Posted by: ekosuryanti | April 18, 2007

Wild Lion 6

Galery Pak Koen selalu didatangi tamu-tamu manca. Menjelang larut malam tamu-tamu bukannya semakin berkurang, tetapi justru semakin banyak. Kadang-kadang tetangganya ikut nimbrung di sana. Pak Koen sibuk melayani mereka. Ada beberapa lukisan batiknya laku malam itu. Kalau sedang laku hasil lukisannya itu, Pak Uban selalu mengundang para tetangganya yang selalu jaga malam untuk ditraktir seafood. Seafood itu langsung dipesan dari restaurant Muara Kapuas.

“Wah, Pak Koen, makmur ya, uangnya dolaran, yang beli lukisannya saja landha-landha…”

“Wualah, rezeki dari Gusti Allah, syukuri saja……Aja mung nyawang aku…”

“Tapi, aku bener-bener heran lho, Mas Koen, Mas Koen ini kurang apa, ada uang, ada rupa, ada otak, kok ya nggak mau nggandeng cewek-cewek, ambil satu lah pengunjung galeri, kebanyakan jet zet….”

“Saya itu sendiri bukan berarti nggak ada isteri e Mas, bojoku ki ning Australi, kae lho sing fotone tak pasang ning galeri…..Apamaneh nek weruh cah-cah sing dha sinau lukis batik wingi kae, wah, leh ku kangen anakku banget-banget………….”

“Wah, lha wong artis saja isterinya di depan mata juga masih selingkuh, masih macam-macam, lha kok Mas Koen masih saja setia………..”

“Loh, kita ini orang Jawa, setinggi-tingginya pendidikan priyayi Jawa, harusnya kalau cinta itu sekali untuk isteri untuk selamanya, bukan untuk mainan, walaupun memang saya agak kurang beruntung……………….”

Piring-piring yang ada cumi, udang itu akhirnya tinggal kuah-kuah. Di tempat sampah menumpuk duri-duri ikan bawal dan kulit udang. Satu per satu mereka mencuri piring-piring yang mereka pakai. Mereka merasa tidak enak karena sudah ditraktir oleh Pak Koen, e kok malah ninggali cucian. Tanpa segan-segan para petugas ronda membantu Pak Koen menutup joglo galeri itu.

“Wah, kalau kehilangan satu lukisan saja, Pak Koen sudah kehilangan uang ratusan ribu………Pak Koen, Pak Koen bejonya sampeyan. Kami sih bisanya cuma menjadi tukang……….”

“Tukang, tukang itu juga halal, kalau ditekuni pasti bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup, bisa untuk menyekolahkan anak, ditabung sedikit demi sedikit, soalnya biaya sekolah kan mahal……..” kata Pak Koen sambil membersihkan kursi goyangnya yang agak berdebu.

“Pak Koen, Kami keliling dulu ya Pak, besok lagi, makasih seafoodnya……….”

“Iya, iya, besok ke sini lagi, memandangi bintang-bintang malam di angkasa sana…………..”

“Tentu saja, apalagi kalau ditraktir lagi, wah mak nyos, bisa lupa pulang…”

“Bener, makasih banget, Pak, mudah-mudahan Pak Koen bisa ketemu sama Diana dan anaknya lagi. Biar kebahagiaan Pak Koen tambah lengkap………..”

“Hue, dicuci dulu bekas makannya, nggak tahu diri amat, sudah ditraktir, nggak mbantu nyuci piring. Kasihan Pak Koen….”. Sebelum meninggalkan joglo galeri Pak Koen, para petugas ronda itu mencuci bekas makan mereka. Sarungpun mereka ikatkan di pinggang.

Begitu Bapak-Bapak petugas ronda meninggalkan joglonya, Pak Koen seperti biasanya menikmati malam-malam yang dingin sendirian. Di kamar tidurnya yang sekaligus studionya dia menerawang jauh hingga ke negeri Kanguru. Di sanalah dulu dia menyayat dan tersayat hatinya dan hati orang yang dicintainya gara-gara cinta pada adat yang berbeda. Dia kian jauh menerawang tanpa sadar bahwa buah hatinya sedang menimba ilmu di jantung kota Jogja.

********

Bunga-bunga bougenvile di Pusat Studi Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya bermekaran. Satu per satu berguguran tertiup angin pagi. Daunnya dibasahi embun yang tetes demi tetes turun dari daun ke daun. Kamboja di depan laboratorium purbakala juga menebarkan keharuman. Baik Titis maupun Paulina sedang sibuk dengan urusan-urusan masing-masing. Titis sibuk mempersiapkan seminar proposal skripsinya. Proposal harus dikumpul paling lambat tiga bulan lagi. Dia mengalami kebingungan dalam mencari tema. Dia harus memilih sumber yang berbahasa Belanda yang melalui proses penggalian yang lama atau sumber bahasa lokal.

Paulina juga sedang sibuk menghadapi ujian midsemester. Berhari-hari tutorial diliburkan dan akan disambung setelah midsemester selesai. Paulina untuk sementara harus melupakan Titis dan keinginan untuk menemukan Bapak kandungnya.

Titis sendiri mulai menemukan ide, dia kan menulis perjalanan seni rupa di Indonesia sejak zaman klasik hingga zaman kontemporer. Dia mulai menetukan siapa ya sumber lisannya. Terbersit di dalam ingatannya, oh ya Pak Koen. Dia pasti bisa membantu. Siapa lagi………Wah, berarti nanti sore harus datang ke rumahnya dulu. Mau ngajak Paulina enggak ya, dia merasa nggak enak karena Paulina baru ujian. Masak sih sudah jauh-jauh datang dari Australia, malah nggak bisa mengerjakan ujian. Tetapi, Paulina kan sangat antusias untuk mengetahui jati diri Pak Koen lebih jauh. Bagaimana ia bisa mengajak. Ketika jam istirahat Titis menemui Paulina di Pusat Studi Indonesia.

“David, lihat Paulina tidak, dari tadi nggak ketemu. Dia ikut ujian kan tadi?” tanya Titis pada David yang kebetulan duduk-duduk di taman.

“Kenapa sih kamu, cewek kok cari cewek, carilah daku Tis, aku rela melayanimu, aku rela melakukan apapun, aku juga rela menemanimu ke mosque…?”

Sebelum David ngerjain Titis lebih jauh, Paulina sudah nongol, “Hello, Tis, apa kabar, aduh aku kangen kamu, ada pa kok mencari saya?”

David hanya berdehem, “hmm,…hmmmm, kayak lesbian, cewek kok cari cewek…, carilah daku, jadikan aku pacarmu…”

Celetukan David itu sempat membuat Paulina senewen, tetapi Paulina sadar David memang bocor, walaupun begitu dia sangat ramah. Paulina hanya tersenyum dan melempari David dengan kulit salak. Setengah terengah-engah Titis bicara pada Paulina, “Paulina, saya kan punya ide mau membuat proposal skripsi tentang sejarah seni rupa, jadi aku perlu cari sumber lisan, salah satunya Pak Koen, kamu mau ikut enggak, kalau ikut nanti sehabis sholat Asar kita ke sana……Kalau kamu tidak keberatan”

“Maksudnya habis jam tiga ya, itu ide bagus, aku ikut……..”

“Loh, kamu kan lagi ujian, gimana……….”

“Tidak masalah, aku masih ingat isi mata kuliahnya Pak Baskoro, kan hanya sebentar….Jam berapa kita berangkat, ketemu di mana ?”

“Bagaimana kalau jam setengah tiga di sini……….Aku juga ada midsemester kok, sampai jumpa nanti……Bye”.

“Sudah nih……..beneran?” celetuk David. Titis dan Paulina hanya melemparinya biji dan kulit salak. David menutup mukanya dengan diktatnya, “Kurang ajar, sialan….ha…ha…ha, wah ketemu Xena dan temannya nih, sudah ngalah nih”

Kemudian Titis dan Paulina menuju ke ruang ujian masing-masing. Untuk sementara melupakan urusan masing-masing, berusaha mendapat nilai plus dalam ujian masing-masing.

*********

From : http://www.ekosuryanti.blogsome.com


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: