Posted by: ekosuryanti | May 12, 2007

Pergi ke Alexandria

Alexandria dan Kyoto merupakan contoh keberhasilan pembangunan kota berbudaya di dunia, sehingga termasuk dalam liga kota budaya dunia. Alexandria memiliki kenangan sejarah kegemilangan yang juga masih bertahan hingga sekarang, walaupun mengalami pasang surut dalam sejarah penentuan jatidirinya. Alexandria yang sekarang ini merupakan akumulasi pasang naiknya peradaban yang berusaha dibangkitkan dan diabadikan oleh beberapa person.

Setelah ditemukan oleh Alexander yang Agung atau Iskandar Zulkarnain pada tahun 331 SM, kemudian dibangun dan dijadikan Ibukota Mesir Kuno pada zaman hellenistik yang disimbolkan melalui mercusuar legendaris Pharaos (salah satu keajaiban dunia). Di sinilah terjadi perseteruan Cleopatra dan Mark Antony. Di sinilah pusat pendidikan dunia kuno. Alexander berusaha memadukan unsur-unsur budaya Timur dengan budaya Yunani dan Romawi yang merupakan cikal bakal kebudayaan Barat.

Dibalut pesona pantai Laut Mediterania yang bagaikan surga, bagaikan intan permata / zamrud Mediterania (pearl of Mediterranean). Terhampar di sebelah barat laut delta Nil. Alexandria mulanya merupakan sebuah perkampungan nelayan, bernama Pharaos, kampung ini memiliki pantai yang indah. Alexandria bernama lain Iskandariah.

Ketika Alexander The Great atau yang dalam dunia Islam dikenal dengan nama Iskandar Zulkarnain, dia tertarik untuk membangun kota ini, “Di sinilah aku akan membangun kota yang sudah kuimpikan sejak lama.” Iskandar Zulkarnain adalah raja yang terkenal dengan julukan ‘Raja Bertanduk’. Petualangan beliau ke timur membawa ide-ide hellenistik yang memadukan dunia Timur dengan dunia Barat. Iskandar sangat terkagum-kagum dengan pesona alam ini, dapat dikatakan sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak main-main dengan ucapannya, beliau segera mendatangkan ahli tata kota dari Yunani, dan pada musim gugur 332 Sebelum Masehi Alexandria atau Iskandariah mulai dibangun.

Ide-ide Denokrates mampu menyulap Iskandariah dari perkampungan nelayan sebagai kota yang berbalut gemilang peradaban. Peradaban yang tinggi itu dihasilkan dari perpaduan ide-ide dan kerja keras dari banyak person. Selama hampir 1000 tahun menjadi ibukota Mesir hingga penaklukan Islam pada tahun 21 H (621 M). Baru setelah pendirian Kairo oleh penguasa Islam ibukota Mesir dipindahkan dari Alexandria ke Kairo.

Kota kosmopolitan yang berbalut kegemilangan peradaban masa silam dihidupkan kembali oleh banyak person. Salah satunya yang dibangkitkan kembali adalah Perpustakaan Iskandariah. Perpustakaan Iskandariah berdiri atas peran aktif Dinasti Ptolemi yang berkuasa di Mesir pada periode Hellenistik. Ptolemi I (323 – 284 SM) yang bergelar Soter adalah komandan militer dan penulis biografi Iskandar Agung. Ia merupakan sosok yang cinta ilmu. Ptolemi kemudian membangun Mouseion, pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan perpustakaan yang mengoleksi berbagai buku. Mouseion diambil dari bahasa Yunani yang berarti tempat beribadah seluruh Tuhan ilmu pengetahuan dan seni. Selain mengoleksi buku-buku berbahasa Yunani, perpustakaan ini dulunya menyimpan berbagai manuskrip Mesir kuno serta sebagian kitab Hindu dan Budha. Mouseion merupakan Universitas Alexandria Kuno di Mesir Kuno. Ahli arkeologi Polish telah menemukan 13 aula kuliah sebuah Universitas Alexandria Kuno di Mesir kuno.

Sampai masa Ptolemi III tercatat sekitar 700.000 buku tersimpan di sana. Dari tradisi kepustakaan ini dari Alexandria muncul ilmuwan-ilmuwan terkenal yang berjasa bagi kesejahteraan manusia di dunia. Muncullah Archimedes, seorang ahli Matematika abad ketiga sebelum Masehi yang menghasilkan banyak penemuan ilmiah; Aristarchis dari Samos, astronom abad ketiga SM, orang pertama yang berspekulasi bahwa planet-planet mengitari matahari, menggunakan trigonometri untuk menghitung jarak dan ukuran matahari dan bulan; Kalimakhus, pujangga dan kepala perputakaan abad ketiga, menyusun indeks pertama untuk perpustakaan Alexandria, sebuah karya yang membangkitkan kesusastraan Yunani Klasik; Euclides, penemu ilmu geometri, matematika dan arsitektur; Dionysus, penemu ilmu dasar bahasa; Erasthostenes, Mr Beta, ahli ilmu falak, sejarah dan filsafat; Hypatia, seorang wanita ahli matematika dan astronomi; Earasthotenes, ahli ilmu bumi dan astronomi.

