Posted by: ekosuryanti | February 12, 2007

Bunga Kertas

      Kaki-kaki langsing bersepatu kulit dengan hak runcing itu melangkah pasti di atas lantai keramik menuju sebuah ruangan di Hotel Kirana, yang berada di kaki Kaliurang. Bayangan tubuhnya tampak sekali di balik ujung gang itu. Langkah-langkah sepatunya menimbulkan irama yang indah bagi yang mendengarnya. Tak berapa lama kemudian, dia telah berganti menjadi sosok wanita yang berbusana batik. Dia sibuk melayani tamu hotel yang akan menginap di hotel Kirana. Begitulah kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Gayatri, gadis desa yang baru beberapa minggu bekerja di Hotel Kirana sebagai petugas customer service di Hotel Kirana. Hotel Kirana, hotel berbintang lima milik Mr. Narotama Sayogi yang terletak di bawah Kaliurang. Dengan fasilitas lapangan golf luas di kelilingi pemandangan sekitarnya seolah-olah berada tepat di bawah Gunung Merapi.

 

Minggu-minggu pertama bekerja sempat membuat Gayatri terkena homesick di sana, sehingga dia harus sering bolak balik dari Kaliurang – Klaten. Di Klaten Gayatri memiliki seorang tunangan yang selalu menjadi sumber spiritnya. Sebenarnya Imam sudah berkali-kali meminta Gayatri untuk segera menikah, tetapi sepertinya Gayatri masih ingin menikmati kebebasan. Imam sendiri sudah terlalu sibuk mengajar di sebuah SMA di daerah tersebut. Kalau liburan Gayatri hanya meluangkan waktunya berduaan dengan Imam, tunangannya itu. Sebenarnya tahun depan mereka merencanakan untuk menikah, tetapi pengelola hotel belum mengizinkan. Biasa orang-orang di kampung sudah ceriwis saja, melihat mereka selalu bermesraan di jalanan desa menaiki sepeda onthel. Apabila Gayatri akan kembali bekerja, Imam dengan sabar mengantarnya hingga terminal, sambil tangannya melambai-lambaikan tangannya.

#######

Esok paginya Gayatri telah bersiap bekerja di depan meja resepsionis. Hari ini sangat banyak tamu memenuhi hampir seluruh kamar Hotel Kirana, salah satunya adalah Bastian, seseorang yang membawa pengaruh besar di dalam hidupnya. Silih berganti tamu-tamu datang. Oleh karenanya dia tidak bisa pulang duluan. Gayatri memilih pulang setelah semua tugas selesai. Hari ini dia harus mengecek data-data tamu hotel yang terus berdatangan. Tiba-tiba dia melihat seorang tamu yang berjalan sempoyongan mendekati meja kerjanya, setelah didekatinya ternyata Bastian. Rupanya dia baru saja pulang dari kafe, kasihan dia melihat pria itu, sehingga dia mengantarnya ke ruangannya. Di kamar nomor 431 itulah kehidupannya diakhiri oleh seorang pengusaha muda itu. Dalam keadaan mabuk, laki-laki itu melakukan ………………………………………

Gayatri buru-buru pulang pulang ke Klaten. Dia hanya menangis meratapi nasibnya. Sampai di kampung dia tidak menceritakan apapun yang terjadi.

Gayatri tidak kembali lagi ke Hotel Kirana. Imam berusaha menghubunginya, tetapi Gayatri terus bersembunyi di balik ilalang-ilalang. Tangisannya tidak menyembuhkan luka hatinya. Aliran sungai besar di kampungnya itu tidak bisa menyucikannya lagi. Dia ingin membalas tindakan pria yang ada di hotel itu setimpal dengan apa yang telah dilakukan padanya, tetapi dia tidak berdaya.

Sudah hari ke 7 kepulangannya di Klaten. Dia belum juga sembuh dari keadaannya. Dia begitu membenci dirinya sendiri, sampai akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya di jurang. Baru saja dia hendak mengayunkan badannya, seseorang telah menariknya ke belakang. Tidak disadarinya Imam menyaksikan apa yang dilakukannya. Dua kekuatan itu saling tarik manarik.

“Biarkan aku, kenapa harus kau cegah diriku, jangan kau cegah aku bunuh diri, aku pingin bunuh diri, biarkan aku mati, Kak” teriak Gayatri sambil menangis tersedu-sedu. Imam hanya memeluk Gayatri dan membelai rambutnya.

“Kamu tidak percaya padaku, sehingga tidak mau menceritakan apa yang terjadi padamu, sehingga berhari-hari menghindariku, menyembunyikan wajahmu di balik ilalang-ilalang, ceritalah padaku, Gayatri……………” hibur Imam kepada Gayatri.

“Kak, aku nggak bisa cerita apa yang terjadi, aku benci pada diriku sendiri, aku jijik melihat diriku di air itu…………..Lihat, Kak. Lihat Kak, memalukan sekali, memalukan sekali………….” ratap Gayatri.

“Kenapa mesti malu, mana kecerianmu, siapa yang kurang ajar padamu, coba tata hatimu, ceritakan padaku………” kata Imam.

Akhirnya Gayatri menceritakan apa yang terjadi kepada Imam dan menyatakan diri tidak mau menikah lagi dengan Imam. Imam memaksa berkali-kali agar Gayatri mau menikah dengannya, tetapi dia tidak mau. Gayatri merasa tidak berguna lagi bagi Imam dan menganjurkan Imam untuk menikahi gadis suci lainnya. Imam untuk ke sekian kalinya tidak mengerti apa yang dikatakan Gayatri. Gayatri berusaha memberi pengertian. Sampai akhirnya Imam mengerti, tetapi Imam berjanji untuk selalu mencintai Gayatri sampai kapanpun. Imam akan selalu menjaganya biarpun Gayatri tidak menjadi istrinya.

Di rumahnya kepala Hotel Kirana datang. Mr Narotama sudah menunggu lama, tetapi hanya menemui Ibunya. Dia menanyakan kenapa Kirana tidak pernah masuk lagi bekerja. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Tadinya Kirana tidak mau menceritakan apa yang telah terjadi padanya, tetapi karena dipaksa juga, akhirnya Gayatri bercerita bahwa dirinya telah ternoda oleh salah seorang tamu Hotel Kirana. Kebetulan saja Kepala Hotel Kirana adalah duda tua berumur 60 tahun yang bersedia bertanggung jawab untuk semua yang terjadi. Imampun dengan berat hati melepaskan Gayatri. Gayatri dan Pak Narotama akhirnya menikah.

Di hari pernikahan itu tertutup semua luka-luka di hati Imam dan Gayatri. Harapan mereka untuk membentuk keluarga yang bahagia telah ternoda oleh Rahwana. Akan tetapi, pada akhirnya Gayatri menikmati harta dan kesuksesan di bidang perhotelan. Begitu anak perempuannya lahir langsung dititipkan kepada Ibunya di desa. Dia sendiri hidup bersama Pak Narotama. Selama bersama Pak Narotama dia belajar apa saja, mengenai perhotelan dan bisnis lainnya. Gayatri tidak bisa megucapkan terima kasih untuk yang telah dilakukan Pak Narotama. Hanyalah keinginan Gayatri untuk meringankan beban pekerjaan Pak Narotama di kantornya.

Sepuluh tahun kemudian Pak Narotama meninggal. Meninggalnya Pak Narotama itu telah meninggalkan kesedihan bagi Gayatri. Orang yang telah mengantarkan Gayatri ke pintu kesuksesan itu telah meninggalkannya, menghadap Yang Kuasa. Sekian lamanya Gayatri termenung di atas pusara Pak Narotama.Tiba-tiba saja dia bangkit menyeka air matanya, karena tidak akan pernah ada yang bisa menyeka air matanya selain dirinya sendiri.

######

Setahun setelah meninggalnya Pak Narotama, Gayatri telah berubah menjadi singa betina di bidang bisnis perhotelan. Untuk memperlancar tugasnya dia mengirimkan anak gadisnya bersekolah ke Singapura. Dia paling tidak suka diganggu oleh anak gadisnya. Dia mulai menata kehidupannya untuk menempatkan dirinya sebagai pengusaha wanita.

Terbukti beberapa tahun kemudian dia telah memiliki anak perusahaan di mana-mana. Dia sekarang telah menikmati glamoritas. Pertemuan dengan anggota keluarga lainnya hampir tidak pernah terjadi. Bahkan dia melarang anaknya kembali, karena dia lebih suka hidup tanpa kehadiran anaknya. Dendamnya dilampiaskan dengan dia merangkul pengusaha-pengusaha muda lainnya dalam grup bisnisnya.

“Ha..ha..ha, aku telah sukses, tetapi bahagiakah aku dengan semua ini…” kata Gayatri kepada seorang teman lelakinya. Gayatri lari sempoyongan ditopang oleh temannya itu. Untung saja tidak terbersit niat buruk dari temannya itu. Temannya tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Pemandangan seperti itu sudah sering terjadi setiap ada temu kolega bisnisnya. Gayatri ingin melampiaskan dendamnya kepada beberapa teman bisnisnya. Di dalam setiap acara-acara semacam itu tanpa sengaja dia berpapasan dengan pria yang memudarkan mimpinya hidup bersama Imam. Bastian itu muncul kembali. Dan masih seperti dulu, Bastian selalu dikelilingi perempuan-perempuan seksi, masih suka minum-minum di bar atau kafe. Menginap di hotel bersama-sama mereka. Gayatri menyaksikan semua itu dengan cibiran. Melihat kenyataan itu Gayatri segera menggaet salah seorang kolega mudanya, Arnab. Arnab dengan setia menemani kemanapun Gayatri pergi.

