Posted by: ekosuryanti | April 9, 2007

Wild Lion 4

Paulina terbaring lemas di atas sofa ruang tamu rumah pengusaha muda dari Jogja, Kuncoro Rajendra. Di dekatnya duduk wanita tua yang kalau tertawa kelihatan gigi-gigi emasnya. “Mbaaak Paulina, sudah baikan, tadi embak pingsan, setelah ngobrol sama ndhara Kuncoro, ada apa to ? Kalau Mbok Parinten boleh tahu ?” tanya wanita itu kepada Paulina sambil tangannya memijat kaki Paulina.

“Aduh, Bu, apa yang telah dilakukan Pak Kuncoro pada saya ? saya masih bersih kan Bu ?…” Paulina terus mengamati dirinya. Dilihatnya celana jeansnya masih utuh, dia juga masih memakai baju. Dia setengah tidak percaya, dia pingsan di dalam rumah seorang lelaki, tetapi pakaian masih utuh.

“Eit, malah ganti bertanya, Mbok Parinten yang nanya, Non, tadi habis ngobrol sama den Kuncoro, Non pingsan, setelah dia pergi kerja karena memang tergesa-gesa, dia itu emang suka kesusu-susu, jadi ya gitu, nggak sempat lihat Non sadar, siuman dari pingsan. Dia itu kalau sudah bisnis, lihat perempuan cantik juga sudah tidak kelihatan…….Percayalah Non, tidak terjadi apa-apa dengan Non, Tuan itu hanya gayanya saja kok, aslinya kalem dan alim…….” jelas wanita tua itu.

Paulina masih kelihatan tidak percaya, “Bu, benarkah Pak Kuncoro itu belum punya anak dan isteri, dan masih berumur 35 tahun………sulit dipercaya!”

“Bener Non, Ndara Kuncoro itu masih senggel, dulu waktu kuliah pernah patah hati, jadi sampai sekarang nggak mau kawin, maunya kerja terus…………Memang kayaknya di atas 40 tahun-an, tetapi karena dewasa duluan, ya begitulah………..Bener Den Ayu, dia memang bukan Bapaknya, eneng, Den Kuncoro itu sejak kecil saya yang nggula wentah kok, wong orangtuanya sibuk kerja, tetapi dia tidak mau macam-macam, sampai menghamili perempuan……………”

Untuk sementara dia lega karena tidak diperkosa orang, tetapi tentang orangtuanya. Pikiran Paulina masih berkutat pada kemungkinannya untuk menemukan Bapaknya, lalu di mana Bapaknya tinggal ya ? Mungkinkah dia sudah pindah di kota lain ? Atau malah sudah meninggal, kalau meninggal di mana makamnya. Dia hanya berbisik dalam hati, Oh my God, Ya Tuhan, mudah-mudahan dia belum pindah dari kota ini. Kemudian dia bangkit pelan-pelan dari sofa, karena Mbok Parinten khawatir dengan keadaannya, dia berusaha membantu, tetapi Paulina tidak mau. Paulina segera merapikan dirinya dan segera berpamitan pulang.

*********

Paulina tidak sanggup menahan dirinya, langsung saja dia masuk kafe dan menenggak anggur. Sudah lama dia tidak merasakan anggur. Dia nikmati minuman itu sampai dia terobati rasa kecewanya. Tiba-tiba Titis ada di depannya. “Eh, Titis, maaf ya, saya tidak sanggup lagi menahan kekecewaan saya, saya ke Jogja hanya ingin bertemu Bapak saya, tetapi sekarang dia entah ke mana………..Bisakah kamu menolongku, berdoalah kepada Tuhan agar aku bisa bertemu Bapakku…….” rajuk Paulina. Titis hanya diam duduk di depannya, dia tidak merasa berhak melarang Paulina, karena itu sudah budaya di negerinya.

“Paulina harus semangat, kalaupun kamu belum berhasil menemukan Bapak kamu di sini, tetapi…Paulina paling tidak sudah master bahasa dan budaya Indonesia. Titis akan berusaha membantu seoptimal mungkin, siapa tahu tidak disangka-sangka Bapak kamu masih ada di dekat sini……” Titis berusaha menghibur Paulina. Paulina masih memasukkan tetes demi tetes anggur di depan meja bundar itu.

“Tis, memang kamu begitu manusiawinya kepadaku, maaf saya harus minum, karena betul-betul saya pingin banget anggur………….”. Titis tidak bisa menjawab dengan dalih apapun selain tersenyum.

********

Setelah semalaman tertidur pulas, pagi harinya Paulina telah siap dengan kuliah-kuliah bahasa dan budaya Indonesianya. Kebetulan hari ini ada kuliah praktik seni. PSI mendatangkan guru dari Koen Gallery. Dalam kuliah praktik ini para tutor diwajibkan mendampingi para mahasiswa tamu. Oleh karenanya dimana ada Paulina, di situ Titis juga ikut.”Eh, ketemu lagi, sudah sehat kan?” sapa Titis. Paulina hanya mengacungkan jempol padanya. Tak lama kemudian seorang pria berambut putih masuk membawa perlengkapan batik.

“Selamat Pagi, Mbak-Mas semua, apa kabar, perkenankan saya di sini memperkenalkan diri, dan memperkenalkan batik kepada kalian semua. Panggil saja saya Pak Uban, karena banyak uban di kepala saya. Dulunya sih ngganteng, sampai ada bule kepincut, …………..” Pak Uban memperkenalkan dirinya dengan akrab sambil mempersiapkan bahan-bahan batik. “Tis, tolong canting, malam dan kain ini dibagikan kepada teman-teman landhamu itu………….”

Pak Uban, begitulah pria itu dipanggil, tidak semuanya tahu nama aslinya. Dia mengajari semua mahasiswa asing dengan sabar. Bagaimana dia menjelaskan dari bahan-bahan sampai cara membuat cairan batiknya dengan gamblang. Kadang-kadang diselingi banyolan. Ada bule yang tertawa, tetapi ada juga yang nggak ngerti diajak banyolan.

Tangan-tangan Pak Uban menggerakkan cantingnya ke kain yang sudah digambar motifnya, kemudian mengawasi semua mahasiswa. Paulina tidak bisa mengikuti perkuliahan itu dengan baik. Pikirannya masih pada Kuncoro. Nama Bapaknya itu selalu diingatnya. Begitu berartinya orang itu baginya. Oleh karenanya ketika Pak Uban mendekatinya dia tidak tahu.

“Coretan Anda masih kasar, ………..pelan-pelan, nggak usah tergesa-gesa,” kata Pak Uban sambil membenarkan tangan Paulina yang tampaknya kurang benar memegang canting dan menggerakkannya. “Hati-hati agar tangannya nggak belepotan………….”

Paulina merasakan energi hangat yang lama sekali dia rindukan. Belum pernah dia merasakan energi tersebut sebelum bertemu dengannya. Namun dia tidak yakin dengan apa yang dirasakannya, karena jelas-jelas nama orang itu Pak Uban. Demikian pula yang dirasakan Pak Uban, dia merasakan energi yang dulu pernah dia rasakan ketika masih berada di Geelong. Namun semua terlewat begitu saja, sehingga kesan-kesan yang mendalam itu tidak mereka hiraukan. Baru kemudian ketika rombongan kursus bahasa dan budaya Indonesia itu mengadakan studi ke Gallery beliau yang terletak di belakang Merapi View.

******

Jumat Pagi yang cerah di bulan Oktober, Paulina dan teman-temannya berangkat ke Gallery milik Pak Uban. Gallery tersebut berbentuk joglo seluas 50 meter persegi, yang dikelilingi taman bunga melati dan taman anggrek. Taman itu sangat luas sekali, kira-kira 500 meter persegi.

Sebelum belajar melukis batik, mereka diberi kesempatan untuk menyaksikan rumah-rumah tradisional yang masih bisa dilihat di kampung itu, selain itu hamparan sawah yang hijau yang bagian depannya telah tertutup real estate. Paulina dan kawan-kawan mencoba untuk meniru para petani memetik padi dengan ani-ani. Ada yang tangannya terkena ani-ani. Setelah puas menyaksikan rumah-rumah tradisional dan persawahan, mereka mendapat kesempatan untuk menyaksikan hasil karya lukis Pak Uban.

Mata Paulina terfokus pada sebuah lukisan wajah. Kalau dia amat-amati wajah tersebut lebih mirip Mamanya, Diana yang ada di Geelong. Tepat di sudut lukisan itu tertulis, Geelong 1979. Paulina terkejut dan segera menghampiri Pak Uban yang sedang mempersiapkan perlengkapan lukis batik.

“Maaf, Pak, saya minta waktu sebentar sebelum belajar lukis batik dimulai, saya melihat sebuah lukisan wajah di sudut sana, apakah Bapak mengenal wanita tersebut….?” tanya Paulina sambil membelalakkan mata.

“Wah…..Hmmmmm…” Pak Uban hanya menghela nafasnya panjang-panjang. “O, itu foto masa lalu saya. Wanita itu bernama Diana, dia isteri saya, dulu dia tinggal di Geelong, sekarang dia di mana saya nggak tahu, …………keadaan telah menyebabkan kita berpisah. Anda sendiri lahir di mana, dan berumur berapa, maaf,………….waktu itu mungkin Anda belum lahir.” jelas Pak Uban. “Sebenarnya berat bagi saya menceritakan ini kepada orang lain, dan saya ingn melupakan masa lalu saya itu, tetapi Anda malah bertanya, lagian gara-gara saya bertemu dengan kalian saya jadi ingat Geelong.

From : ekosuryanti blogsome


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: