Life Flowers


A glass of ice water and yellow wine…..
July 21, 2007, 2:40 am
Filed under: Hello World | Tags:

Hotel Santika Yogyakarta yang berada di dekat Tugu Whittpal itu semakin ramai. Angin senja bertiup sepoi-sepoi. Ketika aku berjalan memasuki pintu gerbang Santika, yang kulihat banyak orang keluar masuk dari kotak-kotak bermesin itu. Hillary keluar dari taxi dan segera menuju ruang rias, dia tidak mau terlambat, karena dia harus menari Jawa bersama teman-temannya. Teman-teman dari Monash University, Australia yang lain kayaknya sudah pada datang. Aku datang lebih awal dari teman-teman tutor yang lainnya, karena ingin memberi hadiah kepada beberapa dari mereka berupa majalah Balairung. Pakaian-pakaian dari dressmaker mana gue tidak tau. Teman-teman peserta dan tutor-tutor kursus bahasa dan budaya Indonesia di Fakultas Sastra UGM dalam program Monash University sedang berdandan di ruang rias hotel Santika Yogyakarta. Ada sekitar 7 - 9 an bule mendapatkan sampur untuk menari tarian tradisional. Suasana ruang rias hotel itu sangat meriah. Aku masih dalam suasana puasa, jadi agak kelaparan. Kulihat Jesse Wilkinson sudah selesai dirias, tinggal memakai kostum tari. Dia itu bule yang kalau bicara suka merendahkan hati, padahal Ayahnya manager department store di Melbourne, lho. Setelah selesai, dia berusaha membantu merias David, membenarkan cara David memakai kostum, yah David, nama bule itu, kalau nggak salah namanya. Dari mulut Jesse keluar celetukan, Hei, you are like monkey…….. David hanya cengar-cengir dirinya dikatakan kayak monyet. Jesse sebenarnya sudah memiliki boyfriend di Australia, cuman dia akrab sekali dengan teman-teman laki-laki yang lainnya. Asyik juga bisa berteman dengan teman cowok, ada bercandanya, nggak marah-marahan, dan mendapat perlindungan. Jesse adalah cewek bule yang akrab dengan saya. Kami suka diganggu oleh Mac, cowok Tmor Leste itu. Cowok yang sangat mengagumi Sri Sultan.

Ibu Hillary (aku agak lupa namanya) sedang memakai earing. Dia orang kebangsaan Amerika yang tinggal di Australia dan kuliah bahasa Indonesia di Monash University. Dia menjadi salah satu bule yang didapuk untuk menari tarian tradisional. Lupa saya tari apa ya waktu itu, oh ya kalau nggak salah tari Bondan, atau tari Gambyong ya, ah lupa…lupa. Uup, ternyata earingnya nyelip di tas. Dia sangat sibuk mencari. Akhirnya ketemu juga. Dia itu sangat suka musik lama. Orangnya menjuluki Jogja dengan ,”kota harmoni” harmony city untuk seluruh irama hidup di Jogja ini. Itulah yang membuatnya betah tinggal di Jogja.

 

Lama sekali aku menunggu acara dimulai. Aduh malunya aku. E…ternyata tanpa kusadari sepatuku jebol. Mudah-mudahan nggak ada yang melihat. Malam masih panjang, aduh……….Dari dalam hotel tidak terdengar adzan maghrib, tetapi waktunya kayaknya sudah sampai. Aduh di meja bundar hanya ada air es. Nggak papa, yang penting dahaganya hilang. Untung di hotel Santika ada mushola imitasinya, kalau tidak gimana aku sholat…….Ternyata ada Pak Adaby Darban, oh iya dia kan salah satu pembantu dekan. Yang kuherankan adalah dekan dan para pembantu dekan itu ternyata mau sholat di mushola itu bersama teman-teman mahasiswa lainnya.

Selepas Isyak acara segera dimulai. hanya saja dari tadi perutku ini hanya terisi air es. Waduh kapan acara dinnernya to. Sambutan-sambutan dari wakil Monash University, Fakultas Sastra dan Pusat Studi Indonesia silih berganti. Juga ada seorang wakil mahasiswa Monash yang ikut kursus didaulat untuk pidato. Acara itu akhirnya berlalu dengan tenangnya. Tidak tau apakah telinga betul pada di tempatnya. Aku nunggu acara makan nih. Aduh…aduh lapernya. Begitu sambutan dimulai seorang anak dosen menari di atas panggung. Matanya membelalak karena sedang menari Bali……..Kemudian giliran para mahasiswa Monash menari Jawa. Dari sekian banyak cewek, ada cowok yang menari. Lucunya mereka menari. Mau-maunya dikerjain orang-orang Pusat Studi Indonesia.

Akhirnya waktu makan malam tiba. Waktu yang kutunggu-tunggu. Jaga image dulu ah, lapar ya lapar, cuman tunggu giliran. Banyak hidangan penggugah selera ditunjukkan di situ. Tinggal milih. Buah-buahan, es campur, wah……..Teman-teman bule mempersilakan aku segera makan. Aku mendapat bolpoin dari Jesse Wilkinson, bulpen bertuliskan Melboune. Dari Mellisa Moris kudapatkan buku Souvenir of Australia. Alangkah indahnya bisa bertemu mereka. Betapa ramahnya mereka, karena mereka selalu berpikir bahwa orang Yogyakarta ramah.

Setelah acara wisuda peserta-peserta kursus Program Monash University, band geronimo mendapat giliran unjuk gigi. Eee, ternyata ada Surya Bagaskara sama Ninda Kariza. Mereka jadi MC di sana. Surya Bagaskara itu dosen yang nyambi jadi penyiar radio Geronimo dan TVRI Stasiun Yogyakarta, atau sebaliknya dia itu penyiar nyambi jadi dosen Perancis. Betul-betul dia dosen gaul. Memangnya Pak Surya sama Mbak Ninda pacaran, kok akrab. Ternyata nggak tau juga……. Kemudian kami menari-nari ala Barat. Foto-foto bareng, kenapa sih sepatuku. Aku terkesan sekali dengan gaya kebangsawanan Sheridan Parish. Aku malu sekali. Eiii… ada pemuda Timur Leste yang cakep sekali ikut juga kebetulan dia kuliah di Monash. Ramah sekali dia. Kalau nggak salah namanya Mac, untung bukan Mac Donald. Apresiasinya tentang Sultan dan Jogja sangat baik sekali. Aku memang agak belum nyambung sama dia. Aku agak marah juga waktu Timor Timur lepas dari Indonesia, tetapi mau bilang apa. Andaikan aku di hari yang lain bertemu dengannya, aku ingin bertanya tentang Indonesia dan Timor Timur, aku mau ngobrol lebih lama lagi. Sekali lagi budayaku memang belum bisa bersentuhan dengan budayanya. Sementara itu Ibu Lys menari Salsa dengan lincahnya, padahal usianya sudah tua. Dia menari dengan Pak Basuki, seorang dosen sastra Indonesia Monash University. Apa ya nggak capek…nari Spanyol kayak gitu. Sepatunya bergeletuk…….pakai koprol segala. Padahal keduanya sudah tua, kok masih energik ya. Pak Basuki adalah orang yang paling banyak menerima ciuman dari banyak mahasiswi Monash sebagai tanda terima kasih telah lulus kursus Bahasa Indonesia di UGM, mungkin………

Malam kian larut, pembesar-pembesar Sastra sudah pulang. Minuman-minuman penghangat mulai dikeluarkan dari lemari. Teman-teman Monash sudah ada yang memegang gelas-gelas wine. Aduh… ada beberapa bule seperti Mellisa Moris berusaha menghargai budaya kami, sehingga belum ingin mengeluarkan wine kesukaannya, padahal dia ingin mendirikan pabrik wine di Melbourne. Mungkin Pak Kyai akan marah padaku bila melihat aku berada semeja dengan orang-orang yang suka wine. Tetapi itulah budaya, selama saya tidak ikut minum kenapa. Padahal, kami tidak mempermasalahkan kalau Mellisa Moris mengambil minuman itu, toh mereka tidak menyuruh kami minum. Itu budaya mereka, just understanding. Jam 12 malam kami pulang dengan taxi…….Kenangan bersentuhan budaya lain sangat mengesankan sekali. Wine dan air es bisa berada di meja yang sama, tetapi bukan untuk dicampur, karena sedapnya masing-masing akan hilang………



Between Yogyakarta to Jakarta
July 13, 2007, 1:20 am
Filed under: Hello World | Tags:

Apabila kita semalam saja selain hari Minggu di kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor dan kota industri lainnya, pasti kita akan langsung terkesan betapa kota-kota tersebut pantas mendapat julukan never sleep city. Revitalisasi industri telah mengakibatkan banyak kota tidak pernah tidur, never sleep city. Pagi-pagi sehabis Subuh, pelajar, mahasiswa, pekerja pabrik, pegawai, guru telah berlomba-lomba mendapatkan angkutan. Mereka tidak mau terlambat kerja karena terjebak kemacetan. Kemacetan lalu lintas merupakan lagu lama yang terulang-ulang. Dengan was-was mereka menjalani hidup, karena preman-preman berkeliaran. Betul-betul hidup yang penuh perjuangan. Pengemis-pengemis dan pengamen-pengamen yang menolak diberi uang recehan dengan kasar. “Apaan, nih, uang kaya ngasih 100 rupiah! Nih, makan!” sambil dilemparkan yang memberi. Pagi-pagi Subuh berangkat, belum tentu saat maghrib nanti mereka bisa sampai di rumah. Macet menjebak perjalanan berangkat dan pulang kerja. Sopir dan kernet berteriak-teriak karena jalannya angkutan di depannya terkesan lamban. “Huei, lelet amat, Bang, cepetan, gue tabrak, hue, cepetan, tuh lampu sudah hijau, sopir Jawa pasti, ……Lo Gadung, Lo Gadung…..”. “Pung ‘tan, Kampung Rambutan, Kalires Kalideres”. Mata-mata boleh saling melotot, “Dagadu…dimane”. Sementara itu para penumpang sudah was-was kapan mereka akan sampai di rumah, mau pulang jam berapa, bagaimana anak-anak di rumah, karena yang di rumah biasanya pembantu-pembantu yang bergaya layaknya model, Inem Pelayan Seksi lah.

 

Jam kerja di pabrik ataupun di kantor tidak selalu mulai dari Subuh hingga waktu Asar, bisa saja dari Dhuhur hingga Subuh lagi datang. Itu berlangsung rutin. Banyak juga para pekerja yang hidup seperti kalong layaklah kalau di sana ada nama daerah “Rawa Kalong”, siang untuk tidur dan malam untuk bekerja. Kadang-kadang terjadi dialog demikian, “Tumben, mPok, tidak nglembur, biasanya nglembur sampai Subuh, sampai Subuhnya lupa. Matanya tidak sembab lagi, agak segar……”.”Wah aset penjualannya baru menurun…”. “Wah pagi tadi bagai fotomodel, sekarang kok kayak kucing kelaparan…”. Revitalisasi industri telah menyebabkan kota itu tidak pernah tidur dan manusia-manusia seperti kalong.

Kecemburuan sosial itu selalu ada dan bisa dimanifestasikan dalam bentuk intrik-intrik yang bisa mengganggu kenyamanan orang hidup. Preman-preman sok alim, penjahat berkedok “si kolor hijau”. Di tengah-tengah kota industri itu masih saja berlaku kepercayaan lama. Mereka segera menyediakan bambu kuning dan sebagainya untuk menanggulangi kedatangan makhluk tersebut.

Revitalisasi industri dan investasi telah membawa angin ekonomi pasar bebas. Semua ditentukan oleh ekonomi pasar. Cewek-cewek yang kalau baru berangkat kerja bagai fotomodel, tetapi ketika pulang kerja sudah bagaikan lutung gunung. Revitalisasi industri membawa dampak positif maupun negatif. Banyak anggota masyarakat yang mendapat tambahan penghasilan sebagai akibat dibukanya pusat-pusat industri itu. Kalau tidak berada di dalam zone pusat industri itu, ada usaha lain seperti laundry, rumah makan, rumah kos-kosan yang pasti tarifnya mahal. Guru-guru juga mendapat penghasilan tambahan, karena kesibukan orangtua tidak sempat mengajar anak-anaknya, sehingga semuanya diserahkan kepada guru-guru mereka. Dampak negatifnya, antara lain : persaingan yang ketat, kehidupan yang keras, kriminalitas terang-terangan maupun terselubung. Investor bisnis perbelanjaan juga marak di sana. Hampir di semua tempat, bila kita meninggalkan rumah, pasti sudah menemukan mall. Betul-betul kehidupan yang keras, tanpa kompromi. Mana kalau musim hujan bisa tidur di atas air, karena sedikit sekali lahan peresapan air.