Kalau dulu Gayatri melarang-larang anaknya, Cindi untuk tinggal bersamanya, tetapi akhir-akhir ini dia berkeinginan agar Cindi kembali. Ia segera menghubungi Ibunya agar Cindi dapat segera kembali dari Singapura. Kebetulan Cindi ingin menikmati suasana kampung Mama kandungnya itu yang selalu menjauh darinya. Cindi menjadi bertanya-tanya mengapa sekarang Ibunya begitu ngotot ingin menariknya untuk pulang.

#####

Hari ini Cindi kembali dari Singapura. Gayatri meminta Ibunya dan sopirnya yang menjemput di Bandara. Gayatri baru menyibukkan kerja dengan transaksi-transaksi bersama kolega-kolega bisnisnya. Ibunya hanya heran karena Gayatri tidak seperti Ibu lainnya yang begitu merindukan anaknya. Gayatri lain, dia justru semakin sibuk bekerja. Setiap Ibu dan anaknya menegurnya, dia hanya marah-marah.

“Apa Ibu tidak tahu, kalau aku sangat sibuk. Juga kamu, Cindi, jangan pedulikan Ibu, tidurlah dan makanlah sesukamu di sini.” kata Gayatri ketus.

Hampir tiap hari Gayatri tidak sempat bercengkerama dengan anggota keluarga lainnya. Kalau tidak pulang kemalaman, ya pulang dalam keadaan mabuk.

####

Siang itu untuk menghilangkan kejenuhan di rumahnya, Cindi bersama Neneknya pergi ke supermarket. Dia mencoba-coba baju. Kebetulan saja ketika sedang memilih-milih baju, ia bertemu dengan Bastian. Pertemuan pertama itu telah memberinya spirit untuk terus tinggal di kota Mamanya. Sejak inilah hari-hari Cindi diwarnai oleh kehadiran Bastian. Hubungan Bastian dan Cindi belum diketahui oleh Gayatri, karena Gayatri selalu menyibukkan diri pada pekerjaan-pekerjaan kantor. Hanya Arnab yang selalu berusaha memuaskannya, tetapi hati kecil Gayatri mengatakan tidak untuk Arnab. Tetapi bagaimanapun Gayatri menikmati keindahan yang diberikan Arnab.

Hubungan Bastian dan Cindi semakin jauh. Gayatri belum tahu juga sampai dia memergokinya sendiri ketika Bastian mengajak Cindi menginap di sebuah hotel yang juga menjadi miliknya. Gayatri hanya ternganga menyaksikan semua itu. Segera saja Gayatri menarik tangan Cindi dan mengajaknya pulang tanpa bicara sepatah katapun.

Bastian terus mendekati Cindi dan berusaha minta izin kepada Gayatri untuk menikahinya. Sejauh itu Bastian masih tidak mengenali Gayatri, gadis di Hotel Kirana 17 tahun yang lalu. Bastian terus memaksa Gayatri agar mengizinkannya menikahi Cindi. sampai pada suatu titik Gayatri mengizinkannya juga.

Pernikahan Bastian dan Cindi diadakan di Hall Hotel Kirana dihadiri semua kolega Gayatri. Semua orang yang tahu bahwa Cindi adalah anak Bastian hanya bertanya-tanya dalam hati, kenapa Gayatri begitu saja mengizinkan Cindi menikah dengan Bapaknya. Semua jenis minuman dihidangkan dalam pesta pernikahan antara anak dan ayah tersebut. Entah apa yang dilihat orang terhadap Gayatri saat itu, senyuman, tawa renyah, sinis, kekecewaan, atau apa. Semua tersembunyi di balik bibir berlipstik itu. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya, dia hanya bungkam.

Begitu acara usai, Gayatri masuk ke kamarnya, dia menangis tersedu-sedu melihat semua itu. Kadang-kadang diapun tertawa-tawa sendiri. Sampai pada akhirnya dia tidak sanggup lagi menahan kepedihannya. Imam, tunangannya dulu menemukannya di kamar, di sanalah Gayatri menceritakan padanya bahwa Cindi itu anaknya bersama Bastian. Segera saja Imam menghubungi Bastian agar menunda bulan madu mereka dan menceritakan bahwa Cindi adalah anaknya. Begitu Imam, Bastian, Cindi sampai di ruangan Gayatri, yang ada hanyalah sosok tiada bernyawa. Bibir berlipstik itu menahan pedih hingga bertahun-tahun. Kini dia telah puas, tetapi kesedihan tetap menggelayut di raut mukanya. Kenapa harus anaknya sendiri yang dia umpankan untuk membalas dendamnya. Kesuksesan yang dia peroleh selama ini ternyata tidak berujung pada kebahagiaan bagi dirinya.

………………………………………………………………………………………………..

Cindi telah menemukan Ayahnya dalam situasi yang serba tidak nyaman. Akhirnya Bastian menyatakan diri untuk menjalani hidup yang lebih dekat dengan Tuhan, menjauhi hingar bingar keramaian kafe, bar, hotel.

 

Tamat………………………………………………………………………….

(cerita ini fiktif belaka, kalau ada lokasi, nama yang sama mohon tidak diambil hati, disadur dari telenovela Thailand)

(ekosuryanti@yahoo.co.id)


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: