Guna mewujudkan DIY sebagai Ibukota Buku Dunia diperlukan peningkatan partisipasi dari semua pihak, dari tingkat kota, nasional, regional, dan internasional; dampak potensi positif dari program yang dilaksanakan; ruang lingkup dan kualitas kegiatan yang diajukan oleh kota-kota calon; termasuk sejauh mana mereka melibatkan penulis, penerbit, toko buku, dan perpustakaan; kegiatan lain dalam rangka mempromosikan buku dan kegiatan membaca; kebebasan berekspresi yang bertanggungjawab. Selain itu, diperlukan suatu kondisi masyarakat dengan budaya baca sebagai aktualisasi budaya belajar yang telah mendarah daging di dalam masyarakat. Sebenarnya minat baca masyarakat Yogyakarta sudah meningkat, tetapi cenderung tidak merata, karena jangkauannya terbatas dan pertumbuhannya kecil. Sementara itu lambat laun budaya baca dan belajar akan tergusur oleh budaya menonton…….Baca selengkapnya di Yogya menjadi Ibu Kota Buku Dunia ???
NAPZA (Narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak / susunan syaraf pusat, sehingga menyebankan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan dan ketergantungan.Banyak orang-orang berpotensi dalam meningkatkan kualitas hidupnya justru tenggelam dalam rayuan maut NAPZA. Apa tidak takut dengan karir yang cemerlang, wajah menjadi kelihatan sangat tua, mata tidak ada cahaya kehidupan. Sebut saja Revaldo, Gogon, Fariz RM, Roy Marten, Paul, bahkan ada yang sudah dibunuh oleh NAPZA, seperti Alda. Akan tetapi kasus-kasus tersebut masih kurang menyadarkan masyarakat.
Kasus demi kasus terjadi di kalangan selebritis, tetapi itu tidak menjadi cambuk.
Yogyakarta menjadi salah satu kota yang memiliki banyak SDM generasi muda. Kota pelajar, kota budaya, kota wisata telah lama pula disandang. Predikat tersebut semestinya dipertahankan hingga di zaman globalisasi nanti. Banyak sekali kemudahan bagi para perantau yang ingin tinggal di kota Yogyakarta ini, standard kehidupan yang murah, asrama-asrama, tempat kost-kostan.
Berjibunnya pendatang-pendatang yang semakin memadati kota Yogyakarta memberikan banyak dampak ekonomi, tetapi juga bisa menjadi bumerang, termasuk di dalamnya perdagangan narkoba. Nafza akan menenggelamkan kota ini, apabila tidak ada usaha-usaha pencegahan dan penyelamatan. Perlu ada bimbingan dan pengarahan dari Polisi, Pemda, Guru-guru tentang NAPZA ini sebelum mencengkeram kehidupan generasi muda Yogyakarta. Sosialisasi bisa melalui pemasukan materi tentang napza ke dalam buku-buku pelajaran. Pengawasan dari ortu juga perlu diperketat lagi untuk urusan drug ini, karena begitu ketahuan sulit mengembalikan generasi muda ke dalam dunia yang indah. Anak muda harus sadar dan mengerti tentang NAPZA agar bisa menjaga diri.
NAPZA semakin merajalela. Jenis-Jenis NAPZA yang sering disalahgunakan : 1. Narkotika adalah zat atau obat yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Keterangan lebih lanjut mengenai NAPZA dan penanganan di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dilihat pada NAPZA, tributed by Dr Widya, RS GRASIA
Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-4: “Yogya Untuk Semesta”:
Topik
DENGAN SERAT-SERAT BUDAYA NUSANTARA, MEMBANGUN INDONESIA BERSATU
“Rukun agawe Sentosa, Crah agawe Bubrah“
–Kearifan Jawa
“ACEH harus tetap dengan Indonesia, jika tidak kita telah mengingkari sejarah“, demikian kata Makmun Daud Beureueh, putra tokoh besar rakyat Aceh (Republika, 21 Agustus 1999). Ini adalah pikiran filsafat yang sangat dalam –pikiran yang mencerminkan kemurnian suara hati etnik Aceh– tetapi juga gambaran suara hati dan ketulusan dari banyak etnik lainnya [1].
Dr. Hasballah M. Saad, tokoh masyarakat Aceh yang lain, mengatakan: “suku-suku bangsa yang bergabung membentuk negara Indonesia justru menjadi korban pemaksaan, bukannya memperoleh kesempatan mengaktualisasikan diri“. Hal senada disampaikan pula oleh SP Morin, tokoh masyarakat Papua, yang menyatakan: “Ibarat sudah kawin paksa, istri dipukuli terus. Itu yang menyebabkan munculnya pemikiran lebih baik merdeka saja” (Kompas, 23 Agustus 1999). Demikianlah, kira-kira suasana hati banyak kalangan masyarakat di daerah, yang pada intinya menuntut ditegakkannya keadilan dan kebenaran, kesetaraan dan demokrasi serta kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia, yang kemudian melatarbelakangi ancaman disintegrasi bangsa yang memicu gerakan separatisme…………………HD_Yogya Semesta 4
[1] U. Ginting, “Otonomi Daerah”, Masyarakat Transparansi Indonesia, 3 Oktober 1999.
“AKTUALISASI NILAI-NILAI PANCASILA”
MENURUT dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat, Kaitjoo “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” atau Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Sidang-Sidang BPUPKIBeginsel Negara”. Dalam pidatonya yang menggelegar bak halilintar, Bung Karno menawarkan Pantja Sila sebagai Dasar Negara, yang selain disebut “Weltanschauung”, juga dimaknai sebagai “Philosofische grondslag” seperti cuplikan kata-kata di bawah ini. diagendakan untuk mencari “Dasar” atau ”Pantja Sila adalah philosofische grondslag, itulah pondamen, filsafat, pikiran, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka. . .”
Meminjam istilah filsuf Rousseau, Onghokham berpendapat, Pancasila adalah ’dokumen politik’ sebagai ’kontrak sosial’, kompromi tentang asas-asas negara baru, seperti Magna Carta di Inggris, Bill of Rights di Amerika Serikat dan Droit del’homme di Perancis. Selanjutnya mengutip pendapat Eric Hoffer (Riggs, 1994), Pancasila sebagai ideologi adalah motor penggerak masyarakat, sekaligus landasan persatuan dan kesatuan untuk merespons dinamika perubahan sosial………..Lihat selengkapnya di HD_Yogya Semesta Tributed by Mr Hary Dendi
Bakda sholat Asar dari mushola Al-Adab, masjid yang hampir sama dengan nama dosen, Pak Adaby, Titis bersama-sama dengan Paulina segera menuju Galeri Pak Koen yang letaknya cukup jauh dari lingkungan kampus. Mereka harus naik angkutan dua kali untuk menuju ke sana. Dari kampus mereka naik colt yang menuju Jalan Kaliurang. Di perempatan Ngasem mereka harus berganti colt kuning. Berkali-kali Paulina mengeluh karena kaki-kakinya tidak bisa relaks. Tempat duduknya terlalu pendek baginya. Pinggangnya diputar ke sana ke mari untuk menghilangkan pegalnya. Tak lama kemudian mereka sampai di gang yang menuju joglo galeri Pak Koen. Anak-anak kecil sudah melambai-lambaikan tangannya pada Paulina. Betul-betul Paulina selalu menjadi bintang kampung. Padahal kenal juga enggak, tetapi pamor Paulina begitu besar untuk menarik perhatian anak-anak seusia mereka. Titis tidak perlu rendah diri karena citra-citra palsu tersebut.
Pak Koen sendiri tidak menyangka kalau hari itu dia akan bertemu dengan buah hati yang dirindukannya selama bertahun-tahun. Seperti biasanya dia sedang mengajar anak-anak kampung tentang teknik lukis batik tingkat dasar. Terus terang itu tentu tidak mudah dan rugi waktu dan bayarannya tidak sebesar hasil penjualan lukisan batiknya.
“Wisnu goresannya yang agak lembut, jangan terlalu kasar, nanti akan mempengaruhi hasilnya, coba lihat cara megang cantingnya, yang betul megangnya……….”
“Iya, Pak Koen, tangan saya agak sulit memegang seperti itu. saya di sekolah juga memegang pensil seperti itu, Bu Guru kadang-kadang sampai marah-marah………..”
“Cobalah, Wisnu. Hm, Harnas, kamu juga masang kainnya jangan asal-asalan. Bagusnya kaya Banyu itu…….” kata Pak Koen sambil menunjuk hasil kerja Banyu.
Ketika Pak Koen sedang asyik-asyiknya mengajar, Paulina dan Titis nongol dari sebuah gang. Kedua-duanya sedang memegang punggung dan kaki mereka yang pegal-pegal. Langsung saja mereka duduk di atas kursi taman menunggu Pak Koen selesai mengajar anak-anak, sambil melepas lelah. Kebetulan di depan kursi taman ada pancuran. Dasar udara sore itu masih terasa panas, mereka langsung berebutan membasuh muka mereka dengan air.
“Segarnya, Tis, tapi haus juga, wah…………..”
Mendengar suara air yang terpecah, Pak Koen segera menoleh, langsung beliau teriak, “Hei, Paulin dan Titis, ayo masuk saja, tunggu di ruang pamer, tapi jangan coba nyuri lukisan saya, salah satu hilang saja, sudah pasti kalian yang bertanggung jawab……..”. Tangan Pak Koen terus menjentikkan jarinya mengisyaratkan agar kedua cewek tersebut segera masuk. Titis dan Paulina segera saja melepas sepatu sambil menutup hidup masing-masing karena sadar diri sepatunya sudah bau.
Begitu selesai mengajar, Pak Koen segera mendekati dua cewek tadi, Paulina dan Titis. Titis merupakan salah satu tutor bahasa Indonesia pada program studi bahasa budaya Indonesia di kampus, kebetulan Paulina menjadi salah satu peserta program studi tersebut.
“Tumben, perasaan hari ini tidak ada jadwal kuliah praktek seni, kok datang ke sini, ada perlu apa? Apa mau beli lukisan batik, pilih saja, nanti tinggal bayar….”
“Aduh, Bapak bisa saja, begini lho Pak, maksud saya datang ke sini karena saya ingin memohon kesediaan Bapak untuk membantu saya dalam penyusunan proposal skripsi saya………”
“E loh, hubungan skripsimu dengan Pak Koen apa, mbok yang lain to….”
“Begini lho Pak, saya kan berencana menulis tentang sejarah seni rupa di Jawa dari periode klasik hingga kontemporer. Untuk yang klasik mungkin saya bisa cari di sumber-sumber lain, tetapi untuk yang kontemporer saya harus nanya-nanya pada Bapak, mungkin Bapak bisa mbantu saya, mbantu lho Pak, jadi gratis, boleh enggak Pak………”
“Enggak, boleh, kalau minta tolong sama Pak Koen, apalagi skripsi harus mbayar, kalau nggak gitu nggak mau…….”
“Ya, sudah, saya cari yang lainnya saja Pak, yang kira-kira bisa mbantu saya tanpa upah,……….”
“Waduh-waduh, ngambeg ni ye, Om Koen cuma bercanda, datang saja ke sini, kapan-kapan…….Jangan hari Sabtu lo!”
“Wooo, apel ya Pak ketemu cewek nih…..”
“Huss, sama orang tua kok gitu, bukan, bukan, hari Sabtu - Minggu mau istirahat, capek, tiap hari kerja. Kalau Paulina mau minta bantuan apa nih?”
“Enggak, saya hanya ingin menemani Titis, sambil lihat keindahan kampung Bapak….” jawab Paulina sambil tersenyum. Senyum Paulina mengingatkannya pada Diana.
“Jangan senyum-senyum gitu, Bapak jadi ingat isteri Bapak yang ada di …………”. Belum selesai Pak Koen bicara, ada mobil datang. Seorang cowok ganteng keluar dari situ dan menutup pintu mobilnya dengan keras sehingga mengejutkan semua yang mendengarnya. “Tunggu di sini dulu, atau mau lihat-lihat pemandanan di sekitar, boleh, sana, kayaknya mau ada tamu, orang edan….” kata Pak Koen sambil bergegas menuju pintu depan. Paulina dan Titis duduk-duduk sebentar di situ, kemudian mengelilingi pekarangan galeri Pak Koen.
“Mas, kalau nutup pintu mobil jangan keras-keras, bisa ngrusak gendang telinga, ” kata Pak Koen, tetapi begitu tahu kalau yang datang Kuncoro, pengusaha muda yang biasa membeli lukisannya, dia hanya tertawa ngakak, “O, alah wong edan, sengaja mau menghebohkan galeriku apa, baru saja yang gempil karena gempa disuntik sama tukangku, mau apa Kun….”
“Sorry Om, pintu mobilku itu kalau nggak keras-keras nutupnya, nggak bisa nutup rapat, baru mau kuserviskan,…….”
“Saking sibuknya apa, sampai tidak sempat nyervis mobil, lagian itu mobil bagus, lha kok malah bercat debu, ha mbok nyuruh orang nyuci dan nyerviskan ke bengkel, apa nggak percaya orang, ………..Ya, sudah, ngomong-ngomong sudah lama kamu nggak ke sini, tumben ke sini, mau cari cewek atau lukisan nih…”
“Mungkin saya terlalu sibuk, kebetulan saya butuh lukisan batik yang dipadu kaligrafi, ke mana-mana saya cari, yang unik itu sulit, ya udah saya mampir ke sini…….. Oh ya Om kemarin dulu itu ada bule yang datang ke rumah saya, katanya rumah yang saya pakai itu dulu rumah Bapaknya, saya kan nggak ngerti, nama Kuncoro itu kan banyak…………Setahu saya rumah itu ya Bapak saya, jadi saya tidak begitu tahu sejarahnya…….”
“Kita itu sekian lama menjadi kolega, tapi kok ya nggak tau satu sama lain, rumahmu yang mana to, ………..”
“Memangnya saya nggak pernah cerita, rumah saya di Jalan P. Mangkubumi, saya nggak tau dulu itu rumah siapa, …………”
“Om, dulu juga rumahnya di Jalan P. Mangkubumi, tetapi lihat saja sekarang ini sudah dipenuhi production house, akhirnya Om membeli di daerah sekitar sini…………………”
“Jangan-jangan itu anaknya Om Koen, tapi bule itu bilang kalau Bapaknya bernama Koencoro, Ibunya Diana dan sekarang tinggal di Geelong……..dia saya mintai kartu nama saja nggak mau, atau sudah dikasih cuma pembantu saya cuma nggak mau ngasih ke saya, karena pembantu saya itu senang lihat bule, jadi dikasih kartu namanya saja sudah senang……..gu ernya gede banget, kalau bule itu datang gigi emasnya selalu diperlihatkan, cengar-cengir,………..”
“Sempat-sempatnya lihat gigi emasnya pembantunya, lihat cewek cantik malah lupa……….”
Kuncoro mengalihkan pembicaraan, “Mana Om, punya enggak lukisan batik yang dipadu kaligrafi,…….”
“Ada, kamu kan harus lihat dulu barangnya, ayo kutunjukkan, sambil lihat yang lainnya, siapa tahu tertarik dengan motif lainnya….” Tangan Pak Koen mengisyaratkan agar Kuncoro mengikutinya.
Kuncoro sibuk mengamati hasil lukisan Pak Koen. Pak Koen menemani calon pelanggannya itu dengan baik. Tiba-tiba di taman terdengar suara cewek-cewek bercanda. Rupanya Paulina dan Titis sedang mengganggu kucing Persia yang sedang ikut main di taman. Konsentrasi Kuncoro terpecah, dia berusaha mencari sumber suara.
“He, wo, rupanya kamu lagi, ngapain di sini, cewek tertawa kok keras-keras, nggak sopan, ha…ha…ha…he..he..he, ngapain ke sini, cari Bapak lagi, po, anggap saja semua Bapak di Jogja itu Bapak kamu………..”
