Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” Seri-5:
Merajut Budaya Yogya, Membangun Peradaban Baru Indonesia
“…..bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan…..”
[Bung Karno, “To Build the World a New”]
BAGAIMANA merekonstruksi peradaban baru Indonesia? Siapa yang harus merekonstruksi peradaban itu? Dua pertanyaan itu harus segera kita jawab. Kita tidak membutuhkan lagi bukti atau diskusi berbelit-belit guna menegaskan bahwa peradaban bangsa mulai rapuh. Setiap hari, media massa menyuguhkan aneka tragedi kerapuhan peradaban kita. Meminjam istilah dalam rubrik politika Budiarto Shambazy telah terjadi “gerhana nurani”.
Kini saatnya kita merekonstruksi peradaban bangsa Indonesia seturut sila kedua Pancasila, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Banyak pihak berpikir dan berusaha merekonstruksi peradaban baru Indonesia. Para pakar politik dan politikus berusaha merekonstruksi peradaban baru di bidang politik dengan reformasi politik. Sayang, reformasi “setengah hati” itu justru melahirkan kultur politik baru, yaitu kultur politik kekerasan. Kata-kata mutiara Bung Karno di depan Sidang Umum PBB pada 30 September 1960 yang dikutip di awal tulisan ini, tampaknya masih relevan dengan situasi bangsa saat ini yang lagi menghadapi potensi ancaman budaya kekerasan di berbagai bidang kehidupan……Lihat selengkapnya di HD_Yogya Semesta 5 Tributed by Mr Hary Dendi
Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-4: “Yogya Untuk Semesta”
Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-4: “Yogya Untuk Semesta”:
Topik
DENGAN SERAT-SERAT BUDAYA NUSANTARA, MEMBANGUN INDONESIA BERSATU
“Rukun agawe Sentosa, Crah agawe Bubrah“
–Kearifan Jawa
“ACEH harus tetap dengan Indonesia, jika tidak kita telah mengingkari sejarah“, demikian kata Makmun Daud Beureueh, putra tokoh besar rakyat Aceh (Republika, 21 Agustus 1999). Ini adalah pikiran filsafat yang sangat dalam –pikiran yang mencerminkan kemurnian suara hati etnik Aceh– tetapi juga gambaran suara hati dan ketulusan dari banyak etnik lainnya [1].
Dr. Hasballah M. Saad, tokoh masyarakat Aceh yang lain, mengatakan: “suku-suku bangsa yang bergabung membentuk negara Indonesia justru menjadi korban pemaksaan, bukannya memperoleh kesempatan mengaktualisasikan diri“. Hal senada disampaikan pula oleh SP Morin, tokoh masyarakat Papua, yang menyatakan: “Ibarat sudah kawin paksa, istri dipukuli terus. Itu yang menyebabkan munculnya pemikiran lebih baik merdeka saja” (Kompas, 23 Agustus 1999). Demikianlah, kira-kira suasana hati banyak kalangan masyarakat di daerah, yang pada intinya menuntut ditegakkannya keadilan dan kebenaran, kesetaraan dan demokrasi serta kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia, yang kemudian melatarbelakangi ancaman disintegrasi bangsa yang memicu gerakan separatisme…………………HD_Yogya Semesta 4
[1] U. Ginting, “Otonomi Daerah”, Masyarakat Transparansi Indonesia, 3 Oktober 1999.
Dialog Budaya dan Gelar Seni 3 : Yogya untuk Semesta
“AKTUALISASI NILAI-NILAI PANCASILA”
MENURUT dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat, Kaitjoo “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” atau Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Sidang-Sidang BPUPKIBeginsel Negara”. Dalam pidatonya yang menggelegar bak halilintar, Bung Karno menawarkan Pantja Sila sebagai Dasar Negara, yang selain disebut “Weltanschauung”, juga dimaknai sebagai “Philosofische grondslag” seperti cuplikan kata-kata di bawah ini. diagendakan untuk mencari “Dasar” atau ”Pantja Sila adalah philosofische grondslag, itulah pondamen, filsafat, pikiran, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka. . .”
Meminjam istilah filsuf Rousseau, Onghokham berpendapat, Pancasila adalah ’dokumen politik’ sebagai ’kontrak sosial’, kompromi tentang asas-asas negara baru, seperti Magna Carta di Inggris, Bill of Rights di Amerika Serikat dan Droit del’homme di Perancis. Selanjutnya mengutip pendapat Eric Hoffer (Riggs, 1994), Pancasila sebagai ideologi adalah motor penggerak masyarakat, sekaligus landasan persatuan dan kesatuan untuk merespons dinamika perubahan sosial………..Lihat selengkapnya di HD_Yogya Semesta Tributed by Mr Hary Dendi
Dialog Budaya dan Gelar Seni Seri-2: “Yogya Untuk Semesta”
“Sadumuk Bathuk, Sanyari Bumi: Semangat Nasionalisme Indonesia Masakini”
Pada Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-1 dalam Babad Giyanti, tertangkap ucapan Pangeran Mangkubumi: “Sadumuk bathuk, sanyari bumi, den lakoni taker pati, pecahing dada wutahing ludira” dalam dialognya dengan Sri Susuhunan Paku Buwono II. Ungkapan tersebut sebenarnya secara tersirat ingin menegaskan bahwa kehormatan atau harga diri dan tanah (air) bagi orang Jawa merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan orang pun sanggup membelanya dengan taruhan nyawa. Sentuhan di dahi oleh orang lain bagi orang Jawa dapat dianggap sebagai penghinaan. Demikian pula penyerobotan atas kepemilikan tanah walaupun luasnya hanya selebar satu jari tangan pun. TriSakti Jiwa Proklamasi
Khusus dalam topik ini yang dituju adalah aktualisasinya pada semangat ……………. Selengkapnya di HD_Yogya Semesta tributed by Mr. Hary Dendi
Dialog Budaya & Gelar Seni Seri-1
Yogya Untuk Semesta, Babad Giyanti: Makna & Aktualisasi
Di alam globalisasi di mana hubungan komunikasi dan pergaulan dunia seakan tanpa batas (borderless), jelas membuka peluang terjadinya proses akulturasi. Jika proses akulturasi akhirnya menghasilkan dominasi kebudayaan asing, berarti memusnahkan local genius. Ini tidak lain adalah pendangkalan budaya, yang tidak mustahil bermuara pada kehancuran budaya-budaya lokal, yang berakibat hilangnya jatidiri suatu bangsa atau etnik. Sebaliknya akulturasi yang membuahkan integrasi, tatkala budaya lokal mampu menyerap unsur-unsur budaya asing justru untuk memperkokoh budaya lokal, berarti menambah daya tahan serta mengembangkan identitas budaya masyarakat setempat………….. HD_Yogya Semesta 1 Tributed by Mr Hary Dendi