunnya, segera orang-orang melongok ke arah Eyangnya Merapi. O, Eyang sedang apa itu, dari tadi sudah mengeluarkan gumpalan asap, sesekali berwarna merah. Bahkan ada yang bertengkar gara-gara perbedaan persepsi keadaan itu. Ada yang mengira Eyang Merapi dengan Eyang Merbabu lagi in thehoneymoon“’ atau ‘nostalgila‘. Pokoknya setiap orang mempunyai spekulasi sendiri-sendiri terhadap keadaan yang berlangsung.

Semua orang yang ada di utara masih merasa kalau Eyang Merapilah yang sedang marah karena kesakitan perutnya. Mereka mengira guncangan jam 05.53 itu hanya sekali itu saja. “Lindu” itu tidak akan datang lagi, dianggap biasa, sehingga mereka masih meneruskan kegiatan. Bagi yang tidak bekerja di bagian selatan mungkin tidak tahu kalau wilayah Yogya bagian selatan tersapu bersih oleh kekuatan yang dahsyat itu. Semua tidak tahu kalau Sabtu itu 27 Mei 2006 telah terjadi sesuatu yang dahyat pada perut Bunda Yogya di bagian selatan.

 

Keresahan melanda masyarakat ketika terdengar kabar bahwa tepat pukul 08.00 akan terjadi gempa lagi yang mungkin lebih kuat. Anak-anak di sekolah, Ibu-Ibu yang ada di pasar, pegawai-pegawai yang ada di kantor menjadi kian panik. Isu gempa itu lama kelamaan berkembang menjadi isu tsunami. Terjadilah frustasi lalu lintas saat itu, mau lari ke mana, kalau ke utara Gunung Merapi juga sedang tidak menyamankan, mau ke selatan, pantai selatan ada ancaman tsunami. Frustasi itulah yang menyebabkan jatuhnya lebih banyak korban. Orang-orang Bantul semakin bingung karena baru saja melihat puing-puing bangunan rumahnya, tetapi kemudian tiba-tiba ada isu tsunami, mau lari ke manakah nantinya. Ada apa yang terjadi Tuhan ? Sebagian besar saluran seluler tidak berfungsi, dalam keadaan tersebut sulit sekali berhubungan dengan orang lain untuk saling mengabarkan. Sekali mendapat SMS justru membuat sebagian besar anggota masyarakat kalang kabut, segera berjalan kaki atau naik kendaraan apapun untuk meninggalkan Yogyakarta untuk mencari pengungsian. Untung saja ada beberapa pihak yang mampu menetralisir keadaan, yaitu PERS dan pihak Kepolisian. Semakin senja keadaan semakin jelas, semua keluarga berhasil berkumpul. Pada hari itu, telah terjadi peristiwa dahsyat yang menelan ribuan korban. Berturut-turut semua stasiun TV dan radio menyiarkan kronologis kejadian dan sebab-sebabnya.

Berdasarkan pemantauan dari empat stasiun seismograf di Gunung Merapi oleh Stasiun Geofisika Badan Meterologi dan Geofisika (BMG) dan laporan dari Global Seismic Network milik Amerika Serikat, gempa tektonik ini tepat terjadi pada pukul 05.53.58, persisnya di koordinat 8,007 Lintang Selatan dan 110,286 Bujur Timur dengan kemiringan 87 dan pergeserean 3, pada garis lurus pada kedalaman 33 km, di permukaan tanah, yang berjarak kurang dari 35 km dari Yogyakarta persis di bibir pantai. Sedangkan menurut United States Geological Survey (USGS), lembaga survei yang memiliki peralatan serba canggih, menyatakan pusat gempa terjadi di daratan di kedalaman 35 km dan berkekuatan 6,2 MW (moment magnitude). Rambatan gempa berasal dari pergeseran patahan berupa gerakan berlawanan dan sekitar pantai Depok, membujur ke arah timur laut melewati Gading kauman, Tirtoharjo, Kaliwening, Ngambangan, Cangkiring, hingga Gondowulung di Plered, Bantul.

Berdasarkan catatan sejarah gempa, Yogyakarta dan Jawa Tengah mengalami gempa dahsyat bukan untuk yang pertama kali. Jadi peristiwa yang serupa dengan gempa 27 Mei 2006 bukanlah yang pertama di Yogya dan Jawa Tengah. Dari data historis, Yogyakarta telah diguncang sedikitnya empat gempa yang berkekuatan 6 skala Richter, yaitu pada tahun 1867, 1937, 1943, dan 1981 baik karena aktifitas vulkanik maupun tektonik. Akan tetapi menurut data yang terekam, telah terjadi beberapa kali gempa yang menggoyang Yogyakarta. Pada tahun 1840, gempa telah merusak beberapa bangunan rumah. Pada tahun 1852 beberapa bangunan dan rumah penduduk rusak. Pada tahun 1863 juga terjadi gempa yang menyebabkan kerusakan bangunan, rumah penduduk serta 1 pabrik gula. Pada tanggal 10 Juni 1867, sedikitnya 372 rumah roboh dan lima orang meninggal. Gempa yang getarannya terasa hingga Surakarta, Jawa Tengah. Kejadian ini menyebabkan keruntuhan tugu Keraton Yogyakarta dan sejumlah bangunan Taman Sari. Kediaman Residen Belanda (Gedung Agung) juga turut ambruk. Diberitakan bahwa pada tahun tersebut Gunung Merapi marah. Pada tahun 1871 gempa terjadi lagi yang menyebabkan bangunan pemerintah dan rumah penduduk retak. Setahun kemudian, gempa menyebabkan bangunan retak-retak. Pada tahun 1916 gempa telah merobohkan 740 rumah, dan beberapa sekolah rusak. Lima tahun kemudian, 1923 beberapa bangunan dirusakkan gempa. Pada tahun 1926 beberapa orang terluka oleh gempa saat itu. Pada tanggal 23 Juli 1943 juga terjadi gempa lagi yang mengakibatkan 213 orang meninggal, 2.096 orang luka-luka, dan 2.800 rumah hancur. Getarannya terasa dari Garut hingga Surakarta.

Pada tanggal 14 Maret 1981 terjadi lagi gempa berkekuatan 6 SR di Selatan Yogyakarta. Gempa itu meretakkan dinding Hotel Ambarukmo. Gempa tektonik berkekuatan 6,5 SR terjadi pada pukul 07.31 WIB dengan kedalaman 106 km pada 9 Juni 1992. Kejadian berlangsung selama 1 menit dan getarannya terasa di daerah Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Magelang. Pada tanggal 25 Mei 2001 telah terjadi gempa tektonik berkekuatan 6,2 SR yang mengguncang Semarang, Kudus, Surakarta, Magelang, dan Yogyakarta pukul 12.10 WIB. Beberapa bangunan di Bantul mengalami keretakan. Pada 19 Agustus 2001 gempa tektonik kembali terjadi dengan kekuatan 6,3 SR pada pukul 13.33 WIB. Pada tanggal 19 Juli 2005 juga terjadi gempa tektonik dengan kekuatan 5,5 SR, tetapi tidak menimbulkan kerusakan.

Yogyakarta sudah sering mengalami gempa-gempa baik tektonik maupun vulkanik, baik yang berskala kecil maupun besar, dan selalu di luar dugaan para ahli gempa. Tidak satupun bisa menghindar dari kemarahan alam dan Tuhan kecuali Tuhan dan alam sendiri yang menghendakinya. Wahai Tuhan, ampunilah diriku ini dan wahai alam, maafkan aku yang kurang respek padamu.(ekosuryanti@yahoo.co.id)