Life Flowers


Seri Siasat kebudayaan : Perempuan dan Politik Tubuh Fantastis
August 23, 2007, 9:14 am
Filed under: Hello World | Tags:

Buku ini dieditori tiga perempuan : Arimbi, Sri Sulistyani, Indriaswati Dyah Saptaningrum dengan gawang 4 penulis pejuang hak-hak kaum perempuan di negeri ini, Rudiah Primariantari, Alberta Rika Pratiwi, Ilsa Nelwan, Gail Maria Hardy.

 

peremp2.jpg

Sepanjang sejarah peradaban dan kebudayaan manusia banyak sekali kasusu tentang keberdayaan dan ketidakberdayaan perempuan. Dari keratuan Ratu Simha, Ratu Elizabeth I, TribhuwanaTunggadewi, Margareth Tatcher yang menjadi adidaya pada zamannya, hingga ketidakberdayaan para TKW (pejuang devisa) yang nasibnya untung-untungan, para Jugun Ianfu yang menjadi budah kolonial, wanita-wanita di daerah jajahan Palestina, Bosnia dan sebagainya. Manusia yang tidak berhati adalah yang tidak terpanggil nuraninya.

Buku setebal 148 halaman, terbagi dalam 6 bab pokok pembicaraan, secara penampilan memang sangat menarik untuk dibaca. Pasti menjadi konotasi yang positif maupun negatif bagi para pembacanya.

Persoalan gender memang sangat menarik untuk dibahas dari sudut manapun, sosial, politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Perbedaan gender tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga faktor sosio kultural yang dalam hal ini meliputi lingkungan, adat istiadat, kondisi ekonomi, kondisi politik.

Faktor-faktor tersebut menjadikan pemilik tubuh dan sensualitas bukan laki-laki menjadi terbelenggu dan tereksploitasi oleh kepentingan pribadi maupun yang lain. Masyarakat modern menuntut tubuh sebagai mesin produksi.

Penulis buku ini menggunakan pendekatan sejarah- kultural. Rudiah Primariantari dalam “Negara Birokrat dan Ibu (Bapak) Pejabat” berpendapat bahwa usaha perempuan untuk berperan dalam lingkungan publik dimulai pada awal abad 20 dengan berdirinya putri mardiko tahun 1912, disusul oleh organisasi-organisasi yang lain. Usaha emansipasi itu terbias oleh kelompok politik. Mereka pada awalnya menjadi organisasi independent, tetapi lama-lama menjadi organisasi bayangan organisasi politik pria.

Alberta Rika Pratiwi mengungkapkan tentang kemungkinan pemberdayaan wanita melalui konsep kultural 3M (macak, manak, masak). Bagaimana agar konsep tersebut menjadi produktif dan menghasilkan keuntungan ekonomi. Keahlian masak seorang perempuan harus dijadikan alat untuk meningkatkan pendapatan negara dengan industri pangan, industri kuliner. Produksi makanan memberi untung yang lumayan. Keahlian merias harus dijadikan alat untuk menghasilkan uang. Kursus rias, kursus menjahit, kursus foto model telah terbukti mampu mengangkat harkat martabat orang. Lihat saja nasib para foto model dan peragawati semacam Thomas Djorghi, Gunawan, Nadhine Chandrawinata, Marchel Chandrawinata, Mischa Candrawinata, Ivan Gunawan, ratih sanggarwati, keluarga Haque, dan sebagainya. Lapangan ekonomi mereka semakin luas saja. Konsep manak juga harus dihubungkan dengan usaha kesehatan dalam keluarga. Dalam film Korea ditanyakan siapakah sebenarnya tabib paling hebat, pelayan paling hebat, ternyata jawabannya “Ibu”. Wanita sangat berperan dalam kesehatan keluarga.

Sementara itu Rudiah Primariantari cenderung melihat perempuan di lapangan publik. Pada masa pergerakan nasional muncul banyak organisasi wanita yang bersifat agamis dan nasionalis. Akhirnya organisasi-organisasi perempuan cenderung menjadi bias politik para pria.

Alberta Rika Pratiwi memberikan kritikan terhadap perilaku pola makan Ibu-Ibu yang tidak memperhatikan kebutuhan tubuhnya, padahal semakin industries seorang wanita, semakin banyak tuntutan akan makanan sehat. Mereka lebih suka fast food yang diolah dengan peralatan modern dan ditambah zat adiktif. Padahal mesin produksi wanita modern membutuhkan banyak makanan bergizi untuk menunjang vitalitas kerja.

Menurut Ilsa Nelwan, pengaruh adat tradisional dan situasi ekonomi mengakibatkan kesehatan para wanita ketika melahirkan berkurang. Ekonomi ini juga berpengaruh pada kesempatan para wanita dalam mengakses pengetahuan dengan mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Bias gender telah menyebabkan ketidakadilan dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi para wanita. “Surga di telapak kaki Ibu, mungkin….Tingginya angka kematian Ibu ketika melahirkan. kematian tersebut telah diakibatkan oleh keterbatasan informasi, pengetahuan, teknologi dan ekonomi modern dari warga yang bersangkutan. Rendahnya angka kesehatan reproduksi diakibatkan oleh rendahnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan pengetahuan. Hal tersebut terjadi turun temurun.

Perpaduan antara pengaruh adat tradisional dengan kondisi ekonomi telah berakibat pada rendahnya tingkat kesehatan Ibu dan anak, walaupun pemerintah telah mengambil kebijakan politis untuk mengantisipasi rendahnya angka kematian mereka, selain dengan peningkatan pelayanan kesehatan. Terjadi gab (jurang) antara petugas kesehatan dengan rendahnya kesadaran masyarakat dan wanita dalam persepsi dan intepretasi mereka tentang kesehatan masyarakat. Masyarakat biasanya kurang terkonstruk untuk menyiapkan kelahiran baik dari segi materi maupun non materi. Pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan tanpa diimbangi kesadaran pola hidup yang terkonstruk dari masyarakat karena bias gender.

Gail Maria Hardy dalam urainnya “Ketubuhan Perempuan dalam interaksi Sosial: Suatu Masalah dalam heterogenitas Kelomponkya” mengungkapkan kompleksitas masalah perempuan yang diakibatkan oleh heterogenitas kelompok. Di Indonesia permasalahan perempuan tidak lepas dari heterogenitas kelompok. Di Indonesia masalah tersebut diakibatkan oleh hubungan antara laki-laki dan perempuan yang lebih merupakan suatu hubungan hegemoni yang kurang seimbang dan tidak setara. Pihak yang satu berusaha mengubah kualitas hubungan dengan meningkatkan keberdayaannya, sedangkan pihak yang lain justru ingin mempertahankan status quonya agar hegemoni kekuasaan tetap berada di tangannya. Perbedaan gender antara lelaki dan perempuan tidak hanya disebabkan oleh faktor fisik dan biologis, tetapi juga psikologis/persepsi (menimbulkan karakter feminin dan maskulin). Feminitas sebagai pemegang hegemoni belum tentu tidak sukses. Perbedaan gender telah terkonstruk dalam masyarakat me4lalui sosialisasi dan enkulturasi, sehingga mengakibatkan diskriminasi dalam pembagian pekerjaan. dalam sektor domestik kecantikan dijadikan hadiah bagi seorang lelaki, tetapi sekarang kecantikan menjadi simbol aktualisasi diri, alat pertahanan diri, alat meningkatkan prestise sosial dan ekonomi. Jadi tidak benar juga kalau ada yang bilang Cantik itu luka. Karena dengan hanya kecantikan ternyata banyak orang lebih diterima dalam masyarakat. Banyak perempuan terpedaya oleh kelakuannya sendiri maupun diskriminasi gender itu sendiri. Banyak perempuan terpedaya oleh mitos kecantikan, sehingga rela membuang materi untuk beli produk kosmetik, menjadi korban promosi industri kecantikan.

Semakin rendahnya tingkat ekonomi dan status sosial masyarakat wanita, semakin rentan terhadap eksploitasi ketubuhan dan seksualitasnya. Mereka akan terkungkung dalam tugas-tugas domestik. suatu saat akan menjadikan seksualitas dan ketubuhan menjadi modal bisnis industri, jika dia berada dalam tingkat ketidakberdayaannya. Tingkat pemahaman perempuan terhadap jatidirinya, ketubuhannya, seksualitas berbeda-beda, sehingga jalannya pemberdayaan perempuan bersifat heterogen. Kontrol perempuan terhadap kapasitas dirinya tersebut akan menjadi alat pengendali untuk memperoleh otoritas dalam interaksi sosial dan otonomisasi dirinya.

Dengan membaca buku ini, kita akan terbuka terhadap kasus-kasus diskriminasi gender di dalam masayarakat. Dalam kasus pemberdayaan wanita harus ada kemitraan antara pemerintah, lingkungan masyarakat, dan yang bersangkutan. jangan-jangan yang diperjuangkan malah tidak mau tahu.

perempuan.jpgperemp4.jpg

Pemerintah perlu memberi kesempatan kepada para wanita untuk maju danmembebaskan diri dari prasangka-prasangka yang justru menjerumuskan wanita dalam isolasi gender. Pihak perempuan sendiri harus memahami dan menyadari kapasitas dan kekuatanya sehingga tidak menjadi alat. Peran wanita di tengah-tengah publik dan dalam tugas domestik harus seimbang.

 



Jangan “BETE” dong, ayo nulis
August 22, 2007, 4:17 am
Filed under: Hello World | Tags:

 

Apakah explorer website kita ini pernah membaca buku yang judulnya “Daripada Bete Nulis Aja” ? Saya kira itu hal yang penting dan pokok, berguna. Kita menjadi semangat untuk membiasakan diri hidup dengan tulis menulis. Setelah mempunyai semangat, seseorang diharapkan menjadi produktif untuk menulis tentang apa saja, bahkan hal-hal yang kecil yang jauh dari perhatian orang lain. Kadang-kadang orang lebih suka melihat daripada membuat. Mari kita mencoba untuk membuat atau menciptakan sebuah karya tulis.

 

Banyak orang-perempuan yang sukses karena menulis. Apa yang mereka pikirkan, yang mereka tuliskan, narasi analisis mereka akan pengalaman dan kehidupan ini telah dibaca jutaan manusia di dunia. Ini semua karena menulis. Dengan menulis, itu berarti kita telah bicara kepada dunia tentang banyak hal. Sebut saja banyak penulis besar dari zaman ke zaman, Agatha Christie, J.K. Rowling, Nawal el Sadawi, Kahlil Gibran, Titis, Avi Basuki, Jenar Maesa Ayu dan banyak sekali.

 

Agatha Christie spesialis novel detektif, Nawal el sadawi, penulis emansipasi wanita.

 

J.K. Rowling, penulis Harry Potter sudah menulis hal-hal yang spektakuler tetapi klasik. Dia berani membuat sendiri untuk dinikmati orang lain. Buku tebal berseri-seri itu laku keras di pasaran perbukuan dunia, hingga mengantarnya menjadi milyarder dunia. Hebat, semua berawal dari menulis. Dengan menulis orang bisa mengaktualisasikan dirinya, bisa mengisi waktu-waktu luangnya dengan hal-hal yang berguna dan bahkan bisa menghasilkan uang. Dengan mengirim tulisan ke sebuah surat kabar, majalah atau yang lainnya, orang bisa puas, bisa mengukir namanya di media, dan tentu saja mendapatkan imbalan.

 

RA Kartini berhasilpun berawal dari sering menulis surat kepada teman Belandanya. Jadilah kumpulan surat-suratnya itu menjadi habis Gelap terbitlah Terang.

 

Rieke Dyah Pitaloka (presenter dan artis), Heppy Salma (artis), Kelik PelipurLara (komedian) senang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku. Dengan menulis, orang bisa mengapresiasikan kemampuan dirinya, terangkat martabatnya.

 

Seorang anak SMPN Pakem mendapatkan honor menulisnya sebesar 300 ribu rupiah untuk sebuah cerita yang dibuatnya dan dikirim di Kompas Anak. Setiap artikel, foto-foto, cerita yang dikirim ke koran atau tabloid akan mendapat honor. Siapa tahu ada penerbit besar yang tertarik dengan tulisan-tulisan dan foto-foto itu sehingga mereka berniat menjual karya-karya kita dalam bentuk buku.

 

Menulis itu gampang-gampang sulit, perlu ketekunan dan tidak boleh mengenal putus asa. Suatu kesalahan harus dihadapi dengan kearifan. Penulis pemula mengalami kemandegan ide, tidak langsung dipublikasikan oleh media, itu lumrah.

 

Penulis pemula biasa mengalami sindrom takut salah, takut untuk memulai, tidak tahu bagaimana memulainya, malu kalau tidak di muat, takut tidak dihargai orang lain.

 

Bekal seorang penulis haruslah tekun membaca dan berlatih. Dengan membaca kita akan memiliki wawasan lebih luas, mudah menyelesaikan permasalahan, terlatih berpikir positif, dewasa, kreatif, sistematis.

