Posted by: ekosuryanti | December 15, 2006

Wild Lion 2

Pesawat yang ditumpangi Paulina dan rombongan dari Geelong City mendarat di Bandara Adisucipto tepat pukul 06.30 waktu setempat. Jaket wol masih membungkus badannya, sehingga tiupan sepoi angin pagi yang dingin tidak mengganggunya. Paulina menarik nafas panjang dan melepaskannya kembali. Kaki-kakinya menginjak tangga pesawat dengan cepat. Demikian juga dengan beberapa temannya yang juga ikut dalam rombongan. Mereka bercanda sambil melangkahkan kaki-kaki mereka di atas tangga pesawat, sedangkan mata Paulina melirik ke sana sini mencari orang Indonesia yang bisa memberi informasi kepadanya tentang Yogyakarta.

“Permisi, Pak, di manakah hotel yang paling dekat dengan lingkungan kampus GMU….” tanya Paulina kepada seorang penumpang pesawat.

“GMU itu mana to……apa itu, supermarket ?” tanya orang itu sambil menaikkan alisnya, “Di Yogya belum ada GMU………” kata orang itu sambil menggaruk-garuk kepalanya, sampai-sampai George nyeletuk,”……….uk…uk, is like monkey”, Presley hanya melemparkan tinju ke arah lehernya, “Sopan, sopan, polite please………”

“Maksud saya Gadjah Mada University, Universitas Gadjah Mada….”

“O, itu, maaf, Anda bisa naik taksi dan turun saja di Jalan Kaliurang, di sana ada Hotel Sepasang Mata Bola, dari sini masih jauh, harus menyusuri banyak jalan di Yogya….” jawaban singkat dari penumpang tersebut dengan ramahnya.

“Terima Kasih, Pak…Saya cuma ingin tahu saja, kami sudah dijemput bus pariwisata di depan sana, kok” Segera saja Paulina mendorong kopornya menuju bus pariwisata yang disediakan pihak Penyelenggara Kursus. Hampir saja Paulina lupa menghubungi Mamanya, pasti Grand Ma yang akan senewen. Paulina segera menelepon Mamanya, Mrs. Diana Roos Emile di Geelong City, “Mam, saya sudah sampai di Yogyakarta dengan selamat, sekarang sedang dalam perjalanan menuju hotel. Teman-teman bercanda saja dari tadi…….”

Dari balik lubang handphone terdengar suara parau dari Mama yang sangat mencintainya, “Paulina, ingat pesan Grand Ma dan Mama, Mama tahu kalau ada banyak laki-laki Indonesia yang handsome, janganlah terlalu akrab dengan mereka, karena sekali kamu dimakan mereka, Grand Ma tidak mengizinkan kamu kembali ke Geelong City. Setelah selesai belajar di UGM, segera kembali,” Mrs Diana berpesan betul-betul kepada anaknya agar kejadian masa lalu tidak terulang pada Paulina. Kalau baginya sih Paulina menikah dengan orang ras apapun tidak masalah, tetapi bagi Mrs. Roos Emile ini akan menaikkan gula dalam darahnya. Oleh karenanya Mrs Diana wanti-wanti betul kepada Paulina agar menjaga pergaulan di negeri orang.

Paulina heran kenapa adat Grand Ma-nya lain dengan orang-orang Australia lainnya yang mulai tidak menganggap perbedaan ras sebagai masalah serius. Sebagai gadis Barat lainnya yang mandiri dan cenderung berpikir liberal tidak menghiraukan nasehat Grand Ma-nya.

Ketika Paulina menceritakan sikap grand Ma-nya yang sedikit konservatif itu, teman-teman Paulina hanya tertawa terkekeh-kekeh, “Oh, Princess, ……segera balik ke Australia sana, he…..he kek…” kata Mac sambil terkekeh-kekeh. Paulina hanya melempar tisu ke arah teman-temannya. “Princess, silakan duduk di samping saya”, George meledek lagi dengan gaya prajurit England.

“Bener, bener, kok, Grand ma-mu itu kayak wild lion, galak banget. Waktu itu aku dan Jack main ke rumahmu, baru saja kami berdiri di depan pintu, dia sudah melotot, sambil berteriak dia bilang supaya kami jangan mengajak samenleven bersama Pauline, tahu, dia ngancam mau melaporkan kami ke polisi Australia, pantesan Grandpa-mu tidak betah di rumah, lebih suka berlayar ke berbagai negara…” sahut Hugo serius.

Baru saja asyik membicarakan kekolotan Mrs. Roos Emile, ada yang nyeletuk, “Mana Prambanannya………..?” tanya Presley tiba-tiba memecah canda mereka.

