Posted by: ekosuryanti | February 13, 2007

Paijo yang tidak Ingkar Janji

 

Paijo adalah cerita pendek yang menggambarkan anak-anak petani yang mulai meninggalkan akar budaya mereka demi gengsi…….Oleh karenanya banyak sekali sawah-sawah di desa terbengkalai. Paijo tidak hanya satu orang, mungkin ada Paijo-Paijo yang lainnya yang gengsi dengan keadaan yang telah ada

ndesa1.jpgOrang-orang di kampung sudah hilir mudik akan bepergian, ada yang mau ke pasar, ada yang mau ke sawah atau kebun. Sesekali ada yang memanggil-manggil Paijo, “Hei, Paijo, ayo pergi ke pasar…….Lumayan bisa cuci mata di sana, Poniyem sudah nunggu di depan gerobak bakso”. Tetapi yang dipanggil-panggil hanya diam, sambil terus membenahi sarung dan bantalnya. Mboknya sesekali menyahut kalau kebetulan mendengar, “Paijonya lagi ngimpi Supra X dan Hape, mbok tape, embuh! Pingin jadi Panji klantung, Bocah tidak kalap“. Orang-orang yang lewat hanya cengar-cengir. Matahari sudah setinggi pohon mangga depan rumah, masih saja Paijo terbuai mimpi-mimpi. Entah lagi mimpi apa lagi dia, mungkin saja baru mimpi naik motor Supra X dan sedang menimang-nimang HP. Pemuda seumur dia belum juga punya nalar, kerja di bengkel tidak betah, apalagi tidak mau belajar sama sekali. Jadi tukang ojek saja malah digunakan untuk menggoda cewek. Apalagi jadi perangkat desa di Kelurahan. Tidurnya saja yang terus mendengkur. Masih saja bantal lusuh itu dipeluk-peluk. Matahari sudah kelihatan jelas, tapi mata dan telinga ditutup rapat-rapat. Sementara itu Ibunya sudah keluar masuk sumur mengisi air di gentong yang sudah mau habis, sambil berkali-kali memegang punggungnya. Ya, punggung tua, sudah tidak kuat lagi menahan beban. Di ember besar pakaian-pakaian Paijo semakin berbau amis, karena malas mencuci. Mboknya suka kasihan melihat Paijo, walaupun Paijo semakin malas dan berlagu, sehingga dicucikannya Paijo sekarang sudah tidak mau lagi bekerja yang kasar-kasar. Suara grubag-grubug di kali belakang rumah itu sama sekali tidak membangunkannya dari dunia maya. Entahlah, makin hari makin malas dia. Cangkul bapaknya hampir tidak tersentuh. Rumput-rumput di sawah dibiarkannya meninggi. Kerbau untuk membajak tidak pernah dikombor dengan air garam, badan kerbau semakin mengecil. Entah apa yang terjadi dengan Paijo, beberapa hari yang lalu Paijo minta dibelikan handphone sama motor Honda Supra X. Mana Simboknya punya duit sebanyak itu, kalau tidak jualan sawah, sapi atau kambing. Padahal bagi orang desa yang namanya tanah dan ternak itu harta yang sangat berharga. Dengan harapan sebagai tabungan kalau ada kebutuhan mendadak.

ndeso-2.jpgSekitar jam 10 pagi, Paijo baru bangun, menggeliat-liatkan badannya. Mboknya sudah pergi ke pasar. Bapaknya sudah menggarap sawahnya yang terletak di pinggir desanya. Betul-betul tidak ada malunya sama sekali menjadi beban orangtuanya yang hanya mendekati hari tua. Dilihatnya isi dapur Mboknya. Tampak di situ sayur tempe oseng-oseng dan sebakul nasi. “Tempe terus, kapan gemuknya, tiap hari tempe…tempe…..” Sambil marah-marah, dia mengambil nasi dan sayur sepiring penuh, seperti orang habis sambatan. Dimasukkannya makanan ke mulutnya banyak-banyak. Sudah biasa dia mengunyah makanan sambil ngomel terus, mencaci-caci makanan dan Simboknya yang memasak. Sama sekali tidak bisa menghargai orang benar-benar Paijo itu. Sementara tangan kanannya memasukkan makanan ke mulutnya yang hitam karena suka merokok, tangan kirinya memencet-mencet tombol tv, “Dari dulu tv kok ya o berwarna hitam putih melulu, merknya nasional, di atas meja doyong, kalau begini lihat orang cantik kelihatan sama saja dengan tempe goreng….(dia ngomel sambil mengunyah tempe gorengan Simboknya), sana sini hanya semut, kapan bisa beli parabola………Jangankan ada parabola, makan saja kayak gini terus.”

Ketika dia baru mau memasukkan makanan, sambil matanya melototi bintang iklan sabun mandi, Tamara Blezinky, sambil berkhayal punya isteri kayak dia, …..tiba-tiba terdengar suara-suara di balik tirai batik di ruang tengah, “…makan, makan saja, tidak usah meggerutu, memangnya kamu bisa apa, hanya tidur, makan, begadang, kenapa tidak kamu pegang itu cangkul milik Bapakmu, lihat Simbok dan Bapakmu yang sudah bungkuk dan batuk-batuk saja …..apa kamu nggak kasihan, apa kalau minta Honda Supra X itu tidak pakai uang, pakai dengkulmu saja. Jangan lihat Fajar, dia kan anak lurah, sedangkan kamu hanya anak petani, Simboknya hanya bakul di pasar Beringharjo………..” Paijo tersentak dan kaget, tidak ada orang kok ada suara………..Dia pikir dirinya telah gila, dicubit-cubitnya seluruh kulit badannya yang warnanya kecoklat-coklatan. Kemudian Paijo berteriak, “Hei,…orangtua tak tahu diri, coba perlihatkan dirimu, memangnya kamu siapa? Berani marah-marah di depanku. Kalau aku bukan anak Lurah, kenapa? Kalau Bapakku hanya petani dan Mbokku hanya bakul di pasar Beringharjo, kenapa memangnya.” Diambilnya gobang Bapaknya yang biasa untuk membelah kelapa sambil matanya melotot-lotot lari-lari ke luar, ternyata tidak ada siapa-siapa. Saking marahnya denga suara-suara itu, dia tidak melihat tanah basah berlumut di belakang rumah. Dia terpeleset dan terjerembab ke bawah. Kembali lagi suara itu datang, “Ha…ha….dasar orang gila, tidak ukur diri, ngimpi terus…”. Badannya hanya lemas, mau bangun dari genangan air itupun tidak sanggup. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dia bangun dan segera ganti pakaian.

Dari waktu ke waktu sejak terdengar suara itu dia mulai merenungi nasib dirinya. Tetapi kadang-kadang dia hanya apatis terhadap apa yang terjadi padanya. “Betul juga ya suara itu, Bapak dan Mbokku kerja apa, kok aku mimpi-mimpi dibelikan Supra X dan handphone. Hm, lalu apa yang bisa kuperbuat, aku mau ngojek juga tidak ada motor, mau mbengkel nggak punya modal. Siapa yang akan menolongku. Kalau aku membantu Bapak di sawah, apa yang kudapatkan. Capek, kulitku makin hitam, tidak ada kembang desa satupun naksir aku, punggungku yang muda ini kan bungkuk. Rupaya Paijo baru menderita penyakit paranoid akut takut jelek. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan yang lain juga membutuhkan modal yang besar pula. Mau melamar pekerjaan di ibu kota, butuh uang saku yang tidak sedikit dan pasti Bapak sama Simboknya tidak mau melepaskan. Ternyata hampir semua pekerjaan membutuhkan kocek yang tidak sedikit. Semuanya membutuhkan modal yang besar. Siapa yang akan menolongku?

Kemudian dia berlari-lari menuju di sawah. Matanya menoleh ke sana ke mari, tetapi tidak juga ditemukan yang dicarinya. Sesaat kemudian dilihat Bapaknya yang lagi membersihkan lumpur dari cangkul di parit dengan sawahnya, dicium-ciumnya tangan Bapaknya itu,”Ampun Pak, maafkan saya, saya seharusnya sudah bekerja membantu Bapak, saya sudah besar, tapi masih bikin susah Bapak saja…….Pak, saya ingin membantu Bapak cari uang, tapi Paijo nggak mau kalau disuruh megang-megang cangkul, memandikan sapi. Maaf Pak, Paijo nggak mau…” Kata Paijo sambil menangis tersedu-sedu bagaikan anak kemarin sore kehilangan mainannya. Bapaknya hanya tertawa ngakak,”Bapak ngimpi apa, kok kamu kayak gini, malu bapak, dilihat tetangga-tetangga. Sudah, sudah, kita ngomongnya di gubug saja’. Kemudian mereka berdua melewati pematang menuju gubug di ujung persawahan itu.

Paijo, anakku yang bagus sendiri, kalau kamu tidak mau megang cangkul, terus siapa yang akan mengolah sawah dan ladang kita ini. Apa kamu tidak malu sama paman-pamanmu yang masih rajin ke sawah. Kalau kamu tidak mau ke sawah, pasti nanti sawah-sawah kita diminta oleh kakekmu. Padahal sebagai orang desa, tanahlah harta yang paling berharga dibanding dengan yang lainnya. Kamu lahir dari keturunan petani, bukan dari Lurah. Kenapa kamu mengingkari kelahiranmu, Nak. Bapak juga tidak habis pikir, selain kamu sekarang ini semakin malas, juga pikirannya aneh-aneh saja. Apa Bapak harus menjual sawah atau sapi buat beli Honda Supra X sama Hape. Apa kamu ingin membunuh Bapak Simbokmu pelan-pelan……Oalah le, anakku yang bagus sendiri.”

Paijo hanya diam saja, pandangannya beralih ke arah hamparan sawah di sekelilingnya. airmata meleleh di pipinya. Rasa gengsi yang selama ini dia pegang dengan kukuhnya mulai luntur. Kadang-kadang paranoid takut jelek itu selalu mengalahkan yang lain. Kalau mengandalkan paranoidnya dia tidak akan mungkin mendapatkan penghasilan, tidak bisa membeli motor dan hp yang bagus, seperti Fajar, anak Pak Lurah desanya.

Terngiang-ngiang terus suara-suara tak bertuan itu, dia mikir terus. Sore itu dia mendatangi Kakaknya yang kebetulan tinggal di seberang. Dia mau bicara sesuatu. Di depan pintu kakangnya sudah menegurnya “Eee..Paijo, tumben ke sini, ada perlu apa, sore…sore gini. Kebetulan Mbakyumu baru nggoreng tahu isi sama mendoan, sini masuk saja……Waduh saudaraku laki yang ngganteng sendiri,”. Paijo hanya bersungut-sungut, tidak seperti biasanya selalu mbagusi. Paijo lama sekali diam membisu seribu basa, bingung mau ngomong apa. Biasanya mbakyu iparnya sudah curiga duluan, kalau Paijo datang pasti karena gara-gara mau minta uang. Kali ini Mbakyunya masih di dapur masak, mungkin nggak tahu kalau Paijo datang.

“Begini Kang Nyoto, kakangku yang paling dekat denganku hanya Kakang saja, saya pingin minta pendapatmu, pekerjaan apa yang harus kujalani nanti. Kang, aku nggak suka nyangkul lagi, memandikan sapi, aku bosan Kang, mbok cariin aku kerja yang nggak pakai nyangkul-nyangkul.”

“Mau nggak kamu ikut aku pergi ke pasar hewan, menjadi blantik. Lumayan dapat untung. nanti kamu belajar menyembelih hewan, bekerja di tempat jagal. mau enggak?”

“Berhubungan dengan binatang lagi? Mbok yang lainnya, yang megang-megang hp, atau bolpoin……..malas Kang pekerjaan semacam itu?”

“Lha, kamu itu gengsi saja adanya kok Paijo, kita ini anak agraris. Bapak dan Mbokmu petani, kamu nggak mau meneruskan pekerjaan orangtuamu. Waduh…waduh….”

“Begini, Kang pinjami aku montormu untuk ngojek di pasar Kang…..aku tetep mau nyangkul, tapi yaitu aku mau nyambi ngojek,……”

“Urusan perempuan lagi ini,…..ngojek atau perempuan. Jujur saja, naksir Poniyem anaknya bakul bakso ya…..Paijo, Paijo

“O…alah Kang, tega betul ngomomg begitu sama Adik lanang, ora Kang, benaran…”

“……… ya udah pakai itu Yamaha…….”kata Kang Nyoto sambil mengunyah bakwan yang tadi dipegangnya. Sesekali mengisap rokok gulungan. “Lihat nih, Kakangmu ini merokok ya cukup rokok gulungan, sedang kamu nggak kerja saja maunya rokok Samsu melulu…..Kasihan Simbok, Di.”

Paijo baru lega ketika Kakangnya mengabulkan keinginannya untuk meminjam montor Yamahanya, biar sudah jelek, tetapi lumayan, siapa tau bisa menambah uang. Lama-lama bisa buat beli Hp, si Noki…(maksudnya Nokia).

Paginya tampak Paijo sedang memandikan montor Yamahanya itu dengan air kali. Bapak Simboknya hanya terheran-heran dengan perubahan Paijo tersebut. Apa Paijo sedang kesurupan apa ya, kok nyanyi..nyanyi Sewu Kuta……Setelah mandi langsung berpamitan pergi ngojek di pasar kecamatan. Dasar Paijo memang gemagus, glelengan (laki-laki ganjen) di pasar pun disorakin sama cewek-cewek yang ada di pasar. Pantes-pantes kalau nggak mau megang pacul sama ngarit buat makanan sapinya Bapaknya. paijo, Paijo mbok eling.

Janji Paijo untuk berubah sikap dan perilaku tampaknya betul-betul terwujudkan, untuk berapa lama itu……………O-alah Paijo..Paijo kamu itu mbok nggak usah nggaya, kasihan mbokmu to….


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: