Life Flowers


Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” Seri-5:
October 22, 2007, 8:07 am
Filed under: Hello World, Yogya Semesta | Tags:

Merajut Budaya Yogya, Membangun Peradaban Baru Indonesia

“…..bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan…..”
[Bung Karno, “To Build the World a New”]
BAGAIMANA merekonstruksi peradaban baru Indonesia? Siapa yang harus merekonstruksi peradaban itu? Dua pertanyaan itu harus segera kita jawab. Kita tidak membutuhkan lagi bukti atau diskusi berbelit-belit guna menegaskan bahwa peradaban bangsa mulai rapuh. Setiap hari, media massa menyuguhkan aneka tragedi kerapuhan peradaban kita. Meminjam istilah dalam rubrik politika Budiarto Shambazy telah terjadi “gerhana nurani”.
Kini saatnya kita merekonstruksi peradaban bangsa Indonesia seturut sila kedua Pancasila, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Banyak pihak berpikir dan berusaha merekonstruksi peradaban baru Indonesia. Para pakar politik dan politikus berusaha merekonstruksi peradaban baru di bidang politik dengan reformasi politik. Sayang, reformasi “setengah hati” itu justru melahirkan kultur politik baru, yaitu kultur politik kekerasan. Kata-kata mutiara Bung Karno di depan Sidang Umum PBB pada 30 September 1960 yang dikutip di awal tulisan ini, tampaknya masih relevan dengan situasi bangsa saat ini yang lagi menghadapi potensi ancaman budaya kekerasan di berbagai bidang kehidupan……Lihat selengkapnya di HD_Yogya Semesta 5 Tributed by Mr Hary Dendi



Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-4: “Yogya Untuk Semesta”
September 28, 2007, 3:57 am
Filed under: Hello World, Yogya Semesta | Tags:

Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-4: “Yogya Untuk Semesta”:

 

Topik

 

DENGAN SERAT-SERAT BUDAYA NUSANTARA, MEMBANGUN INDONESIA BERSATU

Rukun agawe Sentosa, Crah agawe Bubrah

–Kearifan Jawa

ACEH harus tetap dengan Indonesia, jika tidak kita telah mengingkari sejarah“, demikian kata Makmun Daud Beureueh, putra tokoh besar rakyat Aceh (Republika, 21 Agustus 1999). Ini adalah pikiran filsafat yang sangat dalam –pikiran yang mencerminkan kemurnian suara hati etnik Aceh– tetapi juga gambaran suara hati dan ketulusan dari banyak etnik lainnya [1].

 

Dr. Hasballah M. Saad, tokoh masyarakat Aceh yang lain, mengatakan: “suku-suku bangsa yang bergabung membentuk negara Indonesia justru menjadi korban pemaksaan, bukannya memperoleh kesempatan mengaktualisasikan diri“. Hal senada disampaikan pula oleh SP Morin, tokoh masyarakat Papua, yang menyatakan: “Ibarat sudah kawin paksa, istri dipukuli terus. Itu yang menyebabkan munculnya pemikiran lebih baik merdeka saja” (Kompas, 23 Agustus 1999). Demikianlah, kira-kira suasana hati banyak kalangan masyarakat di daerah, yang pada intinya menuntut ditegakkannya keadilan dan kebenaran, kesetaraan dan demokrasi serta kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia, yang kemudian melatarbelakangi ancaman disintegrasi bangsa yang memicu gerakan separatisme…………………HD_Yogya Semesta 4


[1] U. Ginting, “Otonomi Daerah”, Masyarakat Transparansi Indonesia, 3 Oktober 1999.



Dialog Budaya dan Gelar Seni 3 : Yogya untuk Semesta
September 20, 2007, 8:03 am
Filed under: Hello World, Yogya Semesta | Tags:

AKTUALISASI NILAI-NILAI PANCASILA”

 

MENURUT dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat, Kaitjoo “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” atau Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Sidang-Sidang BPUPKIBeginsel Negara”. Dalam pidatonya yang menggelegar bak halilintar, Bung Karno menawarkan Pantja Sila sebagai Dasar Negara, yang selain disebut “Weltanschauung”, juga dimaknai sebagai “Philosofische grondslag” seperti cuplikan kata-kata di bawah ini. diagendakan untuk mencari “Dasar” atau ”Pantja Sila adalah philosofische grondslag, itulah pondamen, filsafat, pikiran, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka. . .”

Meminjam istilah filsuf Rousseau, Onghokham berpendapat, Pancasila adalah ’dokumen politik’ sebagai ’kontrak sosial’, kompromi tentang asas-asas negara baru, seperti Magna Carta di Inggris, Bill of Rights di Amerika Serikat dan Droit del’homme di Perancis. Selanjutnya mengutip pendapat Eric Hoffer (Riggs, 1994), Pancasila sebagai ideologi adalah motor penggerak masyarakat, sekaligus landasan persatuan dan kesatuan untuk merespons dinamika perubahan sosial………..Lihat selengkapnya di HD_Yogya Semesta Tributed by Mr Hary Dendi



Dialog Budaya dan Gelar Seni Seri-2: “Yogya Untuk Semesta”
August 12, 2007, 7:51 am
Filed under: Hello World, Yogya Semesta | Tags:

“Sadumuk Bathuk, Sanyari Bumi: Semangat Nasionalisme Indonesia Masakini”

Pada Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-1 dalam Babad Giyanti, tertangkap ucapan Pangeran Mangkubumi: “Sadumuk bathuk, sanyari bumi, den lakoni taker pati, pecahing dada wutahing ludira” dalam dialognya dengan Sri Susuhunan Paku Buwono II. Ungkapan tersebut sebenarnya secara tersirat ingin menegaskan bahwa kehormatan atau harga diri dan tanah (air) bagi orang Jawa merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan orang pun sanggup membelanya dengan taruhan nyawa. Sentuhan di dahi oleh orang lain bagi orang Jawa dapat dianggap sebagai penghinaan. Demikian pula penyerobotan atas kepemilikan tanah walaupun luasnya hanya selebar satu jari tangan pun. TriSakti Jiwa Proklamasi

 

Khusus dalam topik ini yang dituju adalah aktualisasinya pada semangat ……………. Selengkapnya di HD_Yogya Semesta tributed by Mr. Hary Dendi



Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-1
August 1, 2007, 6:53 am
Filed under: Hello World, Yogya Semesta | Tags:

Yogya Untuk Semesta, Babad Giyanti: Makna & Aktualisasi

Di alam globalisasi di mana hubungan komunikasi dan pergaulan dunia seakan tanpa batas (borderless), jelas membuka peluang terjadinya proses akulturasi. Jika proses akulturasi akhirnya menghasilkan dominasi kebudayaan asing, berarti memusnahkan local genius. Ini tidak lain adalah pendangkalan budaya, yang tidak mustahil bermuara pada kehancuran budaya-budaya lokal, yang berakibat hilangnya jatidiri suatu bangsa atau etnik. Sebaliknya akulturasi yang membuahkan integrasi, tatkala budaya lokal mampu menyerap unsur-unsur budaya asing justru untuk memperkokoh budaya lokal, berarti menambah daya tahan serta mengembangkan identitas budaya masyarakat setempat………….. HD_Yogya Semesta 1 Tributed by Mr Hary Dendi



Pergi ke Alexandria
May 12, 2007, 8:47 am
Filed under: Deepthought, Hello World | Tags:

Alexandria dan Kyoto merupakan contoh keberhasilan pembangunan kota berbudaya di dunia, sehingga termasuk dalam liga kota budaya dunia. Alexandria memiliki kenangan sejarah kegemilangan yang juga masih bertahan hingga sekarang, walaupun mengalami pasang surut dalam sejarah penentuan jatidirinya. Alexandria yang sekarang ini merupakan akumulasi pasang naiknya peradaban yang berusaha dibangkitkan dan diabadikan oleh beberapa person.

Setelah ditemukan oleh Alexander yang Agung atau Iskandar Zulkarnain pada tahun 331 SM, kemudian dibangun dan dijadikan Ibukota Mesir Kuno pada zaman hellenistik yang disimbolkan melalui mercusuar legendaris Pharaos (salah satu keajaiban dunia). Di sinilah terjadi perseteruan Cleopatra dan Mark Antony. Di sinilah pusat pendidikan dunia kuno. Alexander berusaha memadukan unsur-unsur budaya Timur dengan budaya Yunani dan Romawi yang merupakan cikal bakal kebudayaan Barat.

Dibalut pesona pantai Laut Mediterania yang bagaikan surga, bagaikan intan permata / zamrud Mediterania (pearl of Mediterranean). Terhampar di sebelah barat laut delta Nil. Alexandria mulanya merupakan sebuah perkampungan nelayan, bernama Pharaos, kampung ini memiliki pantai yang indah. Alexandria bernama lain Iskandariah.

Ketika Alexander The Great atau yang dalam dunia Islam dikenal dengan nama Iskandar Zulkarnain, dia tertarik untuk membangun kota ini, “Di sinilah aku akan membangun kota yang sudah kuimpikan sejak lama.” Iskandar Zulkarnain adalah raja yang terkenal dengan julukan ‘Raja Bertanduk’. Petualangan beliau ke timur membawa ide-ide hellenistik yang memadukan dunia Timur dengan dunia Barat. Iskandar sangat terkagum-kagum dengan pesona alam ini, dapat dikatakan sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak main-main dengan ucapannya, beliau segera mendatangkan ahli tata kota dari Yunani, dan pada musim gugur 332 Sebelum Masehi Alexandria atau Iskandariah mulai dibangun.

Ide-ide Denokrates mampu menyulap Iskandariah dari perkampungan nelayan sebagai kota yang berbalut gemilang peradaban. Peradaban yang tinggi itu dihasilkan dari perpaduan ide-ide dan kerja keras dari banyak person. Selama hampir 1000 tahun menjadi ibukota Mesir hingga penaklukan Islam pada tahun 21 H (621 M). Baru setelah pendirian Kairo oleh penguasa Islam ibukota Mesir dipindahkan dari Alexandria ke Kairo.

Kota kosmopolitan yang berbalut kegemilangan peradaban masa silam dihidupkan kembali oleh banyak person. Salah satunya yang dibangkitkan kembali adalah Perpustakaan Iskandariah. Perpustakaan Iskandariah berdiri atas peran aktif Dinasti Ptolemi yang berkuasa di Mesir pada periode Hellenistik. Ptolemi I (323 - 284 SM) yang bergelar Soter adalah komandan militer dan penulis biografi Iskandar Agung. Ia merupakan sosok yang cinta ilmu. Ptolemi kemudian membangun Mouseion, pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan perpustakaan yang mengoleksi berbagai buku. Mouseion diambil dari bahasa Yunani yang berarti tempat beribadah seluruh Tuhan ilmu pengetahuan dan seni. Selain mengoleksi buku-buku berbahasa Yunani, perpustakaan ini dulunya menyimpan berbagai manuskrip Mesir kuno serta sebagian kitab Hindu dan Budha. Mouseion merupakan Universitas Alexandria Kuno di Mesir Kuno. Ahli arkeologi Polish telah menemukan 13 aula kuliah sebuah Universitas Alexandria Kuno di Mesir kuno.

Sampai masa Ptolemi III tercatat sekitar 700.000 buku tersimpan di sana. Dari tradisi kepustakaan ini dari Alexandria muncul ilmuwan-ilmuwan terkenal yang berjasa bagi kesejahteraan manusia di dunia. Muncullah Archimedes, seorang ahli Matematika abad ketiga sebelum Masehi yang menghasilkan banyak penemuan ilmiah; Aristarchis dari Samos, astronom abad ketiga SM, orang pertama yang berspekulasi bahwa planet-planet mengitari matahari, menggunakan trigonometri untuk menghitung jarak dan ukuran matahari dan bulan; Kalimakhus, pujangga dan kepala perputakaan abad ketiga, menyusun indeks pertama untuk perpustakaan Alexandria, sebuah karya yang membangkitkan kesusastraan Yunani Klasik; Euclides, penemu ilmu geometri, matematika dan arsitektur; Dionysus, penemu ilmu dasar bahasa; Erasthostenes, Mr Beta, ahli ilmu falak, sejarah dan filsafat; Hypatia, seorang wanita ahli matematika dan astronomi; Earasthotenes, ahli ilmu bumi dan astronomi.

Setelah selama tiga abad kekuasaan Ptolemi berjaya, perpustakaan mengalami keruntuhan. Pada masa-masa berikutnya Alexandria mengalami kemunduran. Ketika Napoleon mendarat di Alexandria, tempat ini telah menjadi perkampungan nelayan. Dari abad 19 Alexandria mengemban peran baru sebagai pusat ekspansi perdagangan dan pelayaran Mesir. Oleh banyak persona kota ini mulai dibangkitkan kembali. Lukisan tentang zaman keemasan Alexandria telah diabadikan oleh penulis-penulis semacam E.M. Forster dan Cavafy. Atas prakarsa UNESCO bekerjasama dengan pemerintah Mesir dan berbagai organisasi yang mempunyai perhatian terhadap ilmu pegetahuan dan teknologi, muncullah ide untuk menghidupkan kembali perpustakaan ini. Merogoh kocek sebanyak 220 juta dolar Amerika, perpustakaan ini didesain modern.

Dalam bulan Oktober 2002 dibuka kembali perpustakaan masa lalu, di dalamnya berisi sekitar 400.000 buku ditambah sistem komputer modern dan mutakhir memungkinkan pengunjung mengakses koleksi perpustakaan lain, koleksi utama dititikberatkan pada peradaban Mediterania bagian timur. Perpustakaan baru memiliki kapasitas 8.000.000 buku. Perpustakaan ini menyediakan 500 unit komputer untuk memudahkan para pengunjung mencari katalog, dilengkapi ruang konferensi dan pustaka Thaha Husein bagi tuna netra, pustaka anak-anak, museum peninggalan kuno, manuskrip serta 5 lembaga riset.

Selain tradisi keilmuan yang kuat di Alexandria, kita akan melihat banyak tempat yang menebar pesona keindahan. Gedung-gedung bertingkat dibangun di tepi laut. Apabila kita berjalan menyusuri Kanal Mahmudiya yang berhadap-hadapan dengan kawasan industri dan kelas pekerja kita bisa menikmati keindahan Alexandria yang kosmopolitan dan bohemian. Dengan jalan beraspal kuno yang dibatasi kanal dan pepohonan. Kemudian Mercusuar Pharaos yang legendaris yang menjadi bagian dari keajaiban dunia. Museum Sejarah Alam, Kebun Raya Zoologi, Museum Seni Rupa, Istana Antoniad yang terletak di dekat kuburan Roma, Masjid Abu Al Abbas al Mursi (Masjid berbentuk segi enam), Masjid Attarine, Benteng Qeitbey (masjid sekaligus benteng yang terletak di tepi pantai), Masrah Rumani (peninggalan Romawi, ada istana burung), Cotacombs of Kom El Shukafa (tempat penyimpanan mayat) dan Taman Mawar.

 

Kompleks Muntazah merupakan suatu kompleks taman dikelilingi tembok besar dari selatan, timur dan barat, sedangkan di sebelah utara ada pantai. Area ini pernah dimiliki oleh keluarga Muhammad Ali, penguasa pertengahan abad 19 hingga tahun 1952. Konstruksi dimulai tahun 1892 oleh Raja Abbas H yang membangun istana yang lebih besar, yang kemudian dinamakan Haramlik. Kemudian Raja Farouk membangun sebuah jembatan laut, suatu tempat yang indah untuk menikmati keindahan Alexandria. Taman Muntazah menjadi tempat peristirahatan musim panas bagi Raja Mesir sebelum revolusi 23 Juli 1952 (dari sistem kerajaan ke Republik). Memiliki luas 155,4 ha, taman ini hanyalah taman yang menebar keindahan. Di dalamnya, istana Raja Farouk berarsitektur menawan berdiri kokoh, menghadap Laut Tengah. Istana ini dijadikan istana kepresidenan untuk menyambut tamu-tamu negara.

 

Alexandria merupakan kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo, dan menjadi ibukota pemerintahan Al Iskandariah. Alexandria memiliki magnet bagi penduduk lain di belahan dunia manapun. Alexandria kota kedua setelah Roma dalam luas dan kekayaan. Dalam warna kehidupannya menunjukkan atmosfer Mediterania daripada Timur Tengah. Kota tersebut merupakan kota perdagangan, kota kosmopolitan dan budaya Bohemian yang dirintis oleh imigran dari Yunani Italia. Banyak manusia berdatangan ke taman impian ini. Pendudukpun menyambut dengan keramahtamahan demi kotanya, mereka rela berjam-jam melukiskan tempat-tempat wisata di Alexandria. Didukung dengan jasa transportasi dan penginapan yang murah. Dapat ditempuh dalam 2 jam dengan kereta api dan 2 setengah jam dengan berbus ria dari Kairo. (ekosuryanti@yahoo.co.id)



Mengenang Kembali Ki Hajar Dewantoro (1)
May 10, 2007, 3:34 am
Filed under: Deepthought, Hello World | Tags:

Sejarah umat manusia membuktikan bahwa sebutan pahlawan atau bukan bisa dilihat dari mana memandangnya. Bangsa Indonesia selalu menganggap Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan yang berhak mendapatkan bintang mahaputera, tetapi bagi Belanda mungkin dianggap pengganggu stabilitas pemerintahan Hindia Belanda saat itu. Dan itu terjadi di sudut mana saja.

Bicara tentang pahlawan, kita memiliki ratusan tokoh besar yang berjasa untuk Indonesia. Banyak di antara mereka yang kebetulan berasal atau pernah ditempa di kawah candradimuka Yogyakarta, antara lain adalah Ki Hajar Dewantoro, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sultan Agung Hanyokrokusumo, Pangeran Diponegoro, Sri Sultan Hamengkubuwono I, dan lain-lainnya.

ensik.tok.indKi Hajar Dewantoro merupakan tokoh nasional, tokoh kemerdekaan, dan tokoh pendidikan nasional. Kita akan mengenal Ki Hajar Dewantara melalui karangan-karangan beliau yang terangkum dalam buku Karya K.H. Dewantara : Bagian pertama, Pendidikan.

Sekilas tentang perjalanan hidup Ki Hajar Dewantoro

Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Jogjakarta, wafat pada tanggal 26 April 1959. Pada tanggal 6 September 1913 sampai 5 September 1919 dibuang oleh Pemerintah Belanda di negeri Belanda.

Pada tanggal 3 Juli 1922 beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa dan sampai saat wafatnya terus memimpin perguruan tersebut. Pada tanggal 1 Oktober 1932 memimpin perlawanan menentang “ordonansi sekolah liar” sampai dicabutnya ordonansi tersebut, didukung oleh segenap lapisan masyarakat dan semua partai politik serta organisasi rakyat Indonesia. Pada tanggal 8 Maret 1955 ditetapkan Pemerintah sebagai Perintis Kemerdekaan nasional Indonesia.

Pada tanggal 19 Desember 1956 beliau mendapat gelar doktor kehormatan (honoris causa) dalam ilmu Kebudayaan dari Universitas Negeri Gadjah Mada. Pada waktu wafat beliau diangkat sebagai Perwira Tinggi dengan pemakaman negara secara militer, tepatnya tanggal 26 April 1959.

Pada tanggal 28 Nopember 1959 diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Pada tanggal 16 Desember 1959 pemerintah RI menetapkan hari lahirnya sebagai hari Pendidikan nasional. Baru pada ranggal 17 Agustus 1960 beliau dianugerahi oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan perang RI Bintang mahaputra I. Prestasi Ki Hajar Dewantoro lebih lengkap dengan tanda kehormatan Satya Lancana Kemerdekaan, 20 Mei 1961.

Ki Hajar Dewantoro sudah mulai dan terus menulis sejak hampir setengah abad yang lampau di berbagai surat kabar, majalah, dan brosur-brosur serta penerbitan lain-lain, tersebar di Indonesia dan di Nederland, sehingga membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan karya-karya beliau.

Ki Hajar tentang Pendidikan dan pengajaran nasional

Menurut Ki Hajar Dewantara, upaya menjunjung derajad bangsa akan berhasil, apabila dimulai dari bawah. Rakyat sebagai sumber kekuatan, harus mendapatkan pengajaran agar pandai melakukan upaya bagi kemakmuran negeri. Pendidikan anak-anak berarti pendidikan rakyat. Pendidikan harus disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat agar lebih berfaedah bagi perikehidupan bersama. Pendidikan harus bisa memerdekakan manusia dari ketergantungan kepada orang lain dan bersandar pada kekuatan sendiri. Pendidikan merupakan tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Berarti pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan hanyalah suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, tentu saja hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. kekuatan kodrati yang ada pada anak-anak itu ialah segala kekuatan di dalam hidup batin dan hidup lahir anak-anak itu yang ada karena kodrat. Para pendidik hanya dapat menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan-kekuatan itu agar dapat memperbaiki lakunya, (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya.

Misalnya : Seorang petani, dia tidak bisa merubah sifat-sifat dasar padi. Seorang petani hanya dapat menumbuhkan padi dengan memperbaiki tanahnya, memelihara tanamannya, memberi rabuk atau air, memusnahkan hama-hamanya. Ia tidak dapat mengubah kodrat tanaman. Ia tidak dapat merubah tanaman padi menjadi jagung dalam tempo tiga bulan. Pak tani harus takhluk pada kodrat padi. Seorang petani hanya dapat menjadikan padi tersebut tumbuh berkembang dan menghasilkan panen yang besar.

Sekolah Taman Siswa.

Tugas seorang petani hampir sama dengan seorang guru. Pendidikan hanya bisa menuntun pertumbuhan anak didiknya. Pertumbuhan anak-nak tergantung kodrat dan keadaan masing-masing. Anak yang tak baik dasar jiwanya dan tidak mendapat tuntunan pendidikan, dikhawatirkan akan menjadi orang jahat kalau tidak ada tuntunan. Dengan tuntunan tersebut seorang anak akan mendapat kecerdasan yang lebih tinggi dan luas, akan menjauhnya dirinya dari pengaruh jahat, buruk.

Pengaruh-pengaruh tidak baik yang datang kepada anak-anak boleh jadi bersal dari keluarganya. Anak-anak yang serba kekurangan tentu akan menghalangi ambisinya untuk mendapatkan pendidikan, sehingga kecerdasannya tidak bisa tumbuh seperti yang diharapkan. Mungkin juga mungkin perangai dari anggota keluarganya yang kurang menunjukkan keluhuran budipekerti.

Mengenai perlu tidaknya tuntunan di dalam tumbuhnya manusia, samalah keadaannya dengan soal perlu tidaknya pemeliharaan dalam pertumbuhan tanaman. Misalnya kalau jangung yang baik dasarnya jatuh pada tanah yang baik, banyak airnya, dan dapat sinar matahari, maka pemeliharaan-pemeliharaan dari Pak Tani akan menambah pertumbuhan dan hasil panen menjadi lebih baik. Kalau tidak ada pemeliharaan, sedangkan keadaan tanahnya tidak baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidak baik, kurang sinar matahari, maka tetap saja jagung itu tidak bisa tumbuh dengan baik. Sebaliknya apabila jagung itu bibitnya tidak baik, tetapi selalu dipelihara dengan baik oleh Pak Tani tentu saja hasilnya akan lebih baik daripada biji jagung yang tidak baik lainnya. (hlm 22)



Bukan Gempa yang pertama
March 10, 2007, 6:02 am
Filed under: Deepthought, Hello World | Tags:

Sebenarnya gempa bumi di DIY pada tanggal 27 mei 2006 itu bukanlah yang pertama kali, sudah berkali-kali gempa terjadi. Akan tetapi sepertinya selama ini kurang menjadi perhatian publik. Aceh, Sumatra Utara, Sukabumi sering menjadi langganan gempa, jadi tidak percaya kalau Yogyakarta bisa kena gempa.

Pagi-pagi ketika manusia-manusia tengah mempersiapkan kesibukan dunia, kesibukan di pasar, kesibukan di kantor, kesibukan di sekolah, kesibukan di stadion olahraga dan sebagainya, bumi Yogyakarta diguncangkan. Pada Sabtu, 27 Mei 2006, Yogyakarta dan Jawa Tengah dientak Gempa tektonik 5,9 skala richter, wilayah Bantul terutama, luluh lantak. Rumah-rumah penduduk rata dengan tanah. Korban jiwa, harta, dan benda melengkapi tragedi guncangan bumi di selatan Pulau Jawa ini.

Bagi beberapa orang mungkin saat itu Tuhan sedang ingin ‘ngerjain manusia’. Beberapa hari sebelumnya manusia sudah dibingungkan oleh ulah Eyang Merapi. Eyang Merapi yang sudah sedemikian sepuhnya itu batuk-batuk dan mengeluarkan lendir, kadang-kadang memuntahkan cairan merah yang terasa sangat panas. kadang-kadang semua yang ada di perutnya ‘muncrat‘ ke mana-mana. Kalau Eyang Merapi sudah terserang penyakit seperti itu, semua warga yang tinggal di sekitarnya pasti kebingungan. Belum banyak orang yang tahu obatnya Eyang Merapi. Yang jelas kalau Eyang lagi sakit, mendingan menyingkir jauh-jauh.

Pagi-pagi di mana banyak orang sedang sibuk menyiapkan pekerjaannya dan ada pula yang justru lagi sibuk dengan mimpinya di ranjang, diusik oleh suara gemuruh dan guncangan yang sangat kuat sebesar 5,9 SR. Semua orang segera melarikan diri dari segala yang jatuh tertarik gravitasi bumi. Genting-genting melorot dan pecah, tembok-tembok luruh ke bawah simpuh kepada Dewa Tanah karena tidak sanggup berdiri kokoh. Orang-orang berteriak dengan bermacam-macam ekspresi, ada yang menunjukkan ekspresi kepasrahan dan kereligiusannya, ketakutannya, culunnya, segera orang-orang melongok ke arah Eyangnya Merapi. O, Eyang sedang apa itu, dari tadi sudah mengeluarkan gumpalan asap, sesekali berwarna merah. Bahkan ada yang bertengkar gara-gara perbedaan persepsi keadaan itu. Ada yang mengira Eyang Merapi dengan Eyang Merbabu lagi in thehoneymoon“’ atau ‘nostalgila‘. Pokoknya setiap orang mempunyai spekulasi sendiri-sendiri terhadap keadaan yang berlangsung.

Semua orang yang ada di utara masih merasa kalau Eyang Merapilah yang sedang marah karena kesakitan perutnya. Mereka mengira guncangan jam 05.53 itu hanya sekali itu saja. “Lindu” itu tidak akan datang lagi, dianggap biasa, sehingga mereka masih meneruskan kegiatan. Bagi yang tidak bekerja di bagian selatan mungkin tidak tahu kalau wilayah Yogya bagian selatan tersapu bersih oleh kekuatan yang dahsyat itu. Semua tidak tahu kalau Sabtu itu 27 Mei 2006 telah terjadi sesuatu yang dahyat pada perut Bunda Yogya di bagian selatan.

 

Keresahan melanda masyarakat ketika terdengar kabar bahwa tepat pukul 08.00 akan terjadi gempa lagi yang mungkin lebih kuat. Anak-anak di sekolah, Ibu-Ibu yang ada di pasar, pegawai-pegawai yang ada di kantor menjadi kian panik. Isu gempa itu lama kelamaan berkembang menjadi isu tsunami. Terjadilah frustasi lalu lintas saat itu, mau lari ke mana, kalau ke utara Gunung Merapi juga sedang tidak menyamankan, mau ke selatan, pantai selatan ada ancaman tsunami. Frustasi itulah yang menyebabkan jatuhnya lebih banyak korban. Orang-orang Bantul semakin bingung karena baru saja melihat puing-puing bangunan rumahnya, tetapi kemudian tiba-tiba ada isu tsunami, mau lari ke manakah nantinya. Ada apa yang terjadi Tuhan ? Sebagian besar saluran seluler tidak berfungsi, dalam keadaan tersebut sulit sekali berhubungan dengan orang lain untuk saling mengabarkan. Sekali mendapat SMS justru membuat sebagian besar anggota masyarakat kalang kabut, segera berjalan kaki atau naik kendaraan apapun untuk meninggalkan Yogyakarta untuk mencari pengungsian. Untung saja ada beberapa pihak yang mampu menetralisir keadaan, yaitu PERS dan pihak Kepolisian. Semakin senja keadaan semakin jelas, semua keluarga berhasil berkumpul. Pada hari itu, telah terjadi peristiwa dahsyat yang menelan ribuan korban. Berturut-turut semua stasiun TV dan radio menyiarkan kronologis kejadian dan sebab-sebabnya.

Berdasarkan pemantauan dari empat stasiun seismograf di Gunung Merapi oleh Stasiun Geofisika Badan Meterologi dan Geofisika (BMG) dan laporan dari Global Seismic Network milik Amerika Serikat, gempa tektonik ini tepat terjadi pada pukul 05.53.58, persisnya di koordinat 8,007 Lintang Selatan dan 110,286 Bujur Timur dengan kemiringan 87 dan pergeserean 3, pada garis lurus pada kedalaman 33 km, di permukaan tanah, yang berjarak kurang dari 35 km dari Yogyakarta persis di bibir pantai. Sedangkan menurut United States Geological Survey (USGS), lembaga survei yang memiliki peralatan serba canggih, menyatakan pusat gempa terjadi di daratan di kedalaman 35 km dan berkekuatan 6,2 MW (moment magnitude). Rambatan gempa berasal dari pergeseran patahan berupa gerakan berlawanan dan sekitar pantai Depok, membujur ke arah timur laut melewati Gading kauman, Tirtoharjo, Kaliwening, Ngambangan, Cangkiring, hingga Gondowulung di Plered, Bantul.

Berdasarkan catatan sejarah gempa, Yogyakarta dan Jawa Tengah mengalami gempa dahsyat bukan untuk yang pertama kali. Jadi peristiwa yang serupa dengan gempa 27 Mei 2006 bukanlah yang pertama di Yogya dan Jawa Tengah. Dari data historis, Yogyakarta telah diguncang sedikitnya empat gempa yang berkekuatan 6 skala Richter, yaitu pada tahun 1867, 1937, 1943, dan 1981 baik karena aktifitas vulkanik maupun tektonik. Akan tetapi menurut data yang terekam, telah terjadi beberapa kali gempa yang menggoyang Yogyakarta. Pada tahun 1840, gempa telah merusak beberapa bangunan rumah. Pada tahun 1852 beberapa bangunan dan rumah penduduk rusak. Pada tahun 1863 juga terjadi gempa yang menyebabkan kerusakan bangunan, rumah penduduk serta 1 pabrik gula. Pada tanggal 10 Juni 1867, sedikitnya 372 rumah roboh dan lima orang meninggal. Gempa yang getarannya terasa hingga Surakarta, Jawa Tengah. Kejadian ini menyebabkan keruntuhan tugu Keraton Yogyakarta dan sejumlah bangunan Taman Sari. Kediaman Residen Belanda (Gedung Agung) juga turut ambruk. Diberitakan bahwa pada tahun tersebut Gunung Merapi marah. Pada tahun 1871 gempa terjadi lagi yang menyebabkan bangunan pemerintah dan rumah penduduk retak. Setahun kemudian, gempa menyebabkan bangunan retak-retak. Pada tahun 1916 gempa telah merobohkan 740 rumah, dan beberapa sekolah rusak. Lima tahun kemudian, 1923 beberapa bangunan dirusakkan gempa. Pada tahun 1926 beberapa orang terluka oleh gempa saat itu. Pada tanggal 23 Juli 1943 juga terjadi gempa lagi yang mengakibatkan 213 orang meninggal, 2.096 orang luka-luka, dan 2.800 rumah hancur. Getarannya terasa dari Garut hingga Surakarta.

Pada tanggal 14 Maret 1981 terjadi lagi gempa berkekuatan 6 SR di Selatan Yogyakarta. Gempa itu meretakkan dinding Hotel Ambarukmo. Gempa tektonik berkekuatan 6,5 SR terjadi pada pukul 07.31 WIB dengan kedalaman 106 km pada 9 Juni 1992. Kejadian berlangsung selama 1 menit dan getarannya terasa di daerah Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Magelang. Pada tanggal 25 Mei 2001 telah terjadi gempa tektonik berkekuatan 6,2 SR yang mengguncang Semarang, Kudus, Surakarta, Magelang, dan Yogyakarta pukul 12.10 WIB. Beberapa bangunan di Bantul mengalami keretakan. Pada 19 Agustus 2001 gempa tektonik kembali terjadi dengan kekuatan 6,3 SR pada pukul 13.33 WIB. Pada tanggal 19 Juli 2005 juga terjadi gempa tektonik dengan kekuatan 5,5 SR, tetapi tidak menimbulkan kerusakan.

Yogyakarta sudah sering mengalami gempa-gempa baik tektonik maupun vulkanik, baik yang berskala kecil maupun besar, dan selalu di luar dugaan para ahli gempa. Tidak satupun bisa menghindar dari kemarahan alam dan Tuhan kecuali Tuhan dan alam sendiri yang menghendakinya. Wahai Tuhan, ampunilah diriku ini dan wahai alam, maafkan aku yang kurang respek padamu.(ekosuryanti@yahoo.co.id)