Posted by: ekosuryanti | November 15, 2006

Wild Lion 1 (Prologue)

Musim panas di Geelong City, Victoria tahun ini terasa sangat menyengat kulit. Betul-betul musim panas yang sangat panas, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kadang-kadang ada seperti api di dekat Uluru, saking panasnya. Matahari terasa dekat tepat di atas Red Center Australia itu. Malampun masih terasa gerah. Di luar sana bintang bertaburan dihiasi indahnya cahaya rembulan. Bintang dan bulan menerangi Geelong dan sekitarnya, bagai bunga api pada Tahun Baru.

 

Tampak jelas dari jendela rumah Mrs. Roos Emile. Di sebuah ruangan perpustakaan keluarga Mrs. Roos Emile, tampaklah Paulina, anak blasteran Jawa dengan Inggris. Dia merupakan anak Diana dengan seorang Pria Indonesia. Rambutnya kekuning-kuningan agak mengombak, kulit mukanya mengikuti Mamanya yang keturunan bangsawan Inggris, postur tidak sejangkung bule-bule lainnya. Gelap sekali ruangan itu. Bangku-bangku berdebu, rak buku yang bermotif ukiran Bali itupun dibiarkan debunya hinggap di situ. Dia mengendap-endap dan meraba-raba dinding ruangan itu. Dia sengaja tidak menyalakan lampu, karena takut dipergoki oleh keluarga lainnya. Jari-jarinya menyentuh helai demi helai buku. Kadang-kadang dia harus menahan batuk, karena debu-debu bertebaran di ruangan itu.

“Ayo, aduh harus kutemukan, sebelum GrandMa tahu aku di sini mengobrak-abrik markasnya…” pikir Paulina. “Grandma and Mam memang pelit, kenapa sih rumah sebesar ini masih saja ditemukan ruangan semacam ini, dirty. Wuuuu, pelit, apa-apa dilarang, Mum, Paulina harus tahu Ayah Paulina sebelum menikah, kenapa Mum mesti membisu. Grandma juga, sudah pelit, judes lagi, kalau Paulina mencoba nanya-nanya soal siapa Ayahnya selalu saja marah-marah, apalagi kalau bicara mau belajar Bahasa Indonesia di Yogyakarta, marah saja, kenapa sih……….” terus saja Paulina bicara dengan dirinya sendiri.

“Bruuuuk………….” beberapa buku jatuh berantakan karena disampar Micky, kucing kesayangannya, kucing Persia yang selalu menemaninya. Ekornya digosok-gosokkan di badan Paulina sambil mengeong. Tangan Paulina memberi aba-aba kepada Micky untuk tidak gaduh, sambil jari telunjuknya ditaruh di depan mulutnya, “Ssst…..”

What’s up, Paulina, Indonesian grand daughter?” tanya Grand Ma-nya dari luar. Paulina hanya bersembunyi, untung ada Micky. Grand Ma terkecoh juga oleh kepolosan Micky.

“Siapa ya yang membuka ruangan ini, dasar pembantu teledor, ………Asian madwife” kata Grand Ma dengan arogan-nya sambil sedikit menutup ruangan itu. Untung dia tidak langsung menguncinya. Kalau tidak bisa terkunci berhari-hari di sana.

Paulina melanjutkan mencari asal usulnya dirinya. Dia mengembalikan buku-buku yang dijatuhkan oleh Micky sambil menggerutu, ‘Micky, bantu Paulina membereskan buku-buku ini, tunggu di sini saja, atau mau pipis dulu, sana hurry up, …’. Micky hanya bengong duduk menungguin Tuan Putrinya yang lagi menggerutu. Tiba-tiba dilihatnya selembar foto yang terselip di antara buku diary Mamanya. Di belakangnya, tertulis ‘Kuncoro, Jogja, 17 Agustus 1958′. Siapa dia? Mungkin boyfriend Mamanya, atau inikah Ayahnya. Dia bingung. Dia bolak-balik seisi buku diary itu. Aneh semuanya hanya lembaran kosong. Uup, dia melihat setangkai padi yang sudah dikeringkan, kemudian ditempel di diary itu. Eit, ada ……tulisan,……………

Dear, Diana

I must back to Jogja, because I want to see my mother, I can’t tell anything more, I know your Mum don’t like me, but you love her so much…………….Bye. If you want to meet me, may be one day, you can find me Kuncoro, Jln. P. Mangkubumi 23, Yogyakarta. I don’t have braveness to against your Mother who always be arrogant and conservative. Sorry, my dear, I must leave you, but I can’t live in Geelong city again or other city in Australia. I must build my city, I think I must do best thing to my city. I know in Victoria, I can save dolars, but I must go home………

Keep and touch,

Yogyakarta, 17 Maret 1979

your dear

 

Kuncoro

‘Siapa Kuncoro, aku harus menemukannya……………tetapi kalau penerbangan di Indonesia baru kacau begini, mana bisa aku pergi ke sana, pasti Grand Ma melarang, yah, betapa kadang-kadang Grand Ma dan Mama tampak protektif dan posesif terhadapnya. Sudah begitu selalu menghubung-hubungkan segala-galanya dengan aturan di England Royal. Dia selalu berpesan sebagai keluarga bangsawan Inggris harus selalu menjaga sopan-santun, darah kebangsawanan. Ini di Australia, Grand Ma’

Kemudian dia menemukan informasi tentang jatidirinya lagi, ini lebih lama……………..Mudah-mudahan ini bisa membantu.

Geelong City, 14 Maret 1979

Kuncoro, I am sorry, I don’t want Diana married with you, we are different, you feel, our languange, our skin, our culture are different, we are from England Royal…………………………..we are different. You must leave Diana, Please forget Diana from your mind!…………………Don’t worry Paulina with us…..I’m sorry Kuncoro…………………….I don’t want you become my son in law………

Mrs Roos

Di diary satunya dia menemukan surat dari Ayahnya untuk Ibunya lagi,…….Diana, don’t tell that I am not responsible and unbelieveable, you know your Mummy, never allow me to live together with you, I’m sorry Diana. See you again. I don’t want to live in Geelong again, I want to back to my city……………….

Paulina harus bersabar, menunggu liburan Semester genap, karena pekerjaannya menjadi guru Bahasa Indonesia pada sebuah Senior High School di Geelong City. Bagaimanapun sebagai guru muda di sana dia harus menambah pengetahuan dan keahliannya, kalau perlu belajar langsung kepada native speakernya di Indonesia. Paulina tidak mengerti kenapa dulu dia begitu mencintai segala yang berbau Indonesia dan Jawa. Dia ingin sekali pergi ke Yogyakarta, di mana di situlah Ibunya pernah berkenalan dengan seorang mahasiswa Indonesia. Yah, mungkin Kuncoro itulah Bapaknya. Dia berpikir bagaimana menanyakan kepada Mamanya kalau Grand Ma tidak ada di rumah.

Dia mencoba membuka diary-diary keluarga yang lain untuk menelusuri jejak Ayahnya, mungkinkah dia masih tinggal di sini, atau memang sudah kembali ke Yogyakarta. Dia akan mencarinya sebagai hadiah ulangtahunnya yang ke-24 nantinya. Dia juga ingin menghadiahkannya untuk Mamanya yang sampai sekarang masih menjadi single parent baginya. Setelah berpikir lebih jauh, dia memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta. Kebetulan di Universitas Melbourne menyelenggarakan program kursus bahasa dan budaya Indonesia pada Pusat Studi Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Banyak senior di kantornya yang telah lulus dari PSI UGM itu, sehingga dia penasaran ingin ke sana. Dia berharap besar bisa diterima, sehingga menjadi alasan untuk pergi ke kampung Bapaknya. Dia ingin mengetahui reruntuhan rumah pasca gempa, ingin bakti sosial bersama teman-temannya, melihat Prambanan, Kraton dan Sultan, belajar batik, dan lainnya yang Yogyakarta taste banget. Sekali merengkuh gayung, dua tiga pulau terlampaui.

******

Paulina harus bersabar menunggu pengumuman dari Universitas Monash, sampai akhirnya dia dinyatakan lulus tes. Itulah yang menjadi alasan bagi Mama dan Grand Manya mengizinkan pergi ke Yogyakarta. Kalau tahu untuk mencari Bapaknya pasti dia akan dilarang dan dimarahi. Gayungpun bersambut. Akhirnya dia bersama-sama teman lainnya terbang ke Yogyakarta untuk mengikuti program kursus bahasa dan budaya Indonesia yang diprakarsai Universitas Monash.

(To be continued)

From : EkoSuryanti Blogsome


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: