Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-4: “Yogya Untuk Semesta”:
Topik
DENGAN SERAT-SERAT BUDAYA NUSANTARA, MEMBANGUN INDONESIA BERSATU
“Rukun agawe Sentosa, Crah agawe Bubrah“
–Kearifan Jawa
“ACEH harus tetap dengan Indonesia, jika tidak kita telah mengingkari sejarah“, demikian kata Makmun Daud Beureueh, putra tokoh besar rakyat Aceh (Republika, 21 Agustus 1999). Ini adalah pikiran filsafat yang sangat dalam –pikiran yang mencerminkan kemurnian suara hati etnik Aceh– tetapi juga gambaran suara hati dan ketulusan dari banyak etnik lainnya [1].
Dr. Hasballah M. Saad, tokoh masyarakat Aceh yang lain, mengatakan: “suku-suku bangsa yang bergabung membentuk negara Indonesia justru menjadi korban pemaksaan, bukannya memperoleh kesempatan mengaktualisasikan diri“. Hal senada disampaikan pula oleh SP Morin, tokoh masyarakat Papua, yang menyatakan: “Ibarat sudah kawin paksa, istri dipukuli terus. Itu yang menyebabkan munculnya pemikiran lebih baik merdeka saja” (Kompas, 23 Agustus 1999). Demikianlah, kira-kira suasana hati banyak kalangan masyarakat di daerah, yang pada intinya menuntut ditegakkannya keadilan dan kebenaran, kesetaraan dan demokrasi serta kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia, yang kemudian melatarbelakangi ancaman disintegrasi bangsa yang memicu gerakan separatisme…………………HD_Yogya Semesta 4
[1] U. Ginting, “Otonomi Daerah”, Masyarakat Transparansi Indonesia, 3 Oktober 1999.