Akankah Yogyakarta dibawa menuju ke sana, never sleep city, kota yang penuh kekerasan, kota yang penuh kesibukan, kota yang penuh kemacetan, kota yang penuh misteri, manusia-manusia kesepian di tengah-tengah hiruk pikuk kota, ruh-ruh budaya Jogja lenyap dari peredaran, romantisme klasik dan revolusi tidak terasa, candi-candi, museum-museum sepi, akhirnya berlumut, retak-retak lapuk dimakan masa.

Sebenarnya Yogyakarta sudah mendekati tanda-tanda ke arah never sleep city. Di Yogyakarta terdapat ratusan institusi pendidikan, dari yang menjadi milik swasta maupun pemerintah, dari level tinggi maupun dasar. Bahkan banyak investor pendidikan yang mendirikan sekolah-sekolah mahal di Yogya. Banyak yang memiliki alasan karena kepedulian kepada suramnya dunia pendidikan, ada juga yang murni berbisnis. Tempat fotocopian, penjilidan, penterjemahan, jasa konsultan skripsi (jasa pembuatan skripsi) telah menjadikan Jogja sedikit menjadi never sleep city.

Malioboro yang ramai, hampir tiap tahun bersolek. Malioboro merupakan muka seorang cewek yang namanya JOGJA yang terkenal cantik nan romantis dan penuh harmoni. Malioboro pun mulai meninggalkan ruh Jogja-nya, sehingga orang-orang yang ingin menemui Jogja tempo dulu memilih alternatif liburan ke daerah lain yang lebih berbudaya.

Investor-investor pusat perbelanjaan memusat di kota-kota dataran rendah, dari ibukota Jogja hingga Sleman. Pusat pendidikan menyebar dari Bulaksumur dan Karangmalang menyebar ke timur dan ke utara. Bahkan Gunung Kidulpun sudah memiliki Universitas. Perumahan-perumahan, real estate menyebar menggusur areal-areal gembala ternak dan pertanian. Hutan Kaliurang dibabat untuk vila dan real estate dan semacamnya. Lapangan golf dinilai lebih menghasilkan devisa daripada lahan pertanian. Para petani-petani mulai melirik gaya hidup yang baru. Sepeda motor segala merek didatangkan dari dealer-dealer ke desa-desa.

Investor-investor harus terus ditarik agar tertarik untuk menanamkan modalnya di Yogyakarta, tetapi harus memberi kesempatan kepada rakyat Yogya untuk menikmati hasil. Hasil di sini bukan seperti pengemis yang hanya menerima recehan uang logam kecil-kecil, tetapi juga menerima gaji, artinya mereka tanpa dibatasi umur, bentuk tubuh diberi kesempatan untuk menjadi pekerja di pabrik-pabrik itu. Selama ini rakyat Jogja malah disuruh melihat orang-orang di luar daerah menikmati penggusuran atas wilayahnya oleh pusat-pusat industri dan pusat perbelanjaan itu karena para investor, pengusaha justru membawa dari daerah asalnya. Mereka juga harus merekrut sarjana-sarjana dari Yogyakarta, sehingga betul-betul warga Jogja dapat menikmati gemerlapan kotanya.

Untuk mengatasi problem-problem berupa konflik-konflik kepentingan diperlukan pembagian zone-zone yang berdasarkan potensi wilayah masing-masing. Zone yang memang memiliki potensi Benda Cagar Budaya, maka harus dikembangkan menjadi zone budaya dan pariwisata. Inipun diperlukan investor-investor budaya sehingga zone tersebut juga memiliki daya saing. Bila ada kepentingan yang lain tentu harus menyesuaikan diri dengan kepentingan zone budaya dan pariwisata. Bagaimana banyak benda cagar budaya yang digempur dengan alasan kepentingan lain. Padahal benda-benda itu kalau dirumat oleh orang asing justru akan bernilai jual tinggi, tentu saja itu hanya untuk kepentingan mereka.

Di daerah-daerah yang berdaya saing menghasilkan hasil pangan baik pertanian maupun peternakan maka dikembangkan zone agrikultural. Paling tidak seperempat wilayah bisa dijadikan zone agricultural. DIY sangat berpotensi untuk pengembangan peternakan sebagai alternatif lain usaha pertanian. Sektor tersebut sebenarnya juga membutuhkan investor yang berjasa dalam revolusi pertanian dan revolusi pemasaran hasil pertanian/peternakan. Yogyakarta mampu menjadi pusat penyediaan sumber protein hewani bagi penduduk di kota-kota sebesar, tetapi agaknya kurang banyak investor yang mau menanamkan modalnya di bidang tersebut. Padahal siklus perdagangan ternak memberikan keuntungan bagi setiap subjek yang berperan di dalamnya, dari peternak, blantik, tukang jagal, pengusaha daging dan kulit, dan sebagainya.

Yang tidak boleh tergusur lagi, zone pemukiman penduduk. Kalau zone ini dipotong-potong untuk perumahan elit, penduduk diminta tinggal di mana lagi. Banyak penduduk yang tinggal di bawah jembatan. Di sanalah biasanya anak-anak jalanan setiap hari meluangkan waktu memandangi bintang-bintang di langit, hingga sang wajar nongol di ufuk timur.

Zone pendidikan telah menyebabkan lahirnya pemukiman-pemukiman baru. Perumahan-perumahan dosen, kos-kosan mahasiswa, asrama, ruko, tempat fotocopy, jasa penterjemahan, jasa konsultasi skripsi. Belum lagi pada musim-musim ujian lampu tidak pernah mati. Itu menunjukkan peran DIY sebagai pusat pendidikan membuatnya tidak pernah tidur.

Zone industri sebaiknya tidak mengganggu zone pemukiman penduduk, zone pendidikan, zone pertanian/peternakan yang subur, zone cagar budaya. Revitalisasi semua sumber daya yang ada dengan memanfaatkan sumber daya manusia hasil tamatan dari Universitas-Universitas yang ada di Yogyakarta yang tentu saja berkualitas. Yogyakarta bisa menjadi kota yang tidak pernah tidur dengan revitalisasi industri yang padat karya dan berimbas pada sosial ekonomi rakyat, tetapi tidak kehilangan ruh-ruh Ngayogyakarta. Yogyakarta harus memiliki suatu daerah yang memang khusus untuk menghidupkan ruh-ruh ke-Yogyakarta-an, sehingga tidak hilang, digerus globalisasi yang ada.

Remaja-remaja mall, tetapi tahu unggah-ungguh, pandai berbahasa daerah, tahu internet dan komputer, sekaligus bisa menarikan atau menyanyikan tarian dan tembang tradisional, dan tidak lupa beribadah sesuai waktu yang ditentukan. Penghargaan terhadap nilai-nilai budaya tradisional, benda cagar budaya semakin meningkat. Candi-candi selau dikunjungi, masuk museum tidak gengsi. Tetapi tidak pernah ketinggalan dengan Bahasa asing. Anak-anak muda memenuhi panggung teater tradisional seperti Sendratari Ramayana, walaupun pada saat lain mereka bisa melongok Spider 4, My heart, Mengejar Mas-Mas dan film-film lainnya baik nasional maupun internasional di sebuah gedung bioskop di Jogja. Nilai-nilai tradisional tidak boleh lenyap, tetapi harus berpadu dengan nilai-nilai modernitas.