“Aduh, lihat petanya, Prambanan ada di sebelah timur, kalau ke sana, bus harus balik lagi, masih ada waktu…Mr Bean always does stupid somethings” sahut David. Presley hanya menebalkan bibirnya dan membenahi letak kaca matanya yang agak menurun.

Sepanjang perjalanan para penumpang hanya mengobrol saja, sambil mengomentari apa yang mereka lihat di jalan. Ada becak lewat ya komentar, ada puing-puing rumah ya komentar. Mereka sudah sampai ke hotel, juga komentar. Untuk sementara mereka menginap di Hotel Semalam di Yogya, karena Hotel Sepasang Mata Bola sudah penuh. Malamnya ya Pihak PSI dan Melbourne mengadakan perkenalan satu sama lain. Pihak Melbourne menyatakan kalau setelah seminggu nanti mahasiswa-mahasiswa Australia tidak boleh menginap di hotel lagi, tetapi harus membaur dengan masyarakat sekitar. Kuat tdak kuat harus ngekos seperti mahasiswa Indonesia yang lainnya. Masing-masing mahasiswa Universitas Melbourne berkesempatan berkenalan dengan pendamping-pendamping mereka dalam praktik bahasa Indonesia. Paulina berkesempatan pertama didampingi oleh Titis, salah seorang mahasiswi di Fakultas Ilmu Budaya.

“Nama saya Paulina, Panggil saja ‘Paulina’, walau saya di Geelong sudah menjadi guru, saya alumni Universitas Melbourne, tetapi tahun ini tertarik mengikuti kursus bahasa Indonesia d Yogya, panggil saja saya ‘Pauline, cukup ‘Pauline’ saja, dan Anda …?” kata Pauline sambil tangannya menyalami Titis.

“Saya Titis Putri Pertiwi, panggil saja saya ‘Titis’, mahasiswi Semester 7 Jurusan Ilmu Sejarah dan Purbakala……………….”

“Anda memakai kerudung, Anda dari Arab…”

“No, no, I am Indonesian. It is veil, jilbab………..” sebelum Titis melanjutkan melanjutkan bicara, Pak Jarot sudah memberi rambu-rambu, “Titis, jangan pernah pakai bahasa Inggris, pakai bahasa Indonesia saja, ya sayang………….”

“Maaf, maaf, Pak, saya lupa, Baiklah, Miss Paulina, iya saya Jawa asli, jilbab adalah bagian dari kewajiban dalam agama kami………..”

*******

Esok paginya mereka sudah mulai mengikuti perkuliahan di Pusat Studi Indonesia, UGM. Hampir tiap hari Pauline dan rombongan mengikuti perkuliahan bahasa dan budaya Indonesia. Seminggu setelah kedatangan mereka ke Yogya, mereka sudah harus berpencar mencari tempat kos masing-masing. Diharapkan setiap mahasiswa Australia membaur dengan masyarakat Yogyakarta. Pelajaran pertama bagi Paulina dari Titis, mengenal lebih jauh kampus dan jalur angkutan umum. Titis membantu Paulina mengenal jalur angkutan umum dan nama-nama jalan di Yogya. Yang tampak di jalan adalah sosok perempuan berambut pirang bergelombang dengan ukuran badan tidak sejangkung bule-bule lainnya dengan gadis Indonesia yang berkerudung.

“Pauline, kamu milih taksi atau bus, kalau bus tanpa AC, panas, dan kadang-kadang ketemu copet lho……..”

“Jangan kuwatir, Titis, saya kuat, kalau ada copet, akan kupukul, tetapi lebih enak naik taksi, biar saya yang mbayar……….” kata Paulina.

Sebentar kemudian Taksi Asa datang. Sopirnya keren dan gaul, sehingga enak diajak bercanda. Kalau Paulina dan Titis mengobrol, sopir itu ikut nimbrung.

“Paulina, ini lho tugu Yogya, kalau tidak terhalang rel dan baleho itu, di selatan sana tampak kraton. Di sinilah Jalan P. Mangkubumi……….”

“Apa, Jalan P. Mangkubumi………” Terkejut Paulina mendengarnya, “Beneer, ini Jalan Pa………..” Mata Paulina terbelalak sampai sopir Taksi Asa melongok ke belakang dan tersenyum lucu.

“Iya, kenapa to, kalau boleh tahu…………”

Kemudian Paulina menceritakan apa yang terjadi dengan keluarganya sehingga Mama dan Papanya berpisah. Titis berjanji akan berusaha mencari informasi tentang orangtua Paulina.(bersambung)

From : http://www.ekosuryanti.blogsome.com


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: