Posted by: ekosuryanti | October 5, 2006

Phobianya si Terapist

Kisah ini menceritakan pengalaman teman seorang temanku, kuberi nama saja dia, Phobia si Phobia. Kupanggil dia Phobia karena memang dia memiliki phobia pada suatu hal saja. Biar penasaran kuceritakan nanti saja. Phobia adalah seorang mahasisiwi Jurusan PLB Prodi Tuna Grahita, Fakultas Psikologi UNJ. Dia tinggal di asrama guru SMP negeri di Kampung Cerewet, Bekasi. Dia tinggal di sana karena orangtuanya tinggal di sana, maklum anak salah seorang guru di sana. Walaupun Bapaknya seorang Guru agama tetapi dia itu paling takut kalau ketemu hantu atau sebangsanya. Oleh karenanya dia paling takut kalau harus melayat, apalagi mendekati jenazah. Mengikuti pengajian yang berisi tentang adab memberlakukan jenazah. Padahal kalau pulang kuliah suka malam-malam.

Sebenarnya Phobia ini memiliki wajah kayak Zaskia Adya Meca, itu lho bintang sinetron Kiamat Kian Dekat, tetapi karena gara-gara kuliah dan nyambi kerja jadi pendamping anak-anak tuna grahita kemiripan itu tidak tampak. Badannya jadi agak kurus. Walaupun di mukanya ada bekas sayatan berhuruf Z dicakar oleh seorang anak didiknya, tetapi dia tidak kapok juga mendampingi belajar anak-anak autis. Kenapa dia bisa tersayat, waktu itu ada anak autis tidak mau belajar, sehingga pipinya digrawut (dicakar) oleh anak tersebut. Tetapi gara-gara Phobia punya kiat menundukkan kucing, maka dia mampu menjadikan anak itu menjadi manis. Mengajar anak-anak autis merupakan ibadah dan tantangan. Hasil kerja kerasnya itu digunakan untuk membeli buku-buku kuliah.

Yang paling menjengkelkan dari Phobia selain phobianya, dia itu suka pelupa, tetapi anehnya kalau disuruh menghafal istilah-istilah psikologi kok cepat hafal. Untuk yang lain dia suka lupa. Ibunya selalu cerewet karena itu.

“Kunaon atuh, mondar-mandir kaya setrika, mau mandi sampek kayak gitu ?” seloroh Ibunya.

“Lupa sabun dan odol, Mah….” jawab Phobia dengan santainya, tanpa dosa.

Baru saja Mamanya diam, dia sudah balik lagi, “Lupa apa lagi…” Mamanya hanya ngomel.

“Handuknya ketinggalan……..”

Padahal kamar mandinya ada di belakang sekolah, apa sebelum mandi sudah pegal dulu……..

Phobia memiliki Ibu Sunda tulen. Kalau bicara dengan bahasa Sunda medok sekali. Kalau Phobia telah mengecewakannya dia akan betul-betul marah juga.

Seperti biasanya kalau sore hari saat Phobia tidak ada jadwal kuliah, dia suka ngobrol dengan Ibu dan tetangganya di teras rumah. Hati-hati lho kalau Ibunya suka pamer.

“Mam, kasini deh, abdi teh punya ini, …..”

“Naon, neng geulis, ………lihat”

“Mam, teman SMP ku dulu itu, muridnya Bapak, sudah jadi penyanyi, lihat nih Mam, aku diundang dalam acara pembukaan Bekasi Trade Center, dia nyanyi di sana Mam, ikut lihat ya Mam ?”

“Temanmu yang mana?”

“Itu loh, Mah, namanya Raihan Jay yang rumahnya di Bulak Kapal itu ? Masak Mama lupa, yang Mamanya suka pakai gelang kaki, mobilnya Avanza, katanya mau naik haji, itu loh Mam, masa lupa…….”

“O, itu…..kapan ?”

“Sabtu depan….”

Phobia sudah tidak sabar menunggu temannya pentas. Bagaimana ya kalau Raihan Jay nyanyi, pasti bagus. Bagaimana ya wajahnya. Ternyata seorang teman Bapaknya juga tertarik untuk melihat pentas Raihan Jay ini, karena merasa pernah mengajarnya.

Hari yang telah dinantikan tiba. Hari Sabtu itu mereka ke calon gedung Bekasi Trade Center. Phobia dan Bu Askin, teman Bapaknya duduk tepat di depan. Di sanalah dia bisa melihat Rayhan Jay, yang dulu waktu masih SMP masih badung. Sekarang Rayhan lebih bersih dan badannya besar. Ketika sedang menyanyi dia sengaja maju menyalami Phobia dan Bu Askin. Ternyata Rayhan tidak pernah berubah, masih seperti dulu, tidak sombong.

Pertemuan Phobia dan Rayhan Jay itu sungguh-sungguh berkesan sekali. Dia sering mendengar kabar Rayhan Jay menyanyi dari kampus ke kampus. Gaung ketenaran Rayhan Jay itu sudah sampai se-Jabodetabek.

Setahun kemudian dia mendengar kabar kalau Rayhan Jay masuk rumah sakit. Rayhan Jay ternyata telah lama kecanduan narkoba. Ketika dia menjenguk di RSUD Bekasi, dilihatnya tubuh kering kerontang terbaring di kasur berseprai putih. Hidungnya diinfus. Ada kemungkinan dia sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Phobia agak khawatir juga.

Dua minggu mendengar Rayhan di rumah sakit, minggu berikutnya dia mendapat berita duka bahwa Rayhan Jay meninggal dunia dalam usia 21 tahun. Dia terpaksa ikut melayat ke rumah duka bersama-sama teman-teman SMP nya yang dulu. Padahal Phobia ini paling takut lihat keranda, peti jenazah atau sejenisnya. Baru saja dia mau masuk ke rumah duka, e di depannya ada keranda mayat. Dia berusaha menutupi wajahnya.

Ketika masuk ke rumah duka, dia melihat wajah temannya itu terbaring, semakin ketakutanlah dia. Dia akhirnya pulang sendirian tanpa menunggu Rayhan Jay dimakamkan.

Gara-gara Rayhan Jay mati, dia jadi takut menunggu angkutan di depan Bulak Kapal. Wajah Rayhan Jay selalu membayangi hidupnya, sepertinya dia menjadi semakin penakut saja. Dia menjadi takut ke toilet sendirian. Kalau naik lift juga harus ditemani. Kalau biasanya mandi malam di kamar mandi belakang asrama berani, sekarang harus ditemani oleh Ibunya.

Hari yang paling menakutkan itu ketika tetangga depan SMP yang juga murid SMP tempat Bapaknya mengajar, meninggal juga karena gara-gara mabuk di jalanan, dia ditabrak bis Mirasari. Padahal menurut mitos biasanya orang yang mati demikian bisa menjadi arwah gentayangan. Itulah yang semakin menyiksa hidupnya. Dia selalu pulang ke rumah lewat pintu belakang asrama. Kalau pintu belakang dikunci, dia harus melompat pagar. Pokoknya dia takut lewat pintu depan. Kadang-kadang kalau terpaksa pulang kuliah malam-malam, dia harus menginap di rumah teman. Ketika tetangga temannya meninggal, dia ketakutan juga.

Keadaannya ini sudah bukan rahasia umum lagi. Bu Askin tahu hal ini, sehingga dia berusaha membantu Phobia mengatasi rasa takut ini. Dia sengaja mengajak Phobia jalan-jalan melewati kuburan-kuburan tua. “O, Ibu dulu waktu di Jawa kalau kecil suka main petak umpet sembunyinya di kuburan, makanya Ibu kan jadi pemberani.” kata Bu Askin. Phobia mulai berlatih untuk selalu berani.

Phobia itu kembali menggelayuti pikiran si Phobia, ketika ada isu tentang si kolor ijo. ‘Si kolor ijo’ adalah penjahat dengan kedok ilmu hitam yang mengganggu keresahan masyarakat. Katanya kolor ijo sudah sampai di perbatasan wilayahnya. Padahal kolor ijo itu sukanya mengejar cewek-cewek yang pulang malam-malam. Kalau istri ditinggal suaminya bekerja, konon selalu diganggu si kolor ijo. Itu menjadi isu utama di sejumlah harian di Bekasi. Dia sampai harus lari-lari karena takut dikejar kolor ijo. Kembali lagi Phobia menjadi takut pergi ke mana-mana. Kalau pulang kuliah malam-malam dia takut, akhirnya dia pura-pura mau berpacaran. Tujuannya agar dia selalu ditemani kalau pulang kuliah malam. Takut kan pulang sendirian. Sebeum berpacaran Phobia pura-pura melakukan terapi psikis terhadap calon pacarnya. Cowok itu mau juga menjadi kelinci percobaan terapi oleh Phobia.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: