Life Flowers


Dae Jang Geum, Serial TV yang Layak Ditonton
October 4, 2007, 8:55 am
Filed under: Bedah Media AuVi, Hello World | Tags:

sumber : http://en.wikipedia.org

Dae Jang Geum yang pernah diputar di stasiun TV Indosiar, merupakan sebuah serial TV yang diproduksi pada tahun 2003 oleh MBC TV di Korea Selatan. dae jang geum lebih dikenal dengan “The Great of Jang Geum” atau Jewel in The Palace”.

Serial tersebut merupakan kisah legendaris yang diambil dari sejarah Dinasti Chosun (Joseon), dengan tokoh utama Jang Geum (dimainkan Jo Jung Eun (kecil) dan Lee Young Ae). Film ini pernah mengantarkan lee Young ae sebagai artis terbaik dalam Festival Film Asia di Italia. Ternyata penggemar film ini sangat luas tidak hanya lingkup Asia Tenggara. Dalam film tersebut Nona Lee menjadi dokter kerajaan yang pertama di dalam Dinasti Joseon di Korea. Penulisnya seorang penulis perempuan di Korea yang bernama Yeong-hyeon Kim. Kisahnya dilatarbelakangi oleh sejarah dan budaya, termasuk di dalamnya kuliner dan ilmu pengobatan.

 

Cerita ini diawali dengan kasus konspirasi pembunuhan terhadap anggota kekaisaran Korea yang dituduhkan kepada Ibu dan Bapaknya Dae Jang Geum, Myeong-He Park dan Cheon-Soo Seo. Akhirnya mereka terusir dari kehidupan istana. Di dalam pelarian itu mereka melahirkan seorang putri yang akan membawa nama harum keluarga, Dae Jang Geum. Jang Geum kecil sudah pandai membaca dan menulis, bahkan tahu dasar-dasar pengobatan dan masak memasak, karena Ibunya merupakan dayang istana yang selevel dengan Dayang Kepala.

Kebahagiaan hidup Dae Jang Geum mulai terusik karena ada beberapa mata-mata Kekaisaran yang memergoki mereka. Dae Jang Geum yang cerdas tidak tahan dihina oleh lingkungannya sehingga dia menceritakan jatidiri orangtuanya kepada orang banyak, sampai akhirnya mereka dikejar-kejar. Ayahnya tertangkap ketika menonton pertandingan gulat, sedangkan Ibunya meninggal terkena anak panah yang dilepas oleh pengikut Nyonya Choi.

 

Sebelum Ibunya meninggal, dia sempat berpesan melalui sepucuk surat yang bunyinya menyatakan bahwa Dae Jang Geum harus menjadi dayang istana, harus menuliskan kisah kematian Bapak Ibunya pada dokumen-dokumen kerajaan.

aslijanggeum.jpg

 

Dae Jang Geum menyusup ke kota. Dia diangkat anak oleh salah satu keluarga di kota. Kebetulan keluarga tersebut menjadi pemasok tuak ke istana. Ketika Jang Geum mengantarkan anggur ke pangeran, Jang Geum memohon agar diangkat menjadi dayang istana. Walaupun dilarang oleh Dayang senior, Pangeran mengabulkan permohonan Dae Jang Geum. Dae Jang Geum mendapatkan perlakuan diskriminatif walaupun dia sesungguhnya anak yang sangat berbakat. Untunglah dia di sana mendapat naungan dari Lady Han dan Lady Jung.

Setelah tumbuh menjadi gadis persaingannya dengan Keum Young semakin menyolok. Sungguhpun pun demikian dae jang Geum tetap setulus hati berbaik sangka kepada Keum Young. Keum Young pernah menghilangkan ayam emas milik raja yang akan disembelih untuk simbol kejayaan sebuah kerajaan. Keum Young tidak berani berterus terang karena takut, dan dae Jang Geum pun bersedia menolongnya. Dayang Choi, bibinya Keum Young justru sering melakukan tindakan-tindakan yang mencelakakan Dae jang geum. Untunglah Dae Jang geum seorang gadis pintar dan tekun yang tiada pernah putus asa. Ketika Dae Jang geum dihukum dibuang ke Kebun istana menjadi budak di sana, dia justru bisa mengembangkan tanaman-tanaman yang bisa menghasilkan keuntungan ekonomis bagi kerajaan.

Oleh karena jasa-jasa Dae Jang Geum, dia ditarik kembali oleh Lady Jung dan Lady Han ke istana. Mereka berdua sangat khawatir dengan keadaan Dae jang Geum, sementara itu Lady Choi tidak mau menghentikan langkah-langkahnya untuk mencari pengaruh di istana berkolaborasi dengan seorang Menteri.

dae-jang-geum-3.jpg dae-jang-geum-2.jpg

Setelah terbebas dari kebun istana, Dae Jang Geum masih dipercaya oleh Nyonya Han untuk menjadi asistennya, apalgi mengahadapi kompetensi masak nanti. Dae Jang geum diam-diam mencari catatan masak dari almarhumah Ibunya yang disimpan di ruang masak. sementara itu Lady Choi sedang menyiapkan jampi-jampi untuk meracun permaisuri agar tidak punya putra mahkota. Lady Choi mengira kalau Dae Jang geum tahu apa yang dilakukannya, padahal dia sedang mencari buku catatan Ibunya. Dae Jang Geum dihukum bersama-sama Keum Young. Keum Young selalu menuduhkan apa yang seharusnya ditujukan kepada Lady Choi, namun dialihkan ke Dae Jang Geum, sehingga Dae Jang Geum dikurung. Oleh karena Lady Jung membela Dae Jang Geum dia mendapat masalah dari Dayang Sekretaris kerajaan. Beliau dikucilkan dari pergaulan, tetapi baginya kebenaran tetap kebenaran, makanan tidak bisa dicampurkan dengan politik, tidak benar kalau makanan digunakan sebagai alat mencari pengaruh politik. Keyakinan itu dipegangnya sampai dia mati.

Kebebasan Dae Jang Geum bukan berarti tidak ada masalah lagi, ternyata Lady Choi tidak pernah berhenti, apalagi setelah tahu ternyata Dae Jang Geum adalah anak rivalnya yang telah dia bunuh. Kebetulan dia membaca sendiri wasiat dari Ibu Dae jang geum untuk Jang Geum. Kebebtulan Dae Jang Geum menjadi asisten dari rivalnya, Lady Han, sehingga semakin besarlah kebencian Lady Choi kepada keduanya. Lady Min sendiri tampak hanya dayang yang tidak bisa bersikap, perilakunya kurang kuat.

 



Mencari Channel Hiburan dan Informasi yang Mendidik
October 2, 2007, 9:26 am
Filed under: Bedah Media AuVi, Hello World | Tags:

Banyak buku yang menyatakan agar orangtua segera mematikan layar tv-nya, agar budaya belajar dan budaya baca menjamur di dalam masyarakat. Tetapi tunggu dulu karena ada sesuatu di dalamnya. Saya tidak menyuruh orang untuk menonton tv, tetapi kita juga harus jujur bahwa ada beberapa siaran televisi yang layak ditonton oleh anak-anak.

Ada banyak prasangka yang ditujukan kepada media. Medialah yang telah menjadi penyebab tunggal kebobrokan di dalam masyarakat. Padahal kita hanya membutuhkan suatu ketahanan budaya yang akan memfilter terhadap segala sesuatu yang beredar di dalam masyarakat kita. Di Jepang, media justru dilibatkan untuk mempromosikan budaya baca dan budaya belajar. Artis-artis mereka didaulat untuk terlibat di dalamnya, sehingga artis bukan hanya menjadi objek acara-acara gosip.

Beberapa minggu yang lalu saya mendengar seorang khotib di masjid yang menyinggung masalah acara-acara di televisi. Bagaimana di Jepang anak-anak dilatih untuk menjadi manusia ultra. Kita pernah menonton Ultraman, bukan? bagaimana Ultraman sebenarnya hanyalah seorang manusia biasa, tetapi bila ada monster yang ke kota dia selalu berubah. Monster-monster merupakan simbol dari segala kejahatan di bumi, pengaruh jelek, penjajahan terhadap bangsa Jepang. Untuk menghadapinya diperlukan Ultraman, manusia super.

Jepang sebagai negara maju tidak pernah kehilangan moment-moment budaya lokalnya. Karya-karya dalam media mereka penuh dengan bujukan / persuasi agar orang-orang bisa seperti Ultraman.

Ada lagi film yang sejenis, dengan tokoh kera sakti, Song gho ku (tulisan mungkin tidak seperti itu), “dragon ball”. Dia harus melawan monster-monster yang akan merusak bumi.

Jangan sampai anak-anak Jepang cengeng seperti Nobita (dari bahasa Inggris No bit = tidak menggigit) karena tidak punya taring di depan teman-temannya seperti Giant (simbol keperkasaan Amerika) dan Suneo (simbol ketakaburan/aroganisme Eropa). Jerman yang selalu memilih-milih teman, dan sebagainya. Padahal kalau di Jawa Giant itu disamakan dengan Gianto yang kadang-kadang katroo. Untuk menghadapi Giant dan Sune, Nobita harus memiliki kantung ilmu pengetahuan (Doraemon). Akan tetapi, tidak boleh untuk usil terhadap teman-temannya.

Selain itu media TV Jepang juga mendidik anak-anak Jepang untuk menjadi ahli analisis. Detektif Conan, detektif cilik yang selalu berhasil menyelesaikan problem-problem orang-orang dewasa karena kemampuan analisanya. Sailormoon mengajarkan gadis-gadis yang bisa melindungi dirinya.

Untuk menggoalkan antusiasme Jepang dalam pertandingan sepakbola piala dunia, ataupun liga Asia, diciptakanlah film kartun Tsubatsa, yang selalu gigih dalam setiap pertandingan dan dalam latihan.

Ketika Jepang ingin mempromosikan produk kulinernya mereka menciptakan kartun “Si Anak Cita rasa” yang dilahirkan untuk memasak. Dia pandai memadukan resep-resep memasak makanan, dan rajin mengikuti kompetisi memasak dengan koki-koki senior. Tentu saja cercaan selalu ditujukan padanya.

Berbeda dengan kebanyakan sinetron Indonesia yang bercerita tentang cinta monyet, dunia glamoritas, sehingga mendorong remaja-remaja untuk mengikuti pola hidup konsumtif. Semestinya film-film remaja Indonesia tidak hanya bertema cinta, tetapi juga cerita detektif, atau bertema problem solving sehingga remaja-remaja Indonesia menjadi lebih cerdas. Ini berarti media turut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ada juga film-film yang baik seperti Samsul dan Badriah. Tetapi akan menjadi jelek kalau nanti larinya ke arah cinta monyet. Samsul menjadi anak yang tangguh setelah beberapa hal yang mengenainya. Dia menjadi lebih dewasa dalam menghadapi kehidupannya. Walaupun demikian film tersebut mestinya ceritanya diarahkan ke arah setting umur Samsul, apakah cerita tersebut pantas untuk anak seusia Samsul, ataukah samsul yang masih anak-anak harus dipaksakan untuk menjadi orang dewasa.

Film Candy telah menyebabkan Rachel Amanda tetangisan terus, menjadikan seorang anak menjadi pemurung oleh segala persoalan hidup. Ibu menjadi sesuatu yang misterius baginya, bahkan kepercayaan orang kepada dirinya menjadi sulit baginya. Ibunya suka bohong. Ibunya digambarkan sebagai wanita yang tidak bisa berpikir sistematis, grusah-grusuh tanpa pertimbangan.

Film monyet cantik itu juga mengarah ke cinta monyet, tetapi film ini mengajarkan kalau anak itu tidak ramah dan mudah marah maka wajahnya akan mirip monyet.

Si Eneng kaos kaki ajaib menawarkan dunia keajaiban. Eneng bisa merubah keadaan dan bisa menolong orang lain dengan kantong ajaibnya.

Orangtua memang perlu mendampingi putranya menonton televisi, tetapi bukan berarti dipenjara dalam kehendak orangtua yang justru membelenggu kreatifitas anak-anak.



Nonton Kuch-Kuch Hota Tai dari Lereng Bukit
March 12, 2007, 8:30 am
Filed under: Bedah Media AuVi, Hello World | Tags:

Kenapa mesti nonton Kuch-Kuch Hotai dari Lereng Bukit ? Soalnya mungkin banyak tambahan dan pengurangannya. Kuch-kuch Hota Hai adalah sebuah film India yang dibintangi oleh Shah Rukh Khan (Rahul Khaana), Kajol (Anjali Sharma), Rani Mukherjee (Tina Maholtra) dengan bintang tamu Salman Khan (Amar). Saya jamin setiap orang yang menonton film ini pasti akan meneteskan airmata. Yang jelas film ini tidak mengecewakan penontonnya, karena happy Ending. Film ini memadukan seni kontemporer dengan seni tradisional India. Di sana dipenuhi musik dan tarian lokal, juga ada dance modern. Dia menceritakan keabadian cinta. Di dalamnya dibumbui tahayul tentang bintang jatuh, barangsiapa berdoa pada saat bintang jatuh, maka Tuhan akan mengabulkan. Di dalamnya ditemui budaya toleransi agama dan budaya. Yang jelas golongan tua (nenek) sebagai pelestari budaya tradisional selalu tidak terima kalau budaya lokal tergusur budaya global.

Kisah ini diawali dengan kehidupan kampus dengan tokoh utama Anjali Sharma (?) dan Rahul Khaana. Rahul adalah seorang playboy kampus, sedangkan Anjali Sharma adalah seorang mahasiswi tomboy. Dua-duanya sama-sama punya hobby main basket. Anjali selalu memenangkan setiap lomba bola basket bila main basket melawan Rahul. Oleh karenanya Rahul selalu berusaha dengan cara curang sekalipun untuk memenangkan lomba. Keduanya selalu saja berantem, tapi lama-lama berteman. Anjali mulai merasa indahnya persahabatan itu.

Keakraban Rahul dan Anjali itu ditengarai oleh hadirnya seorang mahasiswi pindahan London yang kebetulan anak Profesor di kampus itu, Tina namanya. Pada awalnya yang terjadi persahabatan akrab antar tiga tokoh tadi. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah What is Love, and what is friendship. Ternyata Love bisa menjadi Friendship atau sebaliknya. Love is friendship.

Dasar Rahul mata keranjang. Pertama-tama dia jaga gengsi, tetapi ternyata dia betul-betul jatuh cinta. Sementara itu sesuatu yang tidak disadari Rahul telah terjadi, Anjali yang tomboy merasakan jatuh cinta yang pertama pada Rahul. Dia mulai belajar berdandan. Memang Anjali dan Tina adalah dua sosok yang bertolak belakang, Tina adalah sosok feminin, suka berdandan, sedangkan Anjali adalah gadis tomboy, apa adanya. Hubungan Rahul dan Anjali yang berawal dari permusuhan, persahabatan itu akhirnya berlanjut pada cinta Anjali.

Pada suatu malam Rahul ingin menyatakan cintanya kepada Tina, sedangkan Anjali ingin menyatakan cintanya pada Rahul. Rahul mengendap-endap rumah Profesornya, Maholtra untuk menyatakan cintanya pada Tina, tetapi belum sempat tersampaikan. Dia harus lari-lari menghindari Bapaknya Tina. Di jalan dia bertabrakan dengan Anjali. Kata cinta yang harus diucapkan di depan Tina itu terucap di depan Anjali. Itulah yang meninggalkan luka yang dalam bagi Anjali sampai Anjali harus pindah kampus. Hanya sebuah selendang merah yang dia berikan kepada Rahul dan Tina sebagai kenang-kenangan.

Rahul dan Tina akhirnya menikah tanpa kehadiran Anjali. Begitu Tina melahirkan bayi pertamanya, dia harus meninggal dunia, sehingga anaknya diasuh oleh Rahul sendiri. Sampai beberapa tahun Rahul masih memuja perkawinannya. Dia berpendapat bahwa “Menikah itu sekali, seperti hanya Hiduppun sekali“. Tina hanya meninggalkan sebuah surat dan kado kepada anak bayinya, surat dan kado tersebut tidak boleh diberikan sebelum anaknya berumur 7/8 tahun. Sebagai penghargaan Tina atas pengorbanan cinta Anjali, maka anaknya dinamakan Anjali. Anjali selalu menangis bila diminta menceritakan Ibunya.

Anjali kecil sekarang telah berumur 7 tahun dan akan merayakan hari ulang tahunnya. Dia menangis sedih karena ulangtahunnya tidak dihadiri oleh ibunya. Ketika dia membaca suratnya, dia mengerti bahwa dia diberi tugas oleh almarhumah Ibunya untuk menemukan Anjali dewasa untuk dijodohkan dengan Ayahnya. Kemudian dia dibantu neneknya berusaha menelusuri jejak-jejak Anjali Sharma.

Setelah ditelusuri ternyata dia sudah mau tunangan dengan Amar (Salman Khan). Terlihat dari wajah Anjali itu tampak tidak ada wajah cinta, sepertinya hanya mematuhi orangtuanya. Anjali kecil sangat kecewa mendengar pertunangan ini. Anjali kecil berharap bisa bertemu dengan Anjali dewasa.

Pada suatu hari ada Perkemahan Musim Panas di suatu tempat. Anjali kecil memaksa ikut walaupun Bapaknya melarang. Neneknya justru mendukung keinginan Anjali ini. Kebetulan Rahul sedang ada pertemuan bisnis di London.

Dilarang ataupun tidak, Anjeli kecil ditemani Neneknya berhasil tiba di Perkemahan Musim Panas. Tak dinyana-nyana dia di sana bertemu dengan Anjali dewasa. Anjali dewasa belum tahu kalau anak perempuan itu adalah anak Rahul. Baru ketika Anjali meminta semua peserta Camping menulis cerita tentang Ibunya. Anjali kecil hanya menangis karena Ibunya telah meninggal. Anjali melihat sebuah foto yang dibawa oleh anak itu, barulah dia tahu kalau Anjali kecil adalah anak Tina dan Rahul.

Sementara itu Rahul sudah tidak sabar bertemu anak semata wayangnya, Anjali Kecil. Rahul segera menyusul ke Perkemahan. Di sinilah Rahul bertemu kembali dengan Anjeli Sharma. Anjali sendiri sudah bertunangan dengan Amar, sedangkan di hatinya masih mencintai Rahul. Suatu dilema terjadi. Kuch-Kuch Hota Hai, Sesuatu telah terjadi yang tidak kau sadari. Bintang jatuh adalah saksi kedua doa mereka.

Anjeli kecil berusaha menggagalkan pernikahan Amar dan Anjeli dewasa. Dan akhirnya berhasil. Anjali dewasa berhasil menikah dengan Rahul tanpa kemarahan Amar. Amar adalah laki-laki berjiwa besar yang mau menerima kenyataan bahwa cinta sejati dan cinta pertama Anjali adalah Rahul. Kisah ini berakhir dengan kebahagiaan semua orang.