Posted by: ekosuryanti | January 9, 2007

Wild Lion 3

Siang ini Paulina tidak ada jadwal kuliah, sehingga dia ingin sekali menemui Bapaknya yang menurut diary Ibunya beralamat di Jalan Mangkubumi, kebetulan Titis bersedia menemaninya. Sepuluh menit sudah Paulina menunggu Titis di Bonbin (pusat jajan kampus). Lama sekali Titis datangnya. Berkali-kali dia membenahi syal yang menutupi rambut pirangnya. Dia merapikan rambut dengan tangan-tangannya, lalu mengikatnya dengan syal merah jambu. Teman-teman cowoknya suka ngledeki dia, “Auu, wild lion…”, karena Paulina suka mengibas-ngibaskan rambut pirangnya itu.

Tiba-tiba dari arah belakang ada suara cewek mengagetkannya, “Oooiii, Paulin………”. Pauline terperanjat sambil memegangi dadanya, “Adhuuuh, adhuh, kaget nih, lain kali jangan gitu, Titis, Tis, lama banget, tapi aku maklum kamu kan orang Indonesia, biasanya ngaret, upppps.” Mendengar Pauline ngomong begitu dia hanya bersungut-sungut, “Iya sih, cuman saya kan harus sholat dhuhur dulu, aku kan sudah pernah bilang sama Pauline, kalau saya kalau jam segini harus berdoa……..”. Muka Paulina berubah, seketika itu berubah total, “Aduh, kawanku, maaf, aku lupa, ihhhh, jam segini kamu harus ke kampus mosque seharusnya, maaf ya, besok kalau kamu kuliah di Australia, fasilitas beribadah itu juga disediakan di sana, kuliahlah di sana, jangan khawatir, banyak orang Timur Tengah dan Malaysia yang juga tinggal di sana………..”. Titis hanya tersenyum Pulina berkata begitu padanya. Inilah yang dia inginkan, sebuah pengertian.

Tangan Paulina belepotan minyak gara-gara makan gorengan. Pandangan pertama pada tahu isi telah mencairkan air ludahnya untuk melahap beberapa gorengan di situ.”Ternyata cocok juga makanan ini dengan lidahku….”, dia mencoba cabe di depannya, “Aduh, aduh pedas sekali Titis….”. Titis menyodorkan tisu dan air padanya. “Thanks….”. Titis hanya diam saja sambil mengagumi rambut temannya yang kekuning-kuningan seperti rambut singa, tetapi kok tidak galak. Dia juga heran kenapa ya Paulina mau berteman dengannya yang memiliki banyak perbedaan, benar juga kuliah Pak Bambang Purwanto tentang multikulturalisme.

Setelah mereka berdua selesai makan di Bonbin, segera saja memanggil taksi. Taksi Citra telah siap mengantarkan mereka di Jalan Mangkubumi. Di sana mereka melongok ke sana kemari mencari sebuah rumah, karena di sana-sini sudah menjadi pusat pelayanan masa. “Paulina, kilometer berapa, semua sudah jadi gedung untuk bisnis, apa yang dekat KR, wah nggak mungkinlah……….”. Titis menutupi wajahnya dengan ujung kerudungnya karena memang panas. “O, itu mungkin Pauline, yang kuning itu, karena itu yang kelihatan rumah pribadi, jangan-jangan sudah pindah……..”. Kemudian mereka masuk ke halaman, di sana ada seorang satpam yang seram, kumisnya tebal. “Cari siapa, Mbak, melongok ke sana kemari……”. Tanya satpam itu. “Oh, orang kirain patung” ledek Titis. “Pak, teman bule ini mau nemui Pak Kuncoro, ada enggak beliau sekarang………?” Titis berusaha meyakinkan Pak Satpam agar mau membantu.

 

 

 

 

Pak satpam hanya mengeryitkan alisnya, “Pak Kuncoronya baru ke luar kota ikut seminar tentang rekonstruksi pasca gempa, selain itu dia juga baru sibuk bisnis, jadi lain kali saja. Lagian ada perlu apa sih ?” umpat Pak satpam sambil memelintir kumisnya. “Kana, dha lunga, mesti arep njaluk sumbangan to, ……………..?” umpat Pak satpam lagi.

“Ya ampun Pak, masak bule kere, minta sumbangan, dia mau menemui Bapaknya…….!”

Landha edan, sejak kapan Pak Kuncoro punya anak landha, wis dha mulih…..!” kata satpam itu tanpa senyum sedikitpun.

“Ya udah lain kali saja, pokoknya ada urusan penting, mohon nanti disampaikan………” Paulina dan Titis ngeloyor pergi dan segera berjalan menuju Jalan Malioboro. Di sana mereka menikmati Hotdog dan ice cream. Hampir saja Titis nggak mau makan hotdog, tetapi setelah yakin bahwa hotdog bukan nama daging babi panas, tetapi nama snack, maka dia ikut mencicipi sedikit demi sedikit, agak ragu-ragu juga. Tetapi yang paling dia senangi hanyalah ice cream. Paulina memandangi wajah teman Indonesianya itu, “Tis, mungkin kalau saya nanti sudah kembali, kamu saya biayai untuk kursus bahasa Inggris di kota saya, karena kamu sudah terlalu baik sama saya…….kamu baik sekali!”

“Ah, yang benar, biar nilai pendampingan bahasa Indonesianya diberi bagus nih A atau B, ikhlas bener……..!” ledek Titis.

Paulina tidak berkata apapun selain senyum dikulum, karena kebaikan itu tidak perlu dikatakan dengan lisan. Titis pun memahami itu kedalaman hati Paulina.

******

Malamnya Paulina tidak bisa tidur, modul-modul Paulina bersebaran ke mana-mana, dia kehilangan semangat, dia menjadi putus asa khawatir tidak menemukan Bapaknya. Sudah pasti dia sudah pindah, atau mungkinkah dia sudah tahu kehadiran Paulina di kota kuno itu, tetapi tidak mau muncul, atau bagaimana, sungguh-sungguh membingungkannya, bagaimana dia bisa pulang ke Geelong kalau dia belum berhasil menemukan Ayah kandungnya. Ibu dan Neneknya bakal senewen dan membombardir dirinya dengan kata-kata yang menyakitkan. Atau haruskah dia memperpanjang keikutsertaanya kursus bahasa Indonesia atau sekalian mengambil S2 Sastra Indonesia di UGM, bingung sekali. Taktik apa lagi yang mau dia jadikan alasan untuk membujuk neneknya agar membuka hatinya, merelakannya untuk hidup lama di Indonesia. Ingin sekali dia minum anggur, tetapi dia mulai terbawa budaya Timur. Apalagi dia sekarang hidup di tengah perkampungan masyarakat setempat. Titis selalu berkata semua harus dikomunikasikan dengan Tuhan, mungkin dia benar……………………….

*******

Hampir tiap hari setelah usai kegiatan di UGM, Paulina menyempatkan diri untuk melongok sebuah rumah di tepi Jalan Mangkubumi itu. Dia ingin mencari kemungkinan lain. Kadang-kadang Titis menyertainya, kadang-kadang tidak karena Titis hanyalah sebatas kalau tidak ada kegiatan dengan kuliahnya. Hampir tiap hari rumah itu tertutup rapat. Sampai pada suatu hari dia melihat rumah itu kelihatan terbuka pintu pagarnya, sehingga dia bisa masuk. Dia melongok ke sana ke mari ke arah gardu satpam. Tumben satpamnya tidak ada. Langsung saja tangannya menekan tombol bel rumah. Seorang perempuan tua memakai kebaya sederhana membukakan pintu.

“Permisi, Pak Kuncoro ada di rumah ? Saya ada perlu sebentar………..” Hati Paulina berdebar-debar menunggu jawaban wanita itu.

“Ada, hanya saja dia baru bersiap-siap untuk pergi ke luar kota lagi. Kemarin malam baru saja pulang dari Batam, nanti mungkin hanya mau ke Semarang. Coba saya tanyakan sebentar kepada beliau, apa beliaunya bersedia menemui Anda, silakan duduk, Non…” Kemudian wanita itu masuk sebentar. Tak lama kemudian seorang lelaki muncul dari balik tirai kulit kerang itu. Rambutnya dihiasi rambut-rambut emas yang menyembul dari sela-sela rambut itu.

“Who are you ? Can you speak in Indonesian ? Siapa ya, sepuluh menit saja, soalnya saya harus segera pergi.”

“Oh ya, saya bisa bahasa Indonesia kok, saya Paulina, sekarang sedang belajar bahasa dan budaya Indonesia di Gadjah Mada University. Karena waktu saya hanya 10 menit, langsung saja, saya di sini bermaksud menemui Ayah saya yang namanya Pak Kuncoro, dia dulu tinggal di Jalan Mangkubumi. Apakah Bapak dulu pernah berhubungan dengan orang yang namanya Diana Roos Emile, ketika Anda di Melbourne?”

“Jadi, Anda mengira saya Ayah Anda? Ha…ha….ha, berapa umur Anda sekarang?” tanya Kuncoro serius sambil menutupi ggi-giginya dengan kedua tangannya.

“Begini, Tuan, umur saya akan 24 tahun, saya ingin merayakan ulang tahun saya yang ke 24 bersama Ayah saya……menurut diary Ibu saya alamatnya di sini”

“Ha…ha….ha, saya pernah pergi ke Australia, tetapi hanya untuk kuliah saja, itupun tak satupun cewek Australia yang mau jadi isteri saya, ha…ha…ha. Lagian umur saya baru 35 tahun, bagaimana mungkin saya memiliki anak seusia Anda……….Ha..ha…ha………….” Kuncoro hanya tertawa. Paulina terkejut mendengar pengakuannya.

“Umur Anda baru 35 tahun, tetapi Anda sudah beruban, dan Anda sudah memiliki lapangan bisnis yang luas, mobil Anda juga mewah……………Really, really, just thirty five, oh no, unbelieveable!” kata Paulina sambil membelalakkan mata birunya itu.

“Oya, really, I am bachelor, no wife here, may be you can register your self to be my wife, ha…ha….ha……..Do you have boyfriend, Indonesian or Australian, Atau Anda masih penasaran, lihat ini KTP saya, lihat nih………atau identitas saya lain…………” kata Kuncoro sambil menunjukkan semua kartu identitasnya. Keringat Paulina bercucuran, ternyata dia memang bukan Bapaknya. Otaknya berputar-putar hingga dia pingsan di tempat.

“Wah, jan, Mbok Pariyah, iki, landhane malah semaput, jupukna minyak kayu putih utawa apa, urusan iki, wah lak malah dadi gaweyan to………….nek aku engko ndhak ndarani aku macem-macem, wis ya, aku selek telat, engko kartu namaku tulung wenehna marang landha iki, jalukna kartu namane nggo aku, aku selek kesusu, telat aku engko……..” kata Kuncoro terus bergegas pergi. Namun dalam hatinya dia berkata,’maaf ya, aku ada bisnis di Semarang………’.

“Telat ning bisnis pa ning rabi to Ndhara Bagus………..” goda Mbok Pariyah sambil mengurus Paulina yang sedang pingsan. Kuncoro hanya tertawa dan bergegas memasukkan dokumen kerjanya ke dalam mobilnya. (bersambung)

From : http://www.ekosuryanti.blogsome.com


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: