Life Flowers


Wild Lion 6
April 18, 2007, 6:32 pm
Filed under: Hello World, Serial Stories | Tags: ,

Galery Pak Koen selalu didatangi tamu-tamu manca. Menjelang larut malam tamu-tamu bukannya semakin berkurang, tetapi justru semakin banyak. Kadang-kadang tetangganya ikut nimbrung di sana. Pak Koen sibuk melayani mereka. Ada beberapa lukisan batiknya laku malam itu. Kalau sedang laku hasil lukisannya itu, Pak Uban selalu mengundang para tetangganya yang selalu jaga malam untuk ditraktir seafood. Seafood itu langsung dipesan dari restaurant Muara Kapuas.

“Wah, Pak Koen, makmur ya, uangnya dolaran, yang beli lukisannya saja landha-landha…”

“Wualah, rezeki dari Gusti Allah, syukuri saja……Aja mung nyawang aku…”

“Tapi, aku bener-bener heran lho, Mas Koen, Mas Koen ini kurang apa, ada uang, ada rupa, ada otak, kok ya nggak mau nggandeng cewek-cewek, ambil satu lah pengunjung galeri, kebanyakan jet zet….”

“Saya itu sendiri bukan berarti nggak ada isteri e Mas, bojoku ki ning Australi, kae lho sing fotone tak pasang ning galeri…..Apamaneh nek weruh cah-cah sing dha sinau lukis batik wingi kae, wah, leh ku kangen anakku banget-banget………….”

“Wah, lha wong artis saja isterinya di depan mata juga masih selingkuh, masih macam-macam, lha kok Mas Koen masih saja setia………..”

“Loh, kita ini orang Jawa, setinggi-tingginya pendidikan priyayi Jawa, harusnya kalau cinta itu sekali untuk isteri untuk selamanya, bukan untuk mainan, walaupun memang saya agak kurang beruntung……………….”

Piring-piring yang ada cumi, udang itu akhirnya tinggal kuah-kuah. Di tempat sampah menumpuk duri-duri ikan bawal dan kulit udang. Satu per satu mereka mencuri piring-piring yang mereka pakai. Mereka merasa tidak enak karena sudah ditraktir oleh Pak Koen, e kok malah ninggali cucian. Tanpa segan-segan para petugas ronda membantu Pak Koen menutup joglo galeri itu.

“Wah, kalau kehilangan satu lukisan saja, Pak Koen sudah kehilangan uang ratusan ribu………Pak Koen, Pak Koen bejonya sampeyan. Kami sih bisanya cuma menjadi tukang……….”

“Tukang, tukang itu juga halal, kalau ditekuni pasti bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup, bisa untuk menyekolahkan anak, ditabung sedikit demi sedikit, soalnya biaya sekolah kan mahal……..” kata Pak Koen sambil membersihkan kursi goyangnya yang agak berdebu.

“Pak Koen, Kami keliling dulu ya Pak, besok lagi, makasih seafoodnya……….”

“Iya, iya, besok ke sini lagi, memandangi bintang-bintang malam di angkasa sana…………..”

“Tentu saja, apalagi kalau ditraktir lagi, wah mak nyos, bisa lupa pulang…”

“Bener, makasih banget, Pak, mudah-mudahan Pak Koen bisa ketemu sama Diana dan anaknya lagi. Biar kebahagiaan Pak Koen tambah lengkap………..”

“Hue, dicuci dulu bekas makannya, nggak tahu diri amat, sudah ditraktir, nggak mbantu nyuci piring. Kasihan Pak Koen….”. Sebelum meninggalkan joglo galeri Pak Koen, para petugas ronda itu mencuci bekas makan mereka. Sarungpun mereka ikatkan di pinggang.

Begitu Bapak-Bapak petugas ronda meninggalkan joglonya, Pak Koen seperti biasanya menikmati malam-malam yang dingin sendirian. Di kamar tidurnya yang sekaligus studionya dia menerawang jauh hingga ke negeri Kanguru. Di sanalah dulu dia menyayat dan tersayat hatinya dan hati orang yang dicintainya gara-gara cinta pada adat yang berbeda. Dia kian jauh menerawang tanpa sadar bahwa buah hatinya sedang menimba ilmu di jantung kota Jogja.

********

Bunga-bunga bougenvile di Pusat Studi Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya bermekaran. Satu per satu berguguran tertiup angin pagi. Daunnya dibasahi embun yang tetes demi tetes turun dari daun ke daun. Kamboja di depan laboratorium purbakala juga menebarkan keharuman. Baik Titis maupun Paulina sedang sibuk dengan urusan-urusan masing-masing. Titis sibuk mempersiapkan seminar proposal skripsinya. Proposal harus dikumpul paling lambat tiga bulan lagi. Dia mengalami kebingungan dalam mencari tema. Dia harus memilih sumber yang berbahasa Belanda yang melalui proses penggalian yang lama atau sumber bahasa lokal.

Paulina juga sedang sibuk menghadapi ujian midsemester. Berhari-hari tutorial diliburkan dan akan disambung setelah midsemester selesai. Paulina untuk sementara harus melupakan Titis dan keinginan untuk menemukan Bapak kandungnya.

Titis sendiri mulai menemukan ide, dia kan menulis perjalanan seni rupa di Indonesia sejak zaman klasik hingga zaman kontemporer. Dia mulai menetukan siapa ya sumber lisannya. Terbersit di dalam ingatannya, oh ya Pak Koen. Dia pasti bisa membantu. Siapa lagi………Wah, berarti nanti sore harus datang ke rumahnya dulu. Mau ngajak Paulina enggak ya, dia merasa nggak enak karena Paulina baru ujian. Masak sih sudah jauh-jauh datang dari Australia, malah nggak bisa mengerjakan ujian. Tetapi, Paulina kan sangat antusias untuk mengetahui jati diri Pak Koen lebih jauh. Bagaimana ia bisa mengajak. Ketika jam istirahat Titis menemui Paulina di Pusat Studi Indonesia.

“David, lihat Paulina tidak, dari tadi nggak ketemu. Dia ikut ujian kan tadi?” tanya Titis pada David yang kebetulan duduk-duduk di taman.

“Kenapa sih kamu, cewek kok cari cewek, carilah daku Tis, aku rela melayanimu, aku rela melakukan apapun, aku juga rela menemanimu ke mosque…?”

Sebelum David ngerjain Titis lebih jauh, Paulina sudah nongol, “Hello, Tis, apa kabar, aduh aku kangen kamu, ada pa kok mencari saya?”

David hanya berdehem, “hmm,…hmmmm, kayak lesbian, cewek kok cari cewek…, carilah daku, jadikan aku pacarmu…”

Celetukan David itu sempat membuat Paulina senewen, tetapi Paulina sadar David memang bocor, walaupun begitu dia sangat ramah. Paulina hanya tersenyum dan melempari David dengan kulit salak. Setengah terengah-engah Titis bicara pada Paulina, “Paulina, saya kan punya ide mau membuat proposal skripsi tentang sejarah seni rupa, jadi aku perlu cari sumber lisan, salah satunya Pak Koen, kamu mau ikut enggak, kalau ikut nanti sehabis sholat Asar kita ke sana……Kalau kamu tidak keberatan”

“Maksudnya habis jam tiga ya, itu ide bagus, aku ikut……..”

“Loh, kamu kan lagi ujian, gimana……….”

“Tidak masalah, aku masih ingat isi mata kuliahnya Pak Baskoro, kan hanya sebentar….Jam berapa kita berangkat, ketemu di mana ?”

“Bagaimana kalau jam setengah tiga di sini……….Aku juga ada midsemester kok, sampai jumpa nanti……Bye”.

“Sudah nih……..beneran?” celetuk David. Titis dan Paulina hanya melemparinya biji dan kulit salak. David menutup mukanya dengan diktatnya, “Kurang ajar, sialan….ha…ha…ha, wah ketemu Xena dan temannya nih, sudah ngalah nih”

Kemudian Titis dan Paulina menuju ke ruang ujian masing-masing. Untuk sementara melupakan urusan masing-masing, berusaha mendapat nilai plus dalam ujian masing-masing.

*********

From : www.ekosuryanti.blogsome.com



Wild Lion 5
April 16, 2007, 4:28 pm
Filed under: Hello World, Serial Stories | Tags: ,

“Kriiing….kring..kring” suara sepeda onthel Paulina, di belakangnya duduk seorang cewek berjilbab. Begitulah Paulina yang berambut pirang sewarna dengan singa itu menjalani hidupnya di Jogja mengikuti harmoni alam. Mereka berdua menyusuri jalan selokan Mataram. Air selokan Mataram yang selalu coklat mengalir ke timur. Orang-orang di jalan hanya heran, loh, ada bule kok bisa akrab-akraban dengan cewek berjilbab. Bule itu biasanya kan glamour, mewah, dan diidentikkan pada liberalisme dan sosialisme. Atau kah ini tanda kiamat kian jauh atau kiamat kian dekat. Bagi Titis, hal itu perlu dihadapi dengan kepercayaan dirinya, namanya juga berotak Titis, dan titisan Dewi Kuan In Posat, wajarlah.

Titis memang pengidola Dewi Kuan In Posat, sehingga suka membaca novel-novelnya tentangnya. Bagaimana seorang Dewi Kuan In yang dulunya adalah seorang pangeran, justru mengembara, hingga akhirnya mendapat keajaiban. Saking sibuknya Titis berkhayal, kepalanya terantuk punggung Paulina,…”Aduh, sorry Paulina, mau nabrak bocah sini, aduh, hampir masuk selokan, kamu ngapain sih, Tis ?” Titis hanya senyam-senyum.

“Memangnya Paulina bisa capek, kalau gitu biar saya yang di depan…”

“Oh, no, my dear, I am bigger than you…….” kata Paulina sambil mencium Titis.

Orang di sekitar selokan hanya melongo. Mungkin mereka sudah berpikir kalau-kalau Paulina dan Titis adalah pasangan lesbian. Ketika Paulina dan Titis mendengar bisikan itu mereka tertawa keras sambil nyeletuk, “Oh no, we are pretty girl, we love Leonardo d’Caprio, we love Tora Sudiro, we love Christian Sugiono, and Ringgo,…….no, ha…ha…ha, and Mr. Raditya, a young arkeolog, he..he..he….”. Hampir saja mereka berserempetan dengan Honda.

Ketika mereka melewati sebuah sekolah dengan gereja dan suasana yang tidak seperti di sekitarnya, Paulina hanya teriak,..”Wow, kenapa aku bisa melihat apa yang ada di Geelong…”.

Titis mengiyakan, “Soalnya sekolah ini dulu dibangun oleh orang Belanda, jadi banyak sekali vegetasi yang mirip dengan yang ada di Belanda. Cemara yang tingginya kira-kira 15 meter. Di sana masih banyak cemara, dengan gereja tuanya”. Ketika ada beberapa pastur sedang ngobrol dengan siswa-siswi sekolah Karitas itu, tiba-tiba siswa-siswi itu say hello. “Hello, cewek…”. Paulina dan Titis ikutan histeris, “Hello…hello everyone. We love you all…….”.

“Loh, ternyata kita punya selera yang sama……………………..”

Waduh, giliran jalanan menanjak, Titis harus mendorong, tetapi Paulina harus turun juga, sampai akhirnya sampai juga ke rumah Titis. Rumah yang sederhana, tetapi bersih. Di depan rumah banyak pohon mahkota dewa dan kuping gajah. Mata Paulina berputar-putar melihat suasana kanan kirinya.

“Assalamu ‘alaikum, Pak ada temannya Titis,……….Pak!” terdengar suara Titis memanggil-manggil Bapaknya. “Pauluna, masuk dulu, ya inilah istana bagiku keluargaku, tidak mewah, kursi kayu, bukan sofa, kalau duduk pantat bisa sakit.” Kembali lagi mata Paulina berputar-putar menyaksikan langit-langit kulit bambu yang dipernis di rumah itu. Bibirnya berdecak. “Ccccct, serba alami……………..”

“Hello, how do you do, I am Titis’s father, Sarjono……….” seorang Bapak berusia 40 tahunan menyalami Paulina. Paulina dengan penuh hormat membalas sapa Bapaknya Titis. “Hello, Pak, apa kabar…………..”.

“Ya, beginilah rumah Titis, di sana-sini kayu, anak itu memang kadang terlalu idealis. Begitu dia meminta, yaa Bapaknya yang harus berusaha mewujudkan impiannya.

Paulina terkesan oleh Bapaknya Titis. Apakah setiap Bapak Indonesia seperti itu. Bahagianya Titis memiliki seorang bapak yang sangat perhatian kepadanya. “Itu fotonya, Bapak, pakai seragam, e, Bapak kerja di mana…”.

“Bapak, sih tidak makan kuliahan, hanya sampai SMA, jadi kalau pun jadi pegawai negeri ya belum punya jabatan. Biar nanti Titis yang melanjutkan cita-cita Bapak, katanya dia pingin jadi ahli perencana budaya yang handal di Kepatihan……..anak itu kalau punya keinginan tidak bisa ditahan. Mudah-mudahan keinginanya terkabul oleh Tuhan……Habis anak itu terlalu percaya diri…………….Hanya saja Dik Paulina nanti yang harus mengajari dia tentang semua yang berbau globalisasi dan internasionalisasi, kasihan dia kalau tamat S1 nanti tidak tahu tentang dunia luar, maklumlah, keluarga kami keluarga sederhana, Bapak tidak membiasakan Titis dengan perhiasan permata, baju-baju mewah, atau sepeda motor yang model baru, hanya jalan kaki atau kalau mau naik sepeda mininya, tuh di belakang rumah…….Begitulah Dik Paulina”

“Mmmm, beruntunglah Titis, bisa hidup bersama Bapaknya, sedangkan saya sejak bayi ditinggal Bapak saya pulang ke Indonesia……….”

“Maksudnya, nak Paulina, bagaimana, Bapak belum ngerti, Titis belum pernah cerita soal itu. Dia cuma suka cerita kalau punya teman akrab bule……………”

“Bapak saya sebenarnya orang Indonesia, tetapi karena saya lama tinggal di sana, mungkin ke-Indonesia-an saya tidak kelihatan, tetapi hati ini ada Jogja, di dada ini bersemayam nama Jogja, ke Jogja lah saya mencari Bapak saya, katanya dia tinggal di sini. Semuanya gara-gara nenek yang terlalu primordialis dan kolot……………Ngomong-ngomong Titis lama sekali…………”

Baru saja diomongkan, Titis sudah muncul membawa mangkok-mangkok Indomie rebus……., “Kita akan menyantap Indomie rebus kesukaan kamu, Paulina, kamu suka kan?”

“Ah, tahu saja kamu……..mana aku bantuin…….”

“Sudah beres, kok, ayo-ayo kita makan, Bapak badhe dhahar di sini atau di dalam?”

“Uwis Bapak mau lihat kantor dulu, katanya baru pada sibuk nglembur. Dik Paulina, Bapak ke kantor dulu, maklum, baru banyak pekerjaan di kantor, maklum, abdi negara…(civil servants). Selamat menikmati suasana rumah kami Dik Paulina, anggap ini rumah sendiri, tapi ya cuma kayak ginilah, tidak sama dengan yang di Australi, monggo…..”.

Inilah kesempatan pertama Paulina menginap di rumah Titis. Dia senang sekali bercanda dengan keluarga Titis. Tetangga-tetangga Titis ikut-ikutan nimbrung ke rumah Pak Sarjono. Betul-betul katroo, seperti tidak pernah lihat bule.

Titis sengaja mengajak Paulina menikmati udara sore di kampungnya. Kampung yang di sana sini masih banyak kebun melati. Jadi kalau bunga-bunga bermekaran baunya sampai ke mana-mana. Bercanda dengan anak-anak kecil di kampungnya, anak-anak yang bisa minta diajari belajar kalau menjelang tes. Anak-anak katroo, sok akrab banget, ndeso banget.

Malam harinya Paulina dapat mencium bau bunga melati dari kebun milik Neneknya Titis. Mata Titis sudah berat untuk dibelalakkan lagi. Melihat sosok Bapaknya Titis, Paulina kembali membayangkan sosok Pak Uban yang mengajar batik. Andaikan dia itu Bapaknya beneran. Tangan Paulina mencubit Titis, “Tis, kamu masih ingat Pak Uban, dan lukisan wajah Ibu saya di galery beliau………………”

“Hmm, iya, masih juga kamu berambisi mencari Bapak kamu, tetapi itu hak kamu…………Kita masih bisa bertemu Pak Uban untuk beberapa session perkuliahan, jangan khawatir. Lagian kita sudah tahu rumahnya. Kapan-kapan kita bisa mencarinya. Kenapa to, Titis kan sudah bilang, lebih baik master bahasa dan budaya Indonesia, daripada capek mencari Bapak kamu. Mari kita raih bintang, Paulina.”

“Iya, sebenarnya aku sudah hampir melupakannya, tetapi ketika aku melihat Bapak kamu yang begitu baik dan perhatian kepadamu, aku ingin melihat Bapakku, yang mungkin sama seperti Bapak kamu. Aku memang biasa dengan kehidupan remaja Barat, tetapi aku manusiawi kan kalau aku cari Bapakku…….”

“Terserahlah, aku hanya bisa membantumu, tetapi kita tidak boleh kehilangan kesempatan belajar di kampus, kita cari Bapak kamu di luar jam kuliah….”

“Maafkan aku, Tis, sebenarnya aku sudah yakin dengan master bahasa dan budaya Indonesia, cuman begitu lihat Bapak kamu aku ingin bertemu Bapakku juga, maafkan aku Tis, sebelum aku merayakan ulangtahunku, ……..Bapak kamu baik”

“Anggap saja Bapakku Bapakmu juga, nggak papa kok. Ibuku juga Ibumu juga……..santai. Sudah ya, Paulina aku ngantuk, besok ada kuliah berat……..takut terlambat, bisa diomeli”

“Terima kasih Tis, kamu sahabatku yang sangat baik…………”. Entahlah apakah Titis masih bisa mendengar kata-kata Paulina…….”

Bau wangi bunga melati masih tercium tajam, hawa semakin dingin. Sementara itu RingRoad Utara mulai sepi, tak satupun kendaraan yang lewat. Mata Paulinapun terpejam dalam mimpi yang indah.



Wild Lion 4
April 9, 2007, 5:26 am
Filed under: Hello World, Serial Stories | Tags: ,

Paulina terbaring lemas di atas sofa ruang tamu rumah pengusaha muda dari Jogja, Kuncoro Rajendra. Di dekatnya duduk wanita tua yang kalau tertawa kelihatan gigi-gigi emasnya. “Mbaaak Paulina, sudah baikan, tadi embak pingsan, setelah ngobrol sama ndhara Kuncoro, ada apa to ? Kalau Mbok Parinten boleh tahu ?” tanya wanita itu kepada Paulina sambil tangannya memijat kaki Paulina.

“Aduh, Bu, apa yang telah dilakukan Pak Kuncoro pada saya ? saya masih bersih kan Bu ?…” Paulina terus mengamati dirinya. Dilihatnya celana jeansnya masih utuh, dia juga masih memakai baju. Dia setengah tidak percaya, dia pingsan di dalam rumah seorang lelaki, tetapi pakaian masih utuh.

“Eit, malah ganti bertanya, Mbok Parinten yang nanya, Non, tadi habis ngobrol sama den Kuncoro, Non pingsan, setelah dia pergi kerja karena memang tergesa-gesa, dia itu emang suka kesusu-susu, jadi ya gitu, nggak sempat lihat Non sadar, siuman dari pingsan. Dia itu kalau sudah bisnis, lihat perempuan cantik juga sudah tidak kelihatan…….Percayalah Non, tidak terjadi apa-apa dengan Non, Tuan itu hanya gayanya saja kok, aslinya kalem dan alim…….” jelas wanita tua itu.

Paulina masih kelihatan tidak percaya, “Bu, benarkah Pak Kuncoro itu belum punya anak dan isteri, dan masih berumur 35 tahun………sulit dipercaya!”

“Bener Non, Ndara Kuncoro itu masih senggel, dulu waktu kuliah pernah patah hati, jadi sampai sekarang nggak mau kawin, maunya kerja terus…………Memang kayaknya di atas 40 tahun-an, tetapi karena dewasa duluan, ya begitulah………..Bener Den Ayu, dia memang bukan Bapaknya, eneng, Den Kuncoro itu sejak kecil saya yang nggula wentah kok, wong orangtuanya sibuk kerja, tetapi dia tidak mau macam-macam, sampai menghamili perempuan……………”

Untuk sementara dia lega karena tidak diperkosa orang, tetapi tentang orangtuanya. Pikiran Paulina masih berkutat pada kemungkinannya untuk menemukan Bapaknya, lalu di mana Bapaknya tinggal ya ? Mungkinkah dia sudah pindah di kota lain ? Atau malah sudah meninggal, kalau meninggal di mana makamnya. Dia hanya berbisik dalam hati, Oh my God, Ya Tuhan, mudah-mudahan dia belum pindah dari kota ini. Kemudian dia bangkit pelan-pelan dari sofa, karena Mbok Parinten khawatir dengan keadaannya, dia berusaha membantu, tetapi Paulina tidak mau. Paulina segera merapikan dirinya dan segera berpamitan pulang.

*********

Paulina tidak sanggup menahan dirinya, langsung saja dia masuk kafe dan menenggak anggur. Sudah lama dia tidak merasakan anggur. Dia nikmati minuman itu sampai dia terobati rasa kecewanya. Tiba-tiba Titis ada di depannya. “Eh, Titis, maaf ya, saya tidak sanggup lagi menahan kekecewaan saya, saya ke Jogja hanya ingin bertemu Bapak saya, tetapi sekarang dia entah ke mana………..Bisakah kamu menolongku, berdoalah kepada Tuhan agar aku bisa bertemu Bapakku…….” rajuk Paulina. Titis hanya diam duduk di depannya, dia tidak merasa berhak melarang Paulina, karena itu sudah budaya di negerinya.

“Paulina harus semangat, kalaupun kamu belum berhasil menemukan Bapak kamu di sini, tetapi…Paulina paling tidak sudah master bahasa dan budaya Indonesia. Titis akan berusaha membantu seoptimal mungkin, siapa tahu tidak disangka-sangka Bapak kamu masih ada di dekat sini……” Titis berusaha menghibur Paulina. Paulina masih memasukkan tetes demi tetes anggur di depan meja bundar itu.

“Tis, memang kamu begitu manusiawinya kepadaku, maaf saya harus minum, karena betul-betul saya pingin banget anggur………….”. Titis tidak bisa menjawab dengan dalih apapun selain tersenyum.

********

Setelah semalaman tertidur pulas, pagi harinya Paulina telah siap dengan kuliah-kuliah bahasa dan budaya Indonesianya. Kebetulan hari ini ada kuliah praktik seni. PSI mendatangkan guru dari Koen Gallery. Dalam kuliah praktik ini para tutor diwajibkan mendampingi para mahasiswa tamu. Oleh karenanya dimana ada Paulina, di situ Titis juga ikut.”Eh, ketemu lagi, sudah sehat kan?” sapa Titis. Paulina hanya mengacungkan jempol padanya. Tak lama kemudian seorang pria berambut putih masuk membawa perlengkapan batik.

“Selamat Pagi, Mbak-Mas semua, apa kabar, perkenankan saya di sini memperkenalkan diri, dan memperkenalkan batik kepada kalian semua. Panggil saja saya Pak Uban, karena banyak uban di kepala saya. Dulunya sih ngganteng, sampai ada bule kepincut, …………..” Pak Uban memperkenalkan dirinya dengan akrab sambil mempersiapkan bahan-bahan batik. “Tis, tolong canting, malam dan kain ini dibagikan kepada teman-teman landhamu itu………….”

Pak Uban, begitulah pria itu dipanggil, tidak semuanya tahu nama aslinya. Dia mengajari semua mahasiswa asing dengan sabar. Bagaimana dia menjelaskan dari bahan-bahan sampai cara membuat cairan batiknya dengan gamblang. Kadang-kadang diselingi banyolan. Ada bule yang tertawa, tetapi ada juga yang nggak ngerti diajak banyolan.

Tangan-tangan Pak Uban menggerakkan cantingnya ke kain yang sudah digambar motifnya, kemudian mengawasi semua mahasiswa. Paulina tidak bisa mengikuti perkuliahan itu dengan baik. Pikirannya masih pada Kuncoro. Nama Bapaknya itu selalu diingatnya. Begitu berartinya orang itu baginya. Oleh karenanya ketika Pak Uban mendekatinya dia tidak tahu.

“Coretan Anda masih kasar, ………..pelan-pelan, nggak usah tergesa-gesa,” kata Pak Uban sambil membenarkan tangan Paulina yang tampaknya kurang benar memegang canting dan menggerakkannya. “Hati-hati agar tangannya nggak belepotan………….”

Paulina merasakan energi hangat yang lama sekali dia rindukan. Belum pernah dia merasakan energi tersebut sebelum bertemu dengannya. Namun dia tidak yakin dengan apa yang dirasakannya, karena jelas-jelas nama orang itu Pak Uban. Demikian pula yang dirasakan Pak Uban, dia merasakan energi yang dulu pernah dia rasakan ketika masih berada di Geelong. Namun semua terlewat begitu saja, sehingga kesan-kesan yang mendalam itu tidak mereka hiraukan. Baru kemudian ketika rombongan kursus bahasa dan budaya Indonesia itu mengadakan studi ke Gallery beliau yang terletak di belakang Merapi View.

******

Jumat Pagi yang cerah di bulan Oktober, Paulina dan teman-temannya berangkat ke Gallery milik Pak Uban. Gallery tersebut berbentuk joglo seluas 50 meter persegi, yang dikelilingi taman bunga melati dan taman anggrek. Taman itu sangat luas sekali, kira-kira 500 meter persegi.

Sebelum belajar melukis batik, mereka diberi kesempatan untuk menyaksikan rumah-rumah tradisional yang masih bisa dilihat di kampung itu, selain itu hamparan sawah yang hijau yang bagian depannya telah tertutup real estate. Paulina dan kawan-kawan mencoba untuk meniru para petani memetik padi dengan ani-ani. Ada yang tangannya terkena ani-ani. Setelah puas menyaksikan rumah-rumah tradisional dan persawahan, mereka mendapat kesempatan untuk menyaksikan hasil karya lukis Pak Uban.

Mata Paulina terfokus pada sebuah lukisan wajah. Kalau dia amat-amati wajah tersebut lebih mirip Mamanya, Diana yang ada di Geelong. Tepat di sudut lukisan itu tertulis, Geelong 1979. Paulina terkejut dan segera menghampiri Pak Uban yang sedang mempersiapkan perlengkapan lukis batik.

“Maaf, Pak, saya minta waktu sebentar sebelum belajar lukis batik dimulai, saya melihat sebuah lukisan wajah di sudut sana, apakah Bapak mengenal wanita tersebut….?” tanya Paulina sambil membelalakkan mata.

“Wah…..Hmmmmm…” Pak Uban hanya menghela nafasnya panjang-panjang. “O, itu foto masa lalu saya. Wanita itu bernama Diana, dia isteri saya, dulu dia tinggal di Geelong, sekarang dia di mana saya nggak tahu, …………keadaan telah menyebabkan kita berpisah. Anda sendiri lahir di mana, dan berumur berapa, maaf,………….waktu itu mungkin Anda belum lahir.” jelas Pak Uban. “Sebenarnya berat bagi saya menceritakan ini kepada orang lain, dan saya ingn melupakan masa lalu saya itu, tetapi Anda malah bertanya, lagian gara-gara saya bertemu dengan kalian saya jadi ingat Geelong.

From : ekosuryanti blogsome