Posted by: ekosuryanti | April 16, 2007

Wild Lion 5

“Kriiing….kring..kring” suara sepeda onthel Paulina, di belakangnya duduk seorang cewek berjilbab. Begitulah Paulina yang berambut pirang sewarna dengan singa itu menjalani hidupnya di Jogja mengikuti harmoni alam. Mereka berdua menyusuri jalan selokan Mataram. Air selokan Mataram yang selalu coklat mengalir ke timur. Orang-orang di jalan hanya heran, loh, ada bule kok bisa akrab-akraban dengan cewek berjilbab. Bule itu biasanya kan glamour, mewah, dan diidentikkan pada liberalisme dan sosialisme. Atau kah ini tanda kiamat kian jauh atau kiamat kian dekat. Bagi Titis, hal itu perlu dihadapi dengan kepercayaan dirinya, namanya juga berotak Titis, dan titisan Dewi Kuan In Posat, wajarlah.

Titis memang pengidola Dewi Kuan In Posat, sehingga suka membaca novel-novelnya tentangnya. Bagaimana seorang Dewi Kuan In yang dulunya adalah seorang pangeran, justru mengembara, hingga akhirnya mendapat keajaiban. Saking sibuknya Titis berkhayal, kepalanya terantuk punggung Paulina,…”Aduh, sorry Paulina, mau nabrak bocah sini, aduh, hampir masuk selokan, kamu ngapain sih, Tis ?” Titis hanya senyam-senyum.

“Memangnya Paulina bisa capek, kalau gitu biar saya yang di depan…”

“Oh, no, my dear, I am bigger than you…….” kata Paulina sambil mencium Titis.

Orang di sekitar selokan hanya melongo. Mungkin mereka sudah berpikir kalau-kalau Paulina dan Titis adalah pasangan lesbian. Ketika Paulina dan Titis mendengar bisikan itu mereka tertawa keras sambil nyeletuk, “Oh no, we are pretty girl, we love Leonardo d’Caprio, we love Tora Sudiro, we love Christian Sugiono, and Ringgo,…….no, ha…ha…ha, and Mr. Raditya, a young arkeolog, he..he..he….”. Hampir saja mereka berserempetan dengan Honda.

Ketika mereka melewati sebuah sekolah dengan gereja dan suasana yang tidak seperti di sekitarnya, Paulina hanya teriak,..”Wow, kenapa aku bisa melihat apa yang ada di Geelong…”.

Titis mengiyakan, “Soalnya sekolah ini dulu dibangun oleh orang Belanda, jadi banyak sekali vegetasi yang mirip dengan yang ada di Belanda. Cemara yang tingginya kira-kira 15 meter. Di sana masih banyak cemara, dengan gereja tuanya”. Ketika ada beberapa pastur sedang ngobrol dengan siswa-siswi sekolah Karitas itu, tiba-tiba siswa-siswi itu say hello. “Hello, cewek…”. Paulina dan Titis ikutan histeris, “Hello…hello everyone. We love you all…….”.

“Loh, ternyata kita punya selera yang sama……………………..”

Waduh, giliran jalanan menanjak, Titis harus mendorong, tetapi Paulina harus turun juga, sampai akhirnya sampai juga ke rumah Titis. Rumah yang sederhana, tetapi bersih. Di depan rumah banyak pohon mahkota dewa dan kuping gajah. Mata Paulina berputar-putar melihat suasana kanan kirinya.

“Assalamu ‘alaikum, Pak ada temannya Titis,……….Pak!” terdengar suara Titis memanggil-manggil Bapaknya. “Pauluna, masuk dulu, ya inilah istana bagiku keluargaku, tidak mewah, kursi kayu, bukan sofa, kalau duduk pantat bisa sakit.” Kembali lagi mata Paulina berputar-putar menyaksikan langit-langit kulit bambu yang dipernis di rumah itu. Bibirnya berdecak. “Ccccct, serba alami……………..”

“Hello, how do you do, I am Titis’s father, Sarjono……….” seorang Bapak berusia 40 tahunan menyalami Paulina. Paulina dengan penuh hormat membalas sapa Bapaknya Titis. “Hello, Pak, apa kabar…………..”.

“Ya, beginilah rumah Titis, di sana-sini kayu, anak itu memang kadang terlalu idealis. Begitu dia meminta, yaa Bapaknya yang harus berusaha mewujudkan impiannya.

Paulina terkesan oleh Bapaknya Titis. Apakah setiap Bapak Indonesia seperti itu. Bahagianya Titis memiliki seorang bapak yang sangat perhatian kepadanya. “Itu fotonya, Bapak, pakai seragam, e, Bapak kerja di mana…”.

“Bapak, sih tidak makan kuliahan, hanya sampai SMA, jadi kalau pun jadi pegawai negeri ya belum punya jabatan. Biar nanti Titis yang melanjutkan cita-cita Bapak, katanya dia pingin jadi ahli perencana budaya yang handal di Kepatihan……..anak itu kalau punya keinginan tidak bisa ditahan. Mudah-mudahan keinginanya terkabul oleh Tuhan……Habis anak itu terlalu percaya diri…………….Hanya saja Dik Paulina nanti yang harus mengajari dia tentang semua yang berbau globalisasi dan internasionalisasi, kasihan dia kalau tamat S1 nanti tidak tahu tentang dunia luar, maklumlah, keluarga kami keluarga sederhana, Bapak tidak membiasakan Titis dengan perhiasan permata, baju-baju mewah, atau sepeda motor yang model baru, hanya jalan kaki atau kalau mau naik sepeda mininya, tuh di belakang rumah…….Begitulah Dik Paulina”

“Mmmm, beruntunglah Titis, bisa hidup bersama Bapaknya, sedangkan saya sejak bayi ditinggal Bapak saya pulang ke Indonesia……….”

“Maksudnya, nak Paulina, bagaimana, Bapak belum ngerti, Titis belum pernah cerita soal itu. Dia cuma suka cerita kalau punya teman akrab bule……………”

“Bapak saya sebenarnya orang Indonesia, tetapi karena saya lama tinggal di sana, mungkin ke-Indonesia-an saya tidak kelihatan, tetapi hati ini ada Jogja, di dada ini bersemayam nama Jogja, ke Jogja lah saya mencari Bapak saya, katanya dia tinggal di sini. Semuanya gara-gara nenek yang terlalu primordialis dan kolot……………Ngomong-ngomong Titis lama sekali…………”

Baru saja diomongkan, Titis sudah muncul membawa mangkok-mangkok Indomie rebus……., “Kita akan menyantap Indomie rebus kesukaan kamu, Paulina, kamu suka kan?”

“Ah, tahu saja kamu……..mana aku bantuin…….”

“Sudah beres, kok, ayo-ayo kita makan, Bapak badhe dhahar di sini atau di dalam?”

“Uwis Bapak mau lihat kantor dulu, katanya baru pada sibuk nglembur. Dik Paulina, Bapak ke kantor dulu, maklum, baru banyak pekerjaan di kantor, maklum, abdi negara…(civil servants). Selamat menikmati suasana rumah kami Dik Paulina, anggap ini rumah sendiri, tapi ya cuma kayak ginilah, tidak sama dengan yang di Australi, monggo…..”.

Inilah kesempatan pertama Paulina menginap di rumah Titis. Dia senang sekali bercanda dengan keluarga Titis. Tetangga-tetangga Titis ikut-ikutan nimbrung ke rumah Pak Sarjono. Betul-betul katroo, seperti tidak pernah lihat bule.

Titis sengaja mengajak Paulina menikmati udara sore di kampungnya. Kampung yang di sana sini masih banyak kebun melati. Jadi kalau bunga-bunga bermekaran baunya sampai ke mana-mana. Bercanda dengan anak-anak kecil di kampungnya, anak-anak yang bisa minta diajari belajar kalau menjelang tes. Anak-anak katroo, sok akrab banget, ndeso banget.

Malam harinya Paulina dapat mencium bau bunga melati dari kebun milik Neneknya Titis. Mata Titis sudah berat untuk dibelalakkan lagi. Melihat sosok Bapaknya Titis, Paulina kembali membayangkan sosok Pak Uban yang mengajar batik. Andaikan dia itu Bapaknya beneran. Tangan Paulina mencubit Titis, “Tis, kamu masih ingat Pak Uban, dan lukisan wajah Ibu saya di galery beliau………………”

“Hmm, iya, masih juga kamu berambisi mencari Bapak kamu, tetapi itu hak kamu…………Kita masih bisa bertemu Pak Uban untuk beberapa session perkuliahan, jangan khawatir. Lagian kita sudah tahu rumahnya. Kapan-kapan kita bisa mencarinya. Kenapa to, Titis kan sudah bilang, lebih baik master bahasa dan budaya Indonesia, daripada capek mencari Bapak kamu. Mari kita raih bintang, Paulina.”

“Iya, sebenarnya aku sudah hampir melupakannya, tetapi ketika aku melihat Bapak kamu yang begitu baik dan perhatian kepadamu, aku ingin melihat Bapakku, yang mungkin sama seperti Bapak kamu. Aku memang biasa dengan kehidupan remaja Barat, tetapi aku manusiawi kan kalau aku cari Bapakku…….”

“Terserahlah, aku hanya bisa membantumu, tetapi kita tidak boleh kehilangan kesempatan belajar di kampus, kita cari Bapak kamu di luar jam kuliah….”

“Maafkan aku, Tis, sebenarnya aku sudah yakin dengan master bahasa dan budaya Indonesia, cuman begitu lihat Bapak kamu aku ingin bertemu Bapakku juga, maafkan aku Tis, sebelum aku merayakan ulangtahunku, ……..Bapak kamu baik”

“Anggap saja Bapakku Bapakmu juga, nggak papa kok. Ibuku juga Ibumu juga……..santai. Sudah ya, Paulina aku ngantuk, besok ada kuliah berat……..takut terlambat, bisa diomeli”

“Terima kasih Tis, kamu sahabatku yang sangat baik…………”. Entahlah apakah Titis masih bisa mendengar kata-kata Paulina…….”

Bau wangi bunga melati masih tercium tajam, hawa semakin dingin. Sementara itu RingRoad Utara mulai sepi, tak satupun kendaraan yang lewat. Mata Paulinapun terpejam dalam mimpi yang indah.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: