Heroes Message
1. Pesan Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang :
” Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa, kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan, tidak akan terperosok hidupnya, dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup, karena Tuhan akan selalu menuntun dan melimpahkan anugrahNya yang tiada ternilai harganya”
(Disampaikan pada saat Nyi Ageng Serang mendengarkan keluhan keprihatinan para pengikut/rakyatnya akibat perlakuan kaum penjajah)

Translate :
Message from Indonesia National Hero, Lady ( Nyi ) Ageng Serang, from Central Java (Islamic Mataram Kingdom)
“For soul safety and tranquility, we must bring ourself closer to our Supreme God, people who bring ourself closer to God, they will never sink in bad life, and will not be afraid be up against many difficulties of life, because God will always guide and shower us with blessing, property which is really valuable in life….”
(more…)
Republic of Indonesia and Ngayogyakarta Kingdom
Yogyakarta have many tittles, it is center of culture, center of education, center of independence struggle, center of tourism destination, gudeg city, silver city, history city, harmony city, classic city, batik city. If Yogyakarta become A special region, it is not many reason again. Ngayogyakarta Kingdom have relationship with Republic of Indonesia. When it was national movement area, it was born Wahidin Sudirhusodo, Yogyakarta son, who have inisiative to collect the youth from other region to attack colonializm in Indonesia. He advised to Mr Sutomo to established Budi Utomo, a first national movement organization. The first congres of Budi Utomo was holding in Yogyakarta (Budi Utomo Building was aristocrat school, now Senior High School 11). After establishing of Budi Utomo, many organization born.

Many colleges, academy, university, school was established here, that interested many people in Indonesia to send their sons or daughter to study here. Yogyakarta is kawah candradimuka for many people in Indonesia.

On August 17th, 1945 Indonesian nation proclaimed their Independence Day. After during about three hundreds and fifty years colonialized by Dutch Government, they can enjoy freedom. Ir. Soekarno and Drs. Moh. Hatta was reading proclamation text on Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
(more…)
Child Or Kid in Javanese Tradition
In Javanese tradition we find manythings that details, sakral/pure and mistical. They all become culture heritage for Java (Yogyakarta and Solo specially). In Javanese tradition if many parents have some children with kinds such as below, they must be do a ceremony, is named ruwatan. They must take a bath with rose, jasmine flower and 5 kinds of colours again (seven colours flowers or a park flower). But they can’t do it themself, they need a man who know other world that can’t be looked by our eyes, but just with eyes of mind and heart (is like six sense). In ruwatan tradition they also include wayang shows. So, the ruwatan tradition are held together puppet shows.

(more…)
Ring Road Utara 2
Ringroad meninggalkan banyak cerita bagi yang tinggal di sekitar sana. Dia membelah banyak kampung, sehingga membagi pula lingkungan sekitarnya.
Gb. jembatan dan hutan Nandan. Konon jembatan tersebut sangat tidak aman, tempatnya sepi, banyak gali, tetapi dengan kemajuan teknologi penerangan, semakin padatnya lokasi tersebut, jalan terebut aman-aman saja.
Banyak permainan tradisional berhasil saya mainkan waktu itu. Permainan yang paling membuat saya menangis adalah sepak sekong. Permainan sepak sekong dimainkan sekelompok orang anak, lebih banyak lebih ramai. Setelah beberapa anak hompimpah (hompimpah alahiyong gambreng) dan pingsut, yang menang pingsut harus menendang bola sedangkan yang lain bisa siap-siap sembunyi terlebih dahulu. Konon pada zaman sebelum saya bila sembunyi ada yang sampai sejauh 2 kilometer. Kadang-kadang yang jaga bola suka membawa bolanya sambil mencari teman-temannya. Yang paling beruntung yang berhasil sembunyi tanpa bisa ditemukan teman-temannya. Biasanya kalau penjaga sudah tidak sanggup untuk menemukannya, terus si penjaga bilang, “thit” semuanya memanggil teman yang sembunyinya aman tadi. Kalau yang sering menjaga biasanya ada beberapa anak yang sengaja ingin ngongking agar yang jaga anak itu terus. Si anak yang jaga terus bisa curang dengan pulang ke rumah duluan, atau mungkin menangis karena sudah tidak tahan lagi tidak pernah dapat giliran untuk bersembunyi. Untuk menyiasatinya agar tidak ada kongking-kongkingan, setiap lima ronde permainan, permainan dimulai dari awal untuk mencari penjaga berikutnya, atau dengan renteng pete.
(more…)
Mencari Jiwa Ksatria
Oleh : Romo H.R.M. Tirun Marwito Jatiningrat, S.H.
(Artikel ini telah disampaikan dalam Diskusi Kebudayaan yang diselenggarakan oleh BAPEDA Provinsi DIY, 15 September 2005)
Kalau kita membicarakan soal budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebenarnya kita pertama-tama harus menyamakan kesamaan pandangan kita bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta tidak bisa dipisahkan keberadaannya dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang sudah menjadi kodrat sesuai dengan jalannya sejarah. Budaya Ngayogyakarta Hadiningrat adalah budaya Jawa dimana Kraton sebagai pusatnya. Budaya Ngayogyakarta Hadiningrat yang sebenarnya tidak dibatasi dengan Ngayogyakarta secara administrasi seperti sekarang ini, sebagai batas pemerintahan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang malahan mungkin dianggap tidak termasuk daerah otonomi kabupaten atau kota seperti Bantul, Kulon Progo, Sleman, Gunung Kidul serta Kota Yogyakarta, akan tetapi Ngayogyakarta secara budaya adalah sampai pada daerah-daerah yang budayanya mengikuti budaya Ngayogyakarta.
(more…)
Monkey and its owner
Kira-kira dua tahun lalu saudaraku membeli seekor anak monyet. Ide ini timbul karena ada anggota keluarga memelihara anjing. Daripada memelihara anjing, mendingan monyet. Kami sebagai seorang muslim memang tidak bisa setiap hari diendus-endus anjing, walaupun anjing memang makhluk Tuhan yang manis sekali. Tau kan dalam tradisi muslim tidak diijinkan memelihara anjing. Saya tau juga kalau Tuhan tidak bermaksud jahat dengan perintah-NYa tersebut. Buktinya menyatakan kalau dulu ada pendosa memberi minum anjing, bisa masuk surga.

(more…)
Kraton Ngayogyakarta and Puro Pakualaman
Mataram has divided by three region, Yogyakarta Hadiningrat, Surakarta Hadiningrat and Mangkunegara. Colonialist always be succesfull to break a kingdom.
After Prince Mangkubumi became as King / Sultan of Ngayogyakarto Palace, he worked hardly to his Kingdom progession. He is designer of the big kingdom who still exist until now. He built city with philosophy design. If we see a map of Yogyakarta province, we can find imaginer line from Merapi mountain - White Paal (Tugu) - Kraton (Palace) - South Ocean. Its have kosmologic meanings. He always been held Hamemayu hayuning Bawana and Golong Gilig. Hamemayu Hayuning Bawana always been related with balance relationship between God, people, nature. Golong Gilig was related with partnership between Kingdom government with people to attacked colonialist.

Picture 1. Merapi Mountain (more…)
Yogyakarta Special Region Province in History

Picture 1. Yogyakarta Province map
Yogyakarta is the special province in Indonesia. It is located at southern of Merapi Mount. Yogyakarta divided by Progo River and Opak River in outer range. Lava from Merapi always flows along these rivers. There are five regency / municipality. The regencies are Sleman regency, Kulon Progo regency, Gunung Kidul regency and Bantul regency. The only one municipality is Jogjakarta, that also as capital city of Yogyakarta Special Region Province. Before become a province ot was a part of Vorstenlanden.
(more…)