 

Mari kita berkeyakinan bahwa :

 

Menulis dapat menaikkan martabat manusia, menulis itu bagian dari keindahan, menulis itu kewajiban, menulis itu mengasyikkan, menulis bisa mengundang rezeki bagi seseorang, sehingga bagi penggemar menulis akan terhindar dari kemiskinan, negara pun bisa tertolong dari segi ekonomi.

 

Berikut ini alamat beberapa media……..Yo menulis, jangan bete



Mempertaruhkan Nama Kota Harmoni
August 20, 2007, 9:20 am
Filed under: Hello World | Tags:

Apresiasi masyarakat Internasional terhadap Jogja yang tinggi menjadikan DIY sebagai pusat pariwisata kedua setelah Bali. Seorang mahasiswa Australia yang sedang belajar di Yogyakarta menyatakan bahwa dirinya menikmati harmoninya kota Yogyakarta. Kemudian seorang pemuda Timor Timur yang juga berstatus sebagai mahasiswa Australia juga sangat memuji wibawa Kesultanan Yogyakarta. Ada juga negarawan asing yang menjuluki Jogja adalah kota yesterday, today, and tomorrow. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya orang asing yang mau tinggal baik sementara ataupun menetap di Yogyakarta, baik itu orang Asia maupun non Asia…………….kota harmoni selengkapnya



Kuatkan Ketahanan Budaya
August 18, 2007, 7:38 am
Filed under: Hello World | Tags:

Realita historis telah membuktikan kesemestaan Yogyakarta bagi dunia, sehingga menjadikan kebudayaan Yogyakarta bukanlah kebudayaan Yogyakarta yang berdiri sendiri di negerinya, tetapi merupakan ramuan dari berbagai kebudayaan yang telah di-harmonisasi-kan ke dalam seluruh aspek kehidupan berbudaya di Yogyakarta. Yogyakarta, negeri yang di-design awal oleh ahli tata ruang dan ahli starategi perang, P. Mangkubumi ini telah meramu unsur-unsur budaya lain, yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk seni pertunjukan, seni rupa, bahasa, seni suara, seni sastra, adat istiadat, filosofi, seni bangunan, dan sebagainya.

Kontribusi Yogyakarta bagi semesta dapat dibuktikan dengan banyaknya atribut yang sengaja disematkan oleh para pecintanya, sebagai kota budaya, kota pendidikan, kota pariwisata, kota toleransi beragama. Yogyakarta merupakan “Taman Dunia” yang diumpamakan sebagai Kawah Candradimuka bagi banyak persona baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Di situs inilah berjumpa banyak pelajar dan mahasiswa dari seluruh penjuru dunia, juga wisatawan baik dari daerah lain maupun wisatawan mancanegara, antara lain : dari benua Asia, Australia, Amerika, Eropa dan Afrika. Mereka telah memboyong muatan budaya dari daerah dan negara asalnya. Oleh karenanya kontak budaya selalu terjadi, sehingga terjadilah imitasi dan akulturasi…………………..budaya lokal bersaing dengan budaya asing selengkapnya



Toegoe Poetih
August 16, 2007, 9:34 am
Filed under: Hello World | Tags:

Bila kita melihat peta Yogyakarta dari Gunung Merapi hingga Parangkusumo, maka kita akan melihat suatu garis simbolik filosofik yang memiliki menghubungkan. Gunung Merapi - Segara Kidul yang didesign oleh Panembahan Senopati, pendiri kerajaan Mataram. Dari Jalan Palagan Tentara Pelajar, Jl AM Sangaji, Jl. P Mangkubumi, Jl. Malioboro, hingga Laut Selatan. Di tengah-tengah kita melihat sebuah tugu, Wittepaal, yang berdiri di persimpangan jalan Jl. Sudirman - Jl. P. Diponegoro, Jl. AM Sangaji - Jl. Mangkubumi. tugu ini bersama “Panggung Krapyak” dan Monumen Yogya Kembali terletak pada satu garis lurus, seolah-olah merupakan poros makro kosmos antara Gunung Merapi dan Laut Selatan.

           Golong gilig mengandung makna spritual filosofik dan nilai historik. Pada waktu Panembahan Senapati bertapa di Parangkusuma dia bertemu dengan Ratu Kidul. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Setelah tiga hari di Segara Kidul, Panembahan Senopati menyatakan keinginannya untuk pulang. Dia diberi endog jagad oleh Ratu Kidul yang dibawanya untuk pulang. Setelah tiba di Mataram, endog itu hendak dimakannya, tetapi oleh Ki Juru Martani dilarang. Telur itupun diberikan kepada seorang juru taman. Setelah juru taman memakannya, dia berubah menjadi seorang denawa. Denawa itu diberi tugas oleh Panembahan Senopati untuk menjaga Gunung Merapi. Terbentuklah garis Segara Kidul - Gunung Merapi yang melambangkan sangkan paranin dumadi, hablun minallah atau manunggaling kawula gusti. Arah Parangkusuma - Gunung Merapi melambangkan filsafat dasar manunggaling kawula gusti kerajaan Mataram untuk memperjuangkan kesejahteraan duniawi raja dan rakyatnya berlandaskan spiritual keTuhanan.

                                                 Tugu Yogya (Tugu Golong Gilig) dibangun oleh Pangeran Mangkubumi (HB I), pendiri Kasultanan Ngayogyakarta untuk memperingati perjuangannya bersama rakyat, kesatupaduan dengan rakyat yang melawan kebatilan penjajah Belanda. Oleh karenanya tugu tersebut dinamakan tugu golong gilig. Tugu Yogya mempunyai ketinggian 25 m, dengan badan bangunan berbentuk silinder (gilig) dan puncaknya berbentuk bulat seperti bola terbuat dari batu bata. Diperkirakan tugu tersebut berdiri setahun sesudah Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755. Tugu itu sebagai tugu pandangan pada saat Sultan duduk di atas singgasananya di Bangsal Mangunturtangkil serta sebagai petunjuk bagi masyarakat yang mau menghadap ke Sultan. Tugu golong gilig tidak bisa disaksikan lagi, karena 10 Juni 1867 roboh terbagi tiga dikarenakan gempa besar menguncang Yogyakarta. Pada tahun 1889, pemerintah Hindia Belanda membangun kembali bentuk baru. Pada tugu tersebut tidak tampak golong gilig yang menyatupadukan rakyat dan raja, tetapi lebih sebagai gerbang kesejahteraan yang dipersembahkan untuk Pamong Praja dengan candrasengkala wiwara harja manggala praja. TGG berubah menjadi monumen untuk menegakkan devide et impera Belanda. Pada tahun 1942 Hindia Belanda diduduki oleh Jepang dan pada tahun 1945 diproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun itu juga Sultan HB IX dan Adipati Paku Alam VIII menyatakan Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alam sebagai bagian dari NKRI. Atas undangan Sultan HB IX Pemerintah RI pindah ke Yogyakarta. Pada tahun 1948 Yogyakarta diduduki Belanda, serta Presiden dan Wakil Presiden ditawan oleh Belanda. Sultan HB IX meneruskan perjuangan melawan Belanda bersama rakyat dengan semangat golong gilig. Kraton digunakannya sebagai sebuah markas gerilya. Pada tahun 1949 kemerdekaan Indonesia diakui oleh Belanda. Sultan HB X memimpin pengunduran diri pasukan Belanda dari dan masuknya pasukan gerilya ke Yogyakarta. Pemerintah RI dipulihkan dan pindah kembali ke Jakarta. Era Sultan HB X merupakan babak baru golong gilig. Di era ini Sultan HB X tidak menjadi panglima perang melawan Belanda, tetapi perang melawan kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan dengan semangat golong gilig.

      Menurut Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam bahasa Jawa konsep raja ialah gung binathara. Pada satu sisi raja mempunyai kekuasaan yang besar. Ia adalah gung binathara, bau dendha nyakrawati. Kekuasaannya laksana dewa. Ia adalah pemegang hukum dan penguasa dunia. Pada pihak lain ia mempunyai kewajiban yang besar dan berat. Ia harus bersifat dan bertindak berbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta. Ia suka memberi dan berkewajiban untuk konsisten melaksanakan apa yang dikatakannya, bersifat adil terhadap semua golongan rakyat serta pandai mendahulukan yang harus didahulukan. Raja harus dapat berlaku seimbang antara hak dan kewajiban. Kekuasaanya didasarkan pada budi luhur dan sifat adil.

           Filsafat dasar pemerintahan raja Mataram ialah hamemayu hayuning bawana. Secara harfiah filsafat itu mempunyai arti “membuat dunia ayu”. Ayu tidak hanya dalam arti fisik, melainkan juga rahayu yang bermakna selamat sejahtera lahir dan batin. Bawana adalah jagad, sehingga filsafat ini mengandung pula arti global. Dengan lain perkataan pembangunan DIY berusaha untuk memberi sumbangan pada usaha menyelamatkan lingkungan hidup nasional dan global yang berarti pula menyumbang pada usaha menyelamatkan kemanusiaan (humanity) di seantero bumi ini.

Gelar Hamengku Buwono mengandung arti :

  • hamangku (lebih banyak memberi daripada menerima);

  • hamengku (menjaga dan mengayomi rakyat , hangrengkuh/ngemong, yang bermakna ambeg adil paramarta, berlaku adil dan pandai mendahulukan yang harus didahulukan.

  • hamengkoni : kepemimpinan dengan memberi tauladan (hing ngarsa sung tuladha).

Pemimpin yang hamangku mempunyai sikap rela dan ikhlas untuk melayani masyarakat. Ia adalah abdi rakyat. Ia bersifat berbudi, yaitu suka memberi, khususnya kepada rakyat miskin dan yang mengalami kesusahan.

Ratu (pemimpin) :

  • dana boga wong kaluwen, sedekah makan kepada yang kelaparan;

  • dana sandang wong kawudhan, sedekah pakaian kepada yang tak punya pakaian;

  • dana kudhung wong kepanasan, sedekah topi kepada yang kepanasan;

  • dana payung wong kudanan, sedekah payung kepada yang kehujanan;

  • dana teken wong kalunyon, sedekah alat jalan kepada yang butuh pertolongan.



Mengelola Kekayaan Budaya Kita
August 15, 2007, 4:44 am
Filed under: Hello World | Tags:

KONDISI UMUM KEKAYAAN BUDAYA DIY

A. KONDISI BUDAYA DI DIY

Kebudayaan Yogyakarta dapat didefinisikan sebagai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di DIY berakarkan kebudayaan lama dana asli serta sebagai hasil interaksi dari kebudayaan lain sebagai pelengkap, pemerkaya, dan penyempurna. Adapun aset budaya yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi budaya yang bersifat tangible (fisik) dan intangible (non fisik).

1. Kondisi Budaya Tangible (Fisik)

a. Kondisi Sejarah dan Kepurbakalaan

Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi budaya fisik “Tangible Culture” terdiri dari Kawasan Cagar Budaya. Benda Cagar Budaya bergerak dan tidak bergerak, museum dan pusaka budaya lain (Saujana)……..potensi daya saing budaya Yogyakarta selengkapnya



Dialog Budaya dan Gelar Seni Seri-2: “Yogya Untuk Semesta”
August 12, 2007, 7:51 am
Filed under: Hello World, Yogya Semesta | Tags:

“Sadumuk Bathuk, Sanyari Bumi: Semangat Nasionalisme Indonesia Masakini”

Pada Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-1 dalam Babad Giyanti, tertangkap ucapan Pangeran Mangkubumi: “Sadumuk bathuk, sanyari bumi, den lakoni taker pati, pecahing dada wutahing ludira” dalam dialognya dengan Sri Susuhunan Paku Buwono II. Ungkapan tersebut sebenarnya secara tersirat ingin menegaskan bahwa kehormatan atau harga diri dan tanah (air) bagi orang Jawa merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan orang pun sanggup membelanya dengan taruhan nyawa. Sentuhan di dahi oleh orang lain bagi orang Jawa dapat dianggap sebagai penghinaan. Demikian pula penyerobotan atas kepemilikan tanah walaupun luasnya hanya selebar satu jari tangan pun. TriSakti Jiwa Proklamasi

 

Khusus dalam topik ini yang dituju adalah aktualisasinya pada semangat ……………. Selengkapnya di HD_Yogya Semesta tributed by Mr. Hary Dendi



Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-1
August 1, 2007, 6:53 am
Filed under: Hello World, Yogya Semesta | Tags:

Yogya Untuk Semesta, Babad Giyanti: Makna & Aktualisasi

Di alam globalisasi di mana hubungan komunikasi dan pergaulan dunia seakan tanpa batas (borderless), jelas membuka peluang terjadinya proses akulturasi. Jika proses akulturasi akhirnya menghasilkan dominasi kebudayaan asing, berarti memusnahkan local genius. Ini tidak lain adalah pendangkalan budaya, yang tidak mustahil bermuara pada kehancuran budaya-budaya lokal, yang berakibat hilangnya jatidiri suatu bangsa atau etnik. Sebaliknya akulturasi yang membuahkan integrasi, tatkala budaya lokal mampu menyerap unsur-unsur budaya asing justru untuk memperkokoh budaya lokal, berarti menambah daya tahan serta mengembangkan identitas budaya masyarakat setempat………….. HD_Yogya Semesta 1 Tributed by Mr Hary Dendi