Pendidikan Multikultural
July 10, 2007, 3:28 am
Filed under: Hello World | Tags:
Judul Buku : Pendidikan Multikultural dan Revitalisasi Hukum Adat, dalam Perspektif Sejarah
Editor : Prof. Dr. Ki Supriyoko, M.Pd.
Penerbit : Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Deputi Bidang Sejarah dan Purbakala
Tahun Terbit : Juli 2005

Globalisasi yang menembus batas wilayah menuntut pendidikan multikultural diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan kita. Konsep multikultural merupakan konsep baru dalam khasanah ilmu-ilmu sosial humaniora. Buku ini mengumpulkan pemikiran-pemikiran dari banyak ahli yang berusaha memberikan solusi atas segala persoalan multikultural. Walau multikulturalisme itu telah digunakan oleh pendiri bangsa Indonesia untuk mendesain kebudayaan bangsa Indonesia, akan tetapi bagi pada umumnya orang Indonesia masa kini multikulturalisme adalah sebuah konsep asing. Konsep multikulturalisme tidaklah sama dengan konsep keanekaragaman secara suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Multikulturalisme tidak bisa diulas dalam satu sudut pemikiran saja, tetapi juga harus melibatkan berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakkan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komunitas dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu produktifitas.

Perwujudan tata multikultural nampaknya memang tidak dapat mengesampingkan peran negara. Peran negara dalam pelaksanaan “diversity” di AS dan Kanada ialah mendistribusikan kekuasaan pada unsur-unsur active society yang sudah mapan, dengan begitu negara menjamin perkembangan kompetensi budaya “pribadi-pribadi” melalui pembelajaran. Sistem ini dilakukan dengan asumsi bahwa kesejahteraan masyarakat dan tata masyarakat adalah tergantung pada kualitas individu. Di Inggris dan beberapa negara lain termasuk Belgia dan Belanda mengansumsikan bahwa negara menciptakan kondisi bagi kemajuan “kelompok” (pembelajaran menjadi urusan bersama). Akan tetapi kondisi masyarakat dan negara Indonesia tidak dapat disejajarkan dengan masyarakat dan negara-negara di atas.

Multikulturalisme bukan hanya sebuah wacana tetapi sebuah ideologi yang harus diperjuangkan, karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, HAM, dan kesejahteraan hidup masyarakatnya. Multikulturalisme bukan sebuah ideologi yang berdiri sendiri terpisah dari ideologi-ideologi lainnya, dan multikulturalisme membutuhkan seperangkat konsep-konsep yang merupakan bangunan knsep-konsep untuk dijadikan acuan bagi yang memahaminya dan mengembang-luaskannya dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk dapat memahami multikulturalisme diperlukan landasan pengetahuan yang berupa bangunan konsep-konsep yang relevan dengan dan mendukung keberadaan serta berfungsinya multikulturalisme dalam kehidupan manusia.

Terdapat lima tipologi pendidikan multikultural yang berkembang :

1). Mengajar mengenai kelompok siswa yang memiliki budaya yang lain (culture difference). perubahan ini terutama siswa dalam transisi dari berbagai kelompok kebudayaan ke dalam mainstream budaya yang ada.

2). Hubungan manusia (human relation). Program ini membantu siswa dari kelompok-kelompok tertentu sehingga dia dapat mengikuti bersama-sama dengan siswa yang lain dalam kehidupan sosial.

3). Singles group studies. Program ini mengajarkan mengenai hal-hal yang memajukan pluralisme tetapi tidak menekankan kepada adanya perbedaan stratifikasi sosial yang ada di dalam masyarakat.

4). Pendidikan multikultural. Pr4ogram ini merupakan suatu reformasi pendidikan di sekolah-sekolah dengan menyediakan kurikulum serta materi-materi yang menekankan adanya perbedaan siswa dalam bahasa, yang keseluruhannya untuk memajukan pluralisme kebudayaan akan equilitas sosial.

5). Pendidikan multikultural yang sifatnya rekonstruksi sosial. Program ini merupakan suatu program baru yang bertujuan untuk menyatukan perbedaan-perbedaan kultural dan menantang ketimpangan-ketimpangan sosial yang ada dalam masyarakat. Program ini dinamakan “critical multicultural education“.

Pendidikan dan kebudayaan memiliki keterkaitan erat, sehingga dibutuhkan perundang-undangan yang mengatur mengenai hal tersebut. Euphoria standardisasi dan otonomi daerah yang setengah hati telah menghilangkan nilai-nilai esensial dari kebudayaan di dalam proses pendidikan nasional.

Konsep pendidikan multikultural yang kiranya dapat dikembangkan di tanah air kita sesuai dengan kondisi sosial, budaya, budaya dan politik di tanah air.

1. “Right to culture” dan identitas budaya lokal
2. Kebudayaan Indonesia yang menjadi
3. Konsep pendidikan multikultural normatif
4. Pendidikan multikultural merupakan suatu rekonstruksi sosial.
5. Pendidikan multikultural di Indonesia memerlukan pedagogik baru.

Kurikulum yang bersumber pada wawasan multikultural itu memang tidak mudah disusun. ada dua hal yang harus diperhatikan dalam upaya menyusun kurikulum yang multikultural, yaitu :

1. Kebudayaan lokal di Indonesia ratusan jumlahnya, maka dari semua “puncak-puncak kebudayaan daerah” itu harus dipilih beberapa saja yang relevan dan sedikit banyaknya lengkap inventarisasinya;

2. Sejalan dengan otonomi dalam bidang pendidikan, maka sebaiknya pilihan mana yang relevan dan mana yang tidak relevan untuk dimasukkan dalam mata pelajaran yang bersangkutan, harus diserahkan kepada daerah-daerah otonom untuk merundingkannya sendiri.

Multikulturalisme bertitik tolak pada kenyataan bahwa setiap orang hidup dalam budayanya masing-masing, selain individu juga hidup dalam budaya kultural, kelompok budaya sendiri yang majemuk. Pendidikan multikulturalisme mengandung tiga realita yang harus dituangkan dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat rendah, menengah hingga tinggi. Isi bahan ajar multikulturalisme berbeda dari daerah satu dengan daerah lain. Bahan ajar multikultural harus merupakan sebuah mata pelajaran yang komprehensif yang disusun dengan bantuan ahli budaya.

******ekosuryanti@yahoo.co.id*******



Rose in England
July 9, 2007, 5:50 am
Filed under: Hello World | Tags:

Ketika beliau masih hidup saya ingat sekali saat dia berbincang-bincang dengan Permaisuri Sultan HB X, tampak mengesankan. Baru saja saya melihat beliau datang di Yogyakarta, ternyata akan berpisah dengan suaminya. Menurut kabar dia pernah memergoki pacar suaminya beberapa hari sebelum mereka menikah. Kalau membaca tulisan-tulisan tentangnya, rasanya ikut bersedih dan menangis.

Dan September 1997 dunia kehilangan dia, salah seorang putri yang begitu dekat dengan rakyat kecil. Ribuan orang meratapi kepergiannya yang begitu cepat. Rose in the England Palace, mawar di istana Inggris. Gelombang kehilangan itu sangat terasa, hingga Elton John mengabadikan dalam sebuah lagu “The Candle in The Wind“.

Diana Princess of Wales, nama aslinya Lady Diana Frances Spencer, lahir 1 Juli 1961 di Park House dekat Sandringham, Norfolk, Inggris. Dia merupakan putri termuda dari Viscount dan Viscontess Althorp. Orangtua Lady Diana menikah pada tahun 1954, tetapi berpisah 1967, dan resmi bercerai 1969. Beliau lahir dari keluarga broken home. Beliau pada awalnya adalah seorang gadis pemalu. Dia tidak begitu pintar di sekolahnya. Pada awalnya dia belajar dirumah ditutori seorang guru, hal ini berlangsung sampai usianya 9 tahun ketika itu dia dikirim ke Riddlesworth Hall di Norfolk. Dia suka sekali bercerita kalau sudah besar ingin menjadi penari atau Putri Wales. Dalam usia 16 tahun dia mengalami kebosanan belajar hingga drop out dari West Heath dan akhirnya dia dikirim ke Swiss untuk menyelesaikan belajarnya, Chateau d’Oex. Di sinipun beliau mengalami homesick (kejenuhan) dan akhirnya kembali ke Norfolk. Untuk sementara beliau bekerja sebagai cleaning woman, sampai akhirnya menjadi asisten guru tk.