Setelah selama tiga abad kekuasaan Ptolemi berjaya, perpustakaan mengalami keruntuhan. Pada masa-masa berikutnya Alexandria mengalami kemunduran. Ketika Napoleon mendarat di Alexandria, tempat ini telah menjadi perkampungan nelayan. Dari abad 19 Alexandria mengemban peran baru sebagai pusat ekspansi perdagangan dan pelayaran Mesir. Oleh banyak persona kota ini mulai dibangkitkan kembali. Lukisan tentang zaman keemasan Alexandria telah diabadikan oleh penulis-penulis semacam E.M. Forster dan Cavafy. Atas prakarsa UNESCO bekerjasama dengan pemerintah Mesir dan berbagai organisasi yang mempunyai perhatian terhadap ilmu pegetahuan dan teknologi, muncullah ide untuk menghidupkan kembali perpustakaan ini. Merogoh kocek sebanyak 220 juta dolar Amerika, perpustakaan ini didesain modern.

Dalam bulan Oktober 2002 dibuka kembali perpustakaan masa lalu, di dalamnya berisi sekitar 400.000 buku ditambah sistem komputer modern dan mutakhir memungkinkan pengunjung mengakses koleksi perpustakaan lain, koleksi utama dititikberatkan pada peradaban Mediterania bagian timur. Perpustakaan baru memiliki kapasitas 8.000.000 buku. Perpustakaan ini menyediakan 500 unit komputer untuk memudahkan para pengunjung mencari katalog, dilengkapi ruang konferensi dan pustaka Thaha Husein bagi tuna netra, pustaka anak-anak, museum peninggalan kuno, manuskrip serta 5 lembaga riset.

Selain tradisi keilmuan yang kuat di Alexandria, kita akan melihat banyak tempat yang menebar pesona keindahan. Gedung-gedung bertingkat dibangun di tepi laut. Apabila kita berjalan menyusuri Kanal Mahmudiya yang berhadap-hadapan dengan kawasan industri dan kelas pekerja kita bisa menikmati keindahan Alexandria yang kosmopolitan dan bohemian. Dengan jalan beraspal kuno yang dibatasi kanal dan pepohonan. Kemudian Mercusuar Pharaos yang legendaris yang menjadi bagian dari keajaiban dunia. Museum Sejarah Alam, Kebun Raya Zoologi, Museum Seni Rupa, Istana Antoniad yang terletak di dekat kuburan Roma, Masjid Abu Al Abbas al Mursi (Masjid berbentuk segi enam), Masjid Attarine, Benteng Qeitbey (masjid sekaligus benteng yang terletak di tepi pantai), Masrah Rumani (peninggalan Romawi, ada istana burung), Cotacombs of Kom El Shukafa (tempat penyimpanan mayat) dan Taman Mawar.

 

Kompleks Muntazah merupakan suatu kompleks taman dikelilingi tembok besar dari selatan, timur dan barat, sedangkan di sebelah utara ada pantai. Area ini pernah dimiliki oleh keluarga Muhammad Ali, penguasa pertengahan abad 19 hingga tahun 1952. Konstruksi dimulai tahun 1892 oleh Raja Abbas H yang membangun istana yang lebih besar, yang kemudian dinamakan Haramlik. Kemudian Raja Farouk membangun sebuah jembatan laut, suatu tempat yang indah untuk menikmati keindahan Alexandria. Taman Muntazah menjadi tempat peristirahatan musim panas bagi Raja Mesir sebelum revolusi 23 Juli 1952 (dari sistem kerajaan ke Republik). Memiliki luas 155,4 ha, taman ini hanyalah taman yang menebar keindahan. Di dalamnya, istana Raja Farouk berarsitektur menawan berdiri kokoh, menghadap Laut Tengah. Istana ini dijadikan istana kepresidenan untuk menyambut tamu-tamu negara.

 

Alexandria merupakan kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo, dan menjadi ibukota pemerintahan Al Iskandariah. Alexandria memiliki magnet bagi penduduk lain di belahan dunia manapun. Alexandria kota kedua setelah Roma dalam luas dan kekayaan. Dalam warna kehidupannya menunjukkan atmosfer Mediterania daripada Timur Tengah. Kota tersebut merupakan kota perdagangan, kota kosmopolitan dan budaya Bohemian yang dirintis oleh imigran dari Yunani Italia. Banyak manusia berdatangan ke taman impian ini. Pendudukpun menyambut dengan keramahtamahan demi kotanya, mereka rela berjam-jam melukiskan tempat-tempat wisata di Alexandria. Didukung dengan jasa transportasi dan penginapan yang murah. Dapat ditempuh dalam 2 jam dengan kereta api dan 2 setengah jam dengan berbus ria dari Kairo. (ekosuryanti@yahoo.co.id)


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: