Life Flowers


Pendidikan Global
May 16, 2007, 2:15 am
Filed under: Hello World | Tags:

Globalisasi telah menghampiri seluruh rakyat di belahan bumi manapun dengan membawa banyak dampak baik positif maupun negatif. Sisi positif dari globalisasi itu berada pada kemajuan teknologi informatika dan teknologi komunikasi. Dampak negatifnya kalau sampai kita hanya menjadi objek suatu arus globalisasi tanpa mampu berbuat. Oleh karenanya perlu banyak persiapan terutama mental guna menghadapi era tersebut. Dalam era tersebut dibutuhkan kemampuan untuk menjaring dan menyaring segala pengaruh yang masuk dari berbagai kebudayaan yang lain.

Pendidikan selama ini dianggap kurang berhasil dalam mempersiapkan anak didiknya untuk memasuki dunia kerja yang telah dirasuki globalisasi dengan neoliberalisme. SDM kita ternyata masih menempati peringkat ke-112 di level internasional.

Kelemahan-kelemahan sistem pendidikan yang mewarnai dunia pendidikan di tanah air kita adalah antara lain :

1. Merebaknya budaya kekerasan di dalam lingkungan pendidikan kita,

Kekerasan itu terjadi dengan mulut yang berakibat penderitaan psikologis maupun tangan dan kaki yang mengakibatkan penderitaan fisik.

2. Lingkungan pendidikan yang senang duwit, sehingga melahirkan output yang mata duitan tetapi tidak bermoral,

Semakin besar biaya pendidikan kita sekarang ini, dengan adanya otonomi sekolah atau kampus. Mahalnya biaya pendidikan ini tentu saja tidak bisa diakses rakyat miskin yang juga betul-betul membutuhkan pendidikan yang bermutu.

3. Ketidakjujuran / kekurangjiwa satrianya para pelaku pendidikan.

Seorang mahasiswa bisa lulus dengan membayar sejumlah uang guna penyelesaian skripsinya. Contek sana sini di sekolah. Orangtua murid menyuap para guru yang memang butuh duit agar nilai anaknya di atas rata-rata.

4. Kurangnya keterkaitan organik antara skill yang dimiliki dengan kebutuhan riel di masyarakat.

5. Pengajaran agama dan moral hanya sebagai ilmu pengetahuan, bukan sebagai tuntunan yang harus diamalkan.

Buktinya sekarang banyak kasus smack down, yang mendekati degradasi moral di kalangan pelaku pendidikan, aborsi di kalangan mahasiswi dan pelajar putri, hamil sebelum nikah, narkoba dan sebagainya.

Oleh karenanya kita perlu memperbaiki model pembelajaran kita di lingkungan pendidikan selevel apapun. Pendidikan holistik harus digiatkan guna menghadapi arus globalisasi. Dalam pendidikan tidak hanya menonjolkan nilai-nilai akademik dan kognitif, tetapi juga meliputi perilaku dan psikomotorik yang menyangkut kreatifitas dan keaktifan.

Kecerdasan otak (Intellegence Quotient) sangat penting bagi anak. Akan tetapi, yang menetukan keberhasilan seseorang itu dipengaruhi oleh faktor kemampuan intelektual dan kemampuan emosional. Dan perlu dilengkapi dengan kecerdasan spiritual. Otak kanan dan otak kiri harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dengan IQ seorang anak mampu mengembangkan kemampuan ilmiahnya, dengan EQ seorang anak mampu mengendalikan diri, dengan SQ seorang anak mampu mengapresiasikan semua ciptaan Tuhan dan menjaga kelestariannya.

Globalisasi tidak bisa ditolak lagi, yang jelas membutuhkan jiwa ksatria yang utuh mandiri, kreatif inovatif, jujur dan berani membela kebenaran. Langkah-langkah positif guna menyongsong era global :

1. Sekolah/kampus sebagai medan ilmu harus terus melakukan pembaharuan yang berkesinambungan terhadap model pendidikan.

2. Integrasi antar pelajaran (integrated curriculum) baik ilmu murni maupun ilmu praktis, ilmu diniyah dengan ilmu non diniyah. Misalnya pelajaran matematika dipadu dengan moral.

3.Guru-guru/dosen-dosen perlu pembekalan ilmu mendidik yang baik, tidak hanya mengandalkan kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik.

4. Biarkan anak-anak kreatif, berbuat sesuai masanya, tetapi terkendali.

5. Meninggalkan budaya kekerasan, pemaksaan, ketegangan dalam lingkungan pendidikan yang menimbulkan ketakutan dan ketidakpercayaan diri anak-anak.



Ketika Salju Turun di Atas Atap
May 13, 2007, 1:40 am
Filed under: Hello World | Tags:

 

In our life, there must be understanding to other….Just understanding to againts war because of diversity. We often meet people from other cultural. Someone must explain every difference with just understanding. We can’t mix milk and sampanye, but we can’t let them on one table. Peace must run, without war. Diversity is art, not to war…….God have commanded us to understood and introduced each others.

Butir-butir salju lembut bertaburan hinggap di atap rumah, dedaunan, bebatuan dan hampir seluruh hamparan bumi di Jepang bagaikan embun-embun yang membeku. Demikian pula dengan batang sakura. Salju putih, putih sekali seputih kulit gadis-gadis Jepang. Sungai Oshin mengalir bening. Gubugnya yang dulu menjadi tempat shooting film Oshin pun masih tampak kokoh, padahal film tersebut sudah lama dibuat. Jendela-jendela mulai terang. Tampak bayangan-bayangan manusia-manusia yang sedang mengobrol di sebuah ruangan. Sayup-sayup terdengar alunan musik klasik.

Seorang remaja Indonesia tinggal bersama keluarga Jepang. Salah seorang remaja sebuah SMU Muhammadiyah di Yogyakarta itu harus menjalani hidup bersama orang-orang Jepang selama kurang lebih setahun sebagai resiko dia telah lulus tes penyaringan duta pertukaran pelajar setingkat SMU. Yah, suatu kebanggaan dan suatu tantangan hidup. Dia harus hidup di lingkungan dengan budaynya berbeda.

Sebagai seorang muslim, dia harus menjalani ibadah dari sholat, puasa, membaca Al Quran, dan lain-lainnya di tengah remaja-remaja Jepang yang non muslim. Walaupun ada banyak perbedaan budaya, yang tampak dari orang-orang Jepang adalah etos kerja, mau belajar, cinta kebersihan. Sebenarnya karakter orang muslim itu sudah betul-betul mendekati aklaqul karimah, orang-orangnya ulet, tekun, suka bekerja keras, cerdas, unggul, hanya saja bedanya mereka suka minum sampanye.

Ketika dia masuk ke sebuah ruangan kelas, dia harus menyopot sepatu, sehingga di kelas dia memakai kaos kaki. Ruangan kelas bersih, di luar sana bunga-bunga sakura bermekaran, kadang-kadang jatuh tertiup angin. Kedisiplinan murid dan guru-gurunya. Baleho-baleho juga tidak boleh menutupi wajah asli kota. Jika pergi ke Kyoto yang nampak adalah aura inner beauty-nya.

Tentu saja pada hari-hari tertentu dia harus melihat sampanye di meja makan. Sebagai seorang remaja yang jauh dari keluarga tentu dia bebas mau melakukan apa saja, apakah dia harus mengikuti arus atau tidak. Seperti anak-anak muda yang lain tentu suka hura-hura, tetapi dia lain. Setiap harinya dia lebih memilih segelas susu segar daripada sampanye. Dan dia harus memberi pengertian itu kepada siapa saja kepada orang-orang Jepang bahwa dia tidak boleh minum sampanye dan sejenisnya, semuanya dengan Just Understanding………….Susu adalah minuman yang menyehatkannya, bukan sampanye. Susu yang putih seperti salju musim dingin saat itu.

Sampanye bisa di atas meja, tetapi etos kerja orang-orang Jepang memang patut dicontoh. Kaki-kaki memakai kaos kaki di dalam ruang kelas yang bersih. Guru-guru yang bertanggungjawab dan profesional. Pekerja-pekerja yang ulet, tekun, dan cerdas. Mereka menjalani hidup dengan penuh dinamis.

Sampanye bisa di atas meja, tetapi etos kerja orang-orang Jepang memang patut dicontoh. Kaki-kaki memakai kaos kaki di dalam ruang kelas yang bersih. Guru-guru yang bertanggungjawab dan profesional. Pekerja-pekerja yang ulet, tekun, dan cerdas. Mereka menjalani hidup dengan penuh dinamis.

Pernah juga ketika berkunjung ke rumah orang Jepang, dia melihat barang menarik di rumahnya, terus dia memuji barang itu, e malah barang itu dikasihkan. Biarpun sifat orang Jepang demikian, jangan cari-cari kesempatan.



Tirakat untuk Indonesia Raya
May 13, 2007, 1:10 am
Filed under: Hello World | Tags:

Dasawarsa akhir ini Indonesia banyak mengalami ujian yang maha berat. Kalau dilihat dari religiusitas, semua akan berpikir apakah kita diuji, diperingatkan atau sudah dihukum oleh Tuhan. Bangsa Indonesia secara bertubi-tubi merasakan kemarahan alam. Apabila alam meluapkan kemarahannya mungkin manusia tidak akan bisa membendungnya begitu saja. Seolah-olah kita telah melihat bukti dari firman Tuhan, “Ketika bumi diguncangkan dengan dahsyatnya, bumi memuntahkan segala isinya, dan manusia bertanya apa yang terjadi?…….”

Pada akhir Desember 2004 Aceh dan Sumatra Utara diguncang gempa bumi yang berkapasitas terjadinya tsunami. Bencana Aceh dan Sumatra Utara ditetapkan sebagai bencana nasional.

Bagaikan laut terbelah kemudian memuntahkan segala isinya, kemudian menerjang semua benda yang ada di depannya. Ribuan jiwa meninggal diterjang gelombang tsunami. Seperti lagu Desember Kelabu yang dinyanyikan Yuni Shara, Desember 2004 itu semua mata tertuju ke Aceh dan Sumatera Utara, berlinang air mata menyaksikan Meulaboh dan sekitarnya tertelan tsunami.

Tidak sedikit orang, lembaga baik nasional maupun asing yang menyumbangkan baik materi maupun material guna mengentaskan rakyat Indonesia yang tinggal di Aceh dan Sumatra Utara dari penderitaan jiwa dan raga.

Di daerah-daerah lain seperti Papua dan Nusa Tenggara juga diguncang gempa bumi yang meratakan rumah penduduk dan penghuninya. Semua ahli mulai membicarakan rumah tahan gempa. Setiap media juga menayangkan diskusi-diskusi rumah tahan gempa. Sampai pada 27 Mei 2006 Yogyakarta, wilayah di bagian selatan Jawa Tengah dan Klaten diguncang gempa bumi dengan kekuatan mendekati 6 SR. Ribuan rumah dihancurkan dan ribuan orang (kira-kira 6000 jiwa) meninggal dan sakit. Air mata seluruh bangsa Indonesia pun terkuras lagi. Persatuan dan kesatuan yang tampak dalam keguyupan mereka menhadapi segala yang terjadi saat itu. Gotong royong, bahu membahu membereskan puing-puing yang berserakan. Tidak hanya penduduk Yogya yang menanggung, tetapi saudara-saudara dari luar daerah juga ikut berpartisipasi membersihkan kota dari puing-puing bencana dan sekaligus membantu secara materi maupun non materi membangun kembali Yogyakarta. Ibu-ibu pun guyup rukun tiap hari memasak untuk dikirimkan ke daerah korban gempa. Mereka mengkoordinir sumbangan-sumbangan dari desa mereka. Dari desa ke desa, dari kecamatan ke kecamatan, dari kabupaten ke kabupaten melakukan kegiatan yang serupa.

Sebelum peristiwa tersebut, penduduk Yogya bagian utara telah tertekan dengan aktifitas Eyang Merapi di pasak bumi Jawa Tengah. Beliau merokok tidak pernah berhenti, mengepulkan asap yang berwarna kemerah-merahan dan juga cairan kemerah-merahan. Penduduk di sekitarnya sudah frustasi, termasuk binatang-binatang ternaknya. Banyak yang sudah tinggal di tempat pengungsian.

 

 

 

Sementara itu Mbah Maridjan seolah-olah menghilang begitu saja, entah apa yang dilakukan beliau, mungkin sedang berkomunikasi dengan Eyang Merapi tanpa sepengetahuan orang awam. Setelah 27 Mei 2006 penduduk Yogya dicekam oleh gempa vulkanik dari Eyang Merapi dan gempa tektonik dari Laut Selatan. Ritual-ritual dilakukan hingga memasang janur kuning di luar dan di dalam rumah sebagai doa keselamatan kepada Tuhan yang Maha Esa. Janur, dari Janah dan Nur, cahaya surga. Siapa yang ingin selamat harus mengejar cahaya suarga melalui perbanyakan doa dan tirakat. Beberapa bulan kemudian Gunung Merapi memuntahkan banyak bahan material sehingga terjadi banjir material di sungai-sungai lereng Merapi. Bunker-pun belum mampu menyelamatkan orang-orang yang ingin berlindung di dalamnya. Orang-orang juga mengalami keadaan yang tidak menentu, pada satu sisi tidak bisa meninggalkan tempat tinggalnya, tetapi ragu-ragu, sementara Pemerintah telah menyediakan tempat pemukiman.

Beberapa bulan berikutnya terjadi gempa bumi di wilayah pantai selatan Jawa yang berpotensi tsunami di Pangandaran (Ciamis), Cilacap, Purworejo, dan sekitarnya dengan total korban kurang lebih 600 jiwa. Bagi yang sempat lari ya selamatlah, bagi yang tidak terhempas gelombang tsunami.

elum lagi bencana-bencana yang lain, seperti banjir di beberapa kota, hilangnya hutan-hutan, meluapnya lumpur Sidoarjo yang melalap lahan-lahan dan pemukiman penduduk di Sidoarjo, jatuhnya pesawat, tenggelamnya kapal, kecelakaan kereta api, terjangkitnya wabah flu burung (H5N1), antrax, formalin, dan sebagainya. Ada apa dengan Nusantara. Apa bangsa Indonesia sedang banyak dosa sehingga dihukum Tuhan. Dimanapun tidak bisa ditemukan surga. Mungkinkah karena korupsi, apakah mungkin karena aborsi, Mungkinkah karena kawin cerai, mungkinkah karena perselingkuhan, mungkinkah karena fitnah dan ghibah/gosip? mungkinkah karena hujat menghujat, hardik menghardik, Mungkinkah karena eksplotasi kelewat batas atas alam, flora dan fauna? Mungkinkah karena banyak kedurhakaan rakyat kepada para pahlawan bangsa? Yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan. Ada apa dengan Nusantara? Keweningan dan keheningan dibutuhkan untuk mengupas semua kejadian, apakah bangsa Indonesia sedurhaka kaum Nabi Nuh, sedurhaka kaum Musa, sedurhaka Abrahah yang dihujani batu oleh burung Ababil, sedurhaka Karun, atau sedurhaka kaum Luth yang dihujani batu karena tidak bisa megendalikan syahwat ? Ataukah yang lain? Butuh perenungan dan pemikiran untuk pencerahan demi masa-masa depan Nusantara tercinta.

(www.ekosuryanti.blogsome.com, is antipornopictures personal website designed by Eko Suryanti. Special thanks to blogsome sponsor. This website contains social, cultural, education, letter and art. It is anti pornografi website)



Pergi ke Alexandria
May 12, 2007, 8:47 am
Filed under: Deepthought, Hello World | Tags:

Alexandria dan Kyoto merupakan contoh keberhasilan pembangunan kota berbudaya di dunia, sehingga termasuk dalam liga kota budaya dunia. Alexandria memiliki kenangan sejarah kegemilangan yang juga masih bertahan hingga sekarang, walaupun mengalami pasang surut dalam sejarah penentuan jatidirinya. Alexandria yang sekarang ini merupakan akumulasi pasang naiknya peradaban yang berusaha dibangkitkan dan diabadikan oleh beberapa person.

Setelah ditemukan oleh Alexander yang Agung atau Iskandar Zulkarnain pada tahun 331 SM, kemudian dibangun dan dijadikan Ibukota Mesir Kuno pada zaman hellenistik yang disimbolkan melalui mercusuar legendaris Pharaos (salah satu keajaiban dunia). Di sinilah terjadi perseteruan Cleopatra dan Mark Antony. Di sinilah pusat pendidikan dunia kuno. Alexander berusaha memadukan unsur-unsur budaya Timur dengan budaya Yunani dan Romawi yang merupakan cikal bakal kebudayaan Barat.

Dibalut pesona pantai Laut Mediterania yang bagaikan surga, bagaikan intan permata / zamrud Mediterania (pearl of Mediterranean). Terhampar di sebelah barat laut delta Nil. Alexandria mulanya merupakan sebuah perkampungan nelayan, bernama Pharaos, kampung ini memiliki pantai yang indah. Alexandria bernama lain Iskandariah.

Ketika Alexander The Great atau yang dalam dunia Islam dikenal dengan nama Iskandar Zulkarnain, dia tertarik untuk membangun kota ini, “Di sinilah aku akan membangun kota yang sudah kuimpikan sejak lama.” Iskandar Zulkarnain adalah raja yang terkenal dengan julukan ‘Raja Bertanduk’. Petualangan beliau ke timur membawa ide-ide hellenistik yang memadukan dunia Timur dengan dunia Barat. Iskandar sangat terkagum-kagum dengan pesona alam ini, dapat dikatakan sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak main-main dengan ucapannya, beliau segera mendatangkan ahli tata kota dari Yunani, dan pada musim gugur 332 Sebelum Masehi Alexandria atau Iskandariah mulai dibangun.

Ide-ide Denokrates mampu menyulap Iskandariah dari perkampungan nelayan sebagai kota yang berbalut gemilang peradaban. Peradaban yang tinggi itu dihasilkan dari perpaduan ide-ide dan kerja keras dari banyak person. Selama hampir 1000 tahun menjadi ibukota Mesir hingga penaklukan Islam pada tahun 21 H (621 M). Baru setelah pendirian Kairo oleh penguasa Islam ibukota Mesir dipindahkan dari Alexandria ke Kairo.

Kota kosmopolitan yang berbalut kegemilangan peradaban masa silam dihidupkan kembali oleh banyak person. Salah satunya yang dibangkitkan kembali adalah Perpustakaan Iskandariah. Perpustakaan Iskandariah berdiri atas peran aktif Dinasti Ptolemi yang berkuasa di Mesir pada periode Hellenistik. Ptolemi I (323 - 284 SM) yang bergelar Soter adalah komandan militer dan penulis biografi Iskandar Agung. Ia merupakan sosok yang cinta ilmu. Ptolemi kemudian membangun Mouseion, pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan perpustakaan yang mengoleksi berbagai buku. Mouseion diambil dari bahasa Yunani yang berarti tempat beribadah seluruh Tuhan ilmu pengetahuan dan seni. Selain mengoleksi buku-buku berbahasa Yunani, perpustakaan ini dulunya menyimpan berbagai manuskrip Mesir kuno serta sebagian kitab Hindu dan Budha. Mouseion merupakan Universitas Alexandria Kuno di Mesir Kuno. Ahli arkeologi Polish telah menemukan 13 aula kuliah sebuah Universitas Alexandria Kuno di Mesir kuno.

Sampai masa Ptolemi III tercatat sekitar 700.000 buku tersimpan di sana. Dari tradisi kepustakaan ini dari Alexandria muncul ilmuwan-ilmuwan terkenal yang berjasa bagi kesejahteraan manusia di dunia. Muncullah Archimedes, seorang ahli Matematika abad ketiga sebelum Masehi yang menghasilkan banyak penemuan ilmiah; Aristarchis dari Samos, astronom abad ketiga SM, orang pertama yang berspekulasi bahwa planet-planet mengitari matahari, menggunakan trigonometri untuk menghitung jarak dan ukuran matahari dan bulan; Kalimakhus, pujangga dan kepala perputakaan abad ketiga, menyusun indeks pertama untuk perpustakaan Alexandria, sebuah karya yang membangkitkan kesusastraan Yunani Klasik; Euclides, penemu ilmu geometri, matematika dan arsitektur; Dionysus, penemu ilmu dasar bahasa; Erasthostenes, Mr Beta, ahli ilmu falak, sejarah dan filsafat; Hypatia, seorang wanita ahli matematika dan astronomi; Earasthotenes, ahli ilmu bumi dan astronomi.

Setelah selama tiga abad kekuasaan Ptolemi berjaya, perpustakaan mengalami keruntuhan. Pada masa-masa berikutnya Alexandria mengalami kemunduran. Ketika Napoleon mendarat di Alexandria, tempat ini telah menjadi perkampungan nelayan. Dari abad 19 Alexandria mengemban peran baru sebagai pusat ekspansi perdagangan dan pelayaran Mesir. Oleh banyak persona kota ini mulai dibangkitkan kembali. Lukisan tentang zaman keemasan Alexandria telah diabadikan oleh penulis-penulis semacam E.M. Forster dan Cavafy. Atas prakarsa UNESCO bekerjasama dengan pemerintah Mesir dan berbagai organisasi yang mempunyai perhatian terhadap ilmu pegetahuan dan teknologi, muncullah ide untuk menghidupkan kembali perpustakaan ini. Merogoh kocek sebanyak 220 juta dolar Amerika, perpustakaan ini didesain modern.

Dalam bulan Oktober 2002 dibuka kembali perpustakaan masa lalu, di dalamnya berisi sekitar 400.000 buku ditambah sistem komputer modern dan mutakhir memungkinkan pengunjung mengakses koleksi perpustakaan lain, koleksi utama dititikberatkan pada peradaban Mediterania bagian timur. Perpustakaan baru memiliki kapasitas 8.000.000 buku. Perpustakaan ini menyediakan 500 unit komputer untuk memudahkan para pengunjung mencari katalog, dilengkapi ruang konferensi dan pustaka Thaha Husein bagi tuna netra, pustaka anak-anak, museum peninggalan kuno, manuskrip serta 5 lembaga riset.

Selain tradisi keilmuan yang kuat di Alexandria, kita akan melihat banyak tempat yang menebar pesona keindahan. Gedung-gedung bertingkat dibangun di tepi laut. Apabila kita berjalan menyusuri Kanal Mahmudiya yang berhadap-hadapan dengan kawasan industri dan kelas pekerja kita bisa menikmati keindahan Alexandria yang kosmopolitan dan bohemian. Dengan jalan beraspal kuno yang dibatasi kanal dan pepohonan. Kemudian Mercusuar Pharaos yang legendaris yang menjadi bagian dari keajaiban dunia. Museum Sejarah Alam, Kebun Raya Zoologi, Museum Seni Rupa, Istana Antoniad yang terletak di dekat kuburan Roma, Masjid Abu Al Abbas al Mursi (Masjid berbentuk segi enam), Masjid Attarine, Benteng Qeitbey (masjid sekaligus benteng yang terletak di tepi pantai), Masrah Rumani (peninggalan Romawi, ada istana burung), Cotacombs of Kom El Shukafa (tempat penyimpanan mayat) dan Taman Mawar.

 

Kompleks Muntazah merupakan suatu kompleks taman dikelilingi tembok besar dari selatan, timur dan barat, sedangkan di sebelah utara ada pantai. Area ini pernah dimiliki oleh keluarga Muhammad Ali, penguasa pertengahan abad 19 hingga tahun 1952. Konstruksi dimulai tahun 1892 oleh Raja Abbas H yang membangun istana yang lebih besar, yang kemudian dinamakan Haramlik. Kemudian Raja Farouk membangun sebuah jembatan laut, suatu tempat yang indah untuk menikmati keindahan Alexandria. Taman Muntazah menjadi tempat peristirahatan musim panas bagi Raja Mesir sebelum revolusi 23 Juli 1952 (dari sistem kerajaan ke Republik). Memiliki luas 155,4 ha, taman ini hanyalah taman yang menebar keindahan. Di dalamnya, istana Raja Farouk berarsitektur menawan berdiri kokoh, menghadap Laut Tengah. Istana ini dijadikan istana kepresidenan untuk menyambut tamu-tamu negara.

 

Alexandria merupakan kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo, dan menjadi ibukota pemerintahan Al Iskandariah. Alexandria memiliki magnet bagi penduduk lain di belahan dunia manapun. Alexandria kota kedua setelah Roma dalam luas dan kekayaan. Dalam warna kehidupannya menunjukkan atmosfer Mediterania daripada Timur Tengah. Kota tersebut merupakan kota perdagangan, kota kosmopolitan dan budaya Bohemian yang dirintis oleh imigran dari Yunani Italia. Banyak manusia berdatangan ke taman impian ini. Pendudukpun menyambut dengan keramahtamahan demi kotanya, mereka rela berjam-jam melukiskan tempat-tempat wisata di Alexandria. Didukung dengan jasa transportasi dan penginapan yang murah. Dapat ditempuh dalam 2 jam dengan kereta api dan 2 setengah jam dengan berbus ria dari Kairo. (ekosuryanti@yahoo.co.id)



Mengenang Kembali Ki Hajar Dewantoro (1)
May 10, 2007, 3:34 am
Filed under: Deepthought, Hello World | Tags:

Sejarah umat manusia membuktikan bahwa sebutan pahlawan atau bukan bisa dilihat dari mana memandangnya. Bangsa Indonesia selalu menganggap Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan yang berhak mendapatkan bintang mahaputera, tetapi bagi Belanda mungkin dianggap pengganggu stabilitas pemerintahan Hindia Belanda saat itu. Dan itu terjadi di sudut mana saja.

Bicara tentang pahlawan, kita memiliki ratusan tokoh besar yang berjasa untuk Indonesia. Banyak di antara mereka yang kebetulan berasal atau pernah ditempa di kawah candradimuka Yogyakarta, antara lain adalah Ki Hajar Dewantoro, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sultan Agung Hanyokrokusumo, Pangeran Diponegoro, Sri Sultan Hamengkubuwono I, dan lain-lainnya.

ensik.tok.indKi Hajar Dewantoro merupakan tokoh nasional, tokoh kemerdekaan, dan tokoh pendidikan nasional. Kita akan mengenal Ki Hajar Dewantara melalui karangan-karangan beliau yang terangkum dalam buku Karya K.H. Dewantara : Bagian pertama, Pendidikan.

Sekilas tentang perjalanan hidup Ki Hajar Dewantoro

Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Jogjakarta, wafat pada tanggal 26 April 1959. Pada tanggal 6 September 1913 sampai 5 September 1919 dibuang oleh Pemerintah Belanda di negeri Belanda.

Pada tanggal 3 Juli 1922 beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa dan sampai saat wafatnya terus memimpin perguruan tersebut. Pada tanggal 1 Oktober 1932 memimpin perlawanan menentang “ordonansi sekolah liar” sampai dicabutnya ordonansi tersebut, didukung oleh segenap lapisan masyarakat dan semua partai politik serta organisasi rakyat Indonesia. Pada tanggal 8 Maret 1955 ditetapkan Pemerintah sebagai Perintis Kemerdekaan nasional Indonesia.

Pada tanggal 19 Desember 1956 beliau mendapat gelar doktor kehormatan (honoris causa) dalam ilmu Kebudayaan dari Universitas Negeri Gadjah Mada. Pada waktu wafat beliau diangkat sebagai Perwira Tinggi dengan pemakaman negara secara militer, tepatnya tanggal 26 April 1959.

Pada tanggal 28 Nopember 1959 diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Pada tanggal 16 Desember 1959 pemerintah RI menetapkan hari lahirnya sebagai hari Pendidikan nasional. Baru pada ranggal 17 Agustus 1960 beliau dianugerahi oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan perang RI Bintang mahaputra I. Prestasi Ki Hajar Dewantoro lebih lengkap dengan tanda kehormatan Satya Lancana Kemerdekaan, 20 Mei 1961.

Ki Hajar Dewantoro sudah mulai dan terus menulis sejak hampir setengah abad yang lampau di berbagai surat kabar, majalah, dan brosur-brosur serta penerbitan lain-lain, tersebar di Indonesia dan di Nederland, sehingga membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan karya-karya beliau.

Ki Hajar tentang Pendidikan dan pengajaran nasional

Menurut Ki Hajar Dewantara, upaya menjunjung derajad bangsa akan berhasil, apabila dimulai dari bawah. Rakyat sebagai sumber kekuatan, harus mendapatkan pengajaran agar pandai melakukan upaya bagi kemakmuran negeri. Pendidikan anak-anak berarti pendidikan rakyat. Pendidikan harus disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat agar lebih berfaedah bagi perikehidupan bersama. Pendidikan harus bisa memerdekakan manusia dari ketergantungan kepada orang lain dan bersandar pada kekuatan sendiri. Pendidikan merupakan tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Berarti pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan hanyalah suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, tentu saja hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. kekuatan kodrati yang ada pada anak-anak itu ialah segala kekuatan di dalam hidup batin dan hidup lahir anak-anak itu yang ada karena kodrat. Para pendidik hanya dapat menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan-kekuatan itu agar dapat memperbaiki lakunya, (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya.

Misalnya : Seorang petani, dia tidak bisa merubah sifat-sifat dasar padi. Seorang petani hanya dapat menumbuhkan padi dengan memperbaiki tanahnya, memelihara tanamannya, memberi rabuk atau air, memusnahkan hama-hamanya. Ia tidak dapat mengubah kodrat tanaman. Ia tidak dapat merubah tanaman padi menjadi jagung dalam tempo tiga bulan. Pak tani harus takhluk pada kodrat padi. Seorang petani hanya dapat menjadikan padi tersebut tumbuh berkembang dan menghasilkan panen yang besar.

Sekolah Taman Siswa.

Tugas seorang petani hampir sama dengan seorang guru. Pendidikan hanya bisa menuntun pertumbuhan anak didiknya. Pertumbuhan anak-nak tergantung kodrat dan keadaan masing-masing. Anak yang tak baik dasar jiwanya dan tidak mendapat tuntunan pendidikan, dikhawatirkan akan menjadi orang jahat kalau tidak ada tuntunan. Dengan tuntunan tersebut seorang anak akan mendapat kecerdasan yang lebih tinggi dan luas, akan menjauhnya dirinya dari pengaruh jahat, buruk.

Pengaruh-pengaruh tidak baik yang datang kepada anak-anak boleh jadi bersal dari keluarganya. Anak-anak yang serba kekurangan tentu akan menghalangi ambisinya untuk mendapatkan pendidikan, sehingga kecerdasannya tidak bisa tumbuh seperti yang diharapkan. Mungkin juga mungkin perangai dari anggota keluarganya yang kurang menunjukkan keluhuran budipekerti.

Mengenai perlu tidaknya tuntunan di dalam tumbuhnya manusia, samalah keadaannya dengan soal perlu tidaknya pemeliharaan dalam pertumbuhan tanaman. Misalnya kalau jangung yang baik dasarnya jatuh pada tanah yang baik, banyak airnya, dan dapat sinar matahari, maka pemeliharaan-pemeliharaan dari Pak Tani akan menambah pertumbuhan dan hasil panen menjadi lebih baik. Kalau tidak ada pemeliharaan, sedangkan keadaan tanahnya tidak baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidak baik, kurang sinar matahari, maka tetap saja jagung itu tidak bisa tumbuh dengan baik. Sebaliknya apabila jagung itu bibitnya tidak baik, tetapi selalu dipelihara dengan baik oleh Pak Tani tentu saja hasilnya akan lebih baik daripada biji jagung yang tidak baik lainnya. (hlm 22)