Kehidupannya bagai kisah atau dongeng Cinderella. Lady Diana Frances Spencer menikah dalam usia 20 tahun dengan Pangeran Wales di Katedral St. Paul, 29 Juli 1981. Pernikahan yang disaksikan oleh 750 jutaan manusia di seluruh dunia melalui layar televisi dan dihadiri 2500 undangan. Dari hasil pernikahan itu terlahir dua pangeran ganteng yaitu, Pangeran William (lahir 1982) dan Pangeran Henry (atau Harry, lahir 1984). Setelah menikah secara otomatis beliau menjadi bagian dari kehidupan istana, kehidupan kenegaraan. Dalam bulan Oktober 1981 beliau menyertai Pangeran Charles dalam kunjungan kenegaraannya ke Wales selama tiga hari. Dalam tahun 1983 bersama-sama berkunjung ke Australia dan Selandia Baru. Kemudian juga berkunjung ke Italia pada tahun 1985, dilanjutkan ke negeri lain seperti Brazil, India, Canada, Nigeria, Kamerun, Indonesia, Spanyol, Perancis, Portugis, dan Jepang. Pada tahun 1992 berkunjung ke Korea Selatan. Oleh karena pesona kecantikan dan kebeliaan, menjadikan beliau Putri di hati rakyat, Putri yang diimaginasikan sebagai mawar. Begitu mudahnya beliau mengambil hati banyak orang tanpa membedakan agama, suku bangsa dan ras.

Sejak awal pernikahannya telah baanyak menghadapi banyak permasalahan. Tahun 1996 Lady Diana dan Charles bercerai. Pangeran Charles sering terlibat skandal dengan pacar lamanya. Pangeran Charles jarang pulang ke istana tepat waktunya. Oleh karenanya Lady Diana sering mencari kepuasan hidup bersama pria lain. Setelah beberapa pisah ranjang, akhirnya Lady Diana memilih jalan cerai. Setelah bercerai beliau masih dianggap keluarga istana. Dia berkali-kali terlibat affair dengan beberapa orang terkenal. Pernah dengan seorang militeris Inggris, seorang dokter dari Pakistan. Beliau sampai akhir hidupnya menjalin hubungan dengan putra pengusaha kaya dari Timur Tengah, keluarga Al Fayed, yakni Dodi Al Fayed. Menurut investigasi Lady Diana meninggal dalam keadaan hamil. Setelah bercerai dengan Pangeran Charles, beliau menjadi semakin aktif dalam kegiatan-kegiatan amal. Sepanjang hidupnya diabdikan untuk kegiatan sosial, menolong anak-anak, tuna wisma, para penderita AIDS. Sampai pada tanggal 31 Agustus 1997, beliau masih bisa tersenyum pada dunia. Kecelakaan mobil telah merenggut nyawa Lady Diana dan Dodi Al Fayed yang diduga telah atau akan menikah.

Begitu tahu isterinya meninggal di sebuah rumah sakit di Paris, Pangeran Charles terbang dari Skotlandia ke Paris untuk mendampingi jazad isterinya ke Inggris. Lady Diana dimakamkan di Westminster Abbey 6 September 1997. Prosesi pemakaman yang disaksikan dan didoakan oleh 2,5 milyar manusia di dunia dalam agama Islam, Kristen, Katolik dan sebagainya melalui televisi. Lebih dari satu juta masyarakat memenuhi jalanan yang akan digunakan dalam prosesi pemakaman Putri Diana. Selamat Jalan Putri Diana. Semoga Anda senantiasa dalam kedamaian di alam sana.

Elton John mengabadikannya dalam bentuk lagu, “Candle in The Wind” yang dinyanyikan dalam acara ceremonial sebelum pemakaman.

Kecurigaan Lady Diana terhadap suaminya yang melakukan hubungan dengan pacarnya dulu, Camilia Parker ternyata baru terbukti akhir-akhir ini. Mereka berdua dengan beraninya menunjukkan kemesraan di depan publik. Kalau ada beberapa yang menyalahkan Lady Diana dalam hubungan mereka itu berarti kurang melihat bagaimana latarbelakangnya. Konon Lady Diana harus menderita penyakit bulimia (sering memuntahkan makanan yang telah ditelannya), berarti penyaktit mental akan berefek pada syaraf pencernaan. (ekosuryanti@yahoo.co.id)