“Huss, Kuncoro, Kuncoro, kamu itu keterlaluan,……..Paulina,Titis ke sini ikut ngobrol” Pak Koen melambaikan tangannya ke arah Paulina dan Titis, “Kucingnya bawa ke sini……”
“Kok bule itu bisa sampai ke sini, Om. Bule itu gila Om, masak saya dikira Bapaknya, mentang-mentang nama Bapaknya hampir sama dengan saya…”
Mendengar ocehan Kuncoro itu Pak Koen mulai menyadari kemungkinan besar bahwa yang dicari Paulina adalah dirinya.
“Paulina, duduk sini, dekat Bapak,” kata Pak Koen dengan lembut sambil merangkul Paulina. Kuncoro hanya menebalkan bibirnya meledekin dua cewek itu.
“Benarkah Paulina mencari Bapak Paulina, kenapa apa pentingnya Bapak bagimu, kamu kan lahir di Barat, di sana anak seusia kamu mungkin sudah lepas dari ikatan-ikatan kekeluargaan…”
“Ya penting, Mister, saya ingin merasakan kasih sayang Bapak saya yang sejak kecil saya rindukan, apalagi saya tahu Bapak saya asli Indonesia, saya bangga punya Bapak Indonesia…..”
“Lalu, kalau boleh saya tahu, dan boleh saya bantu, kamu bisa memberikan bukti kalau memang kamu punya Bapak Kuncoro…….”
“Iya, pasti, Mister, saya selalu membawa diary Ibu saya..ini foto Ibu saya, Diana, dan ini foto Nenek saya, dan ini surat terakhir dari Bapak saya, Koencoro………”
Pak Koen dengan serius melihat dan membuka-buka diary isterinya. Bagaimana tulisan isterinya yang latin, bagaimana tanda tangannya, bahkan surat Pak Koen yang pernah ditulis untuk isterinya. Pak Koen tersenyum, tetapi airmatanya menetes pelan-pelan. Akhirnya yang dia rindukan datang di depannya. Segala tirakat dan doanya diterima Tuhan.
“Rupanya Pak Koen kenal dengan Bapaknya Paulina, karena Paulina memang anaknya Bapak, sebenarnya nama Bapak itu Koencoro, cuman suka dipanggil Pak Koen atau pak Uban, karena rambut Bapak berwarna putih, nggak tahu kenapa rambut Bapak begitu cepatnya memutih. Paulina, izinkan Bapak memelukmu, please, my daughter, for long-long time I miss you, how about your mother if she know you with me here…….” Pak Koen memeluk Paulina, Paulina agak ragu dengan Pak Koen, tetapi Titis berusaha meyakinkannya bahwa Pak Koen memang Ayah kandung Paulina.
“Father, I miss you, Oh God, thank a lot of………Dad, mom belum menikah sampai sekarang, percayalah Dad, dia masih mencintaimu, ini saya kan menelepon dari sini……….”
Jari-jari Paulina menekan tombol-tombol handphonenya…..”Come on Mom,…….”
“Hello, Paulina, my dear daughter, ada apa ? Ada masalah di sana ?”
“Mom, Paulina punya kejutan buat Mama, nih dengar siapa ini, Ayo siapa ?” kata Paulina sambil memberikan hp-nya kepada Pak Koen.
Pak Koen agak ragu juga meladeni kemauan putri yang dirindukannya itu.
“Hello, hello, Paulina…”
“Diana, my dear, masih seperti dulu, masih ingat Koencoro……..”
“Who, Koencoro, really, really, how are you ? Really Kuncoro?”
“Of course, Diana, could you come here, are your mother still like a wild lion…..”
“Yes, she is, but I don’t care, wait me at Jogja airport……..I will come there, wait me……..”
![]()
Pak Koen dan Diana bagaikan menemukan dunianya kembali, entah ini cinta untuk pandangan yang ke berapa. Paulina segera memeluk Bapaknya erat-erat, kemudian memeluk Titis, “Titis, you are my best friend, you have helped my Indonesian, you also help me to meet my father, thank you so much……” Pak Koen dan Paulina memeluk erat-erat Titis.
(The end)
From : www.ekosuryanti.blogsome.com