Posted by: ekosuryanti | July 10, 2007

Pendidikan Multikultural

Judul Buku : Pendidikan Multikultural dan Revitalisasi Hukum Adat, dalam Perspektif Sejarah
Editor : Prof. Dr. Ki Supriyoko, M.Pd.
Penerbit : Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Deputi Bidang Sejarah dan Purbakala
Tahun Terbit : Juli 2005

Globalisasi yang menembus batas wilayah menuntut pendidikan multikultural diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan kita. Konsep multikultural merupakan konsep baru dalam khasanah ilmu-ilmu sosial humaniora. Buku ini mengumpulkan pemikiran-pemikiran dari banyak ahli yang berusaha memberikan solusi atas segala persoalan multikultural. Walau multikulturalisme itu telah digunakan oleh pendiri bangsa Indonesia untuk mendesain kebudayaan bangsa Indonesia, akan tetapi bagi pada umumnya orang Indonesia masa kini multikulturalisme adalah sebuah konsep asing. Konsep multikulturalisme tidaklah sama dengan konsep keanekaragaman secara suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Multikulturalisme tidak bisa diulas dalam satu sudut pemikiran saja, tetapi juga harus melibatkan berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakkan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komunitas dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu produktifitas.

Perwujudan tata multikultural nampaknya memang tidak dapat mengesampingkan peran negara. Peran negara dalam pelaksanaan “diversity” di AS dan Kanada ialah mendistribusikan kekuasaan pada unsur-unsur active society yang sudah mapan, dengan begitu negara menjamin perkembangan kompetensi budaya “pribadi-pribadi” melalui pembelajaran. Sistem ini dilakukan dengan asumsi bahwa kesejahteraan masyarakat dan tata masyarakat adalah tergantung pada kualitas individu. Di Inggris dan beberapa negara lain termasuk Belgia dan Belanda mengansumsikan bahwa negara menciptakan kondisi bagi kemajuan “kelompok” (pembelajaran menjadi urusan bersama). Akan tetapi kondisi masyarakat dan negara Indonesia tidak dapat disejajarkan dengan masyarakat dan negara-negara di atas.

Multikulturalisme bukan hanya sebuah wacana tetapi sebuah ideologi yang harus diperjuangkan, karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, HAM, dan kesejahteraan hidup masyarakatnya. Multikulturalisme bukan sebuah ideologi yang berdiri sendiri terpisah dari ideologi-ideologi lainnya, dan multikulturalisme membutuhkan seperangkat konsep-konsep yang merupakan bangunan knsep-konsep untuk dijadikan acuan bagi yang memahaminya dan mengembang-luaskannya dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk dapat memahami multikulturalisme diperlukan landasan pengetahuan yang berupa bangunan konsep-konsep yang relevan dengan dan mendukung keberadaan serta berfungsinya multikulturalisme dalam kehidupan manusia.

Terdapat lima tipologi pendidikan multikultural yang berkembang :

1). Mengajar mengenai kelompok siswa yang memiliki budaya yang lain (culture difference). perubahan ini terutama siswa dalam transisi dari berbagai kelompok kebudayaan ke dalam mainstream budaya yang ada.

2). Hubungan manusia (human relation). Program ini membantu siswa dari kelompok-kelompok tertentu sehingga dia dapat mengikuti bersama-sama dengan siswa yang lain dalam kehidupan sosial.

3). Singles group studies. Program ini mengajarkan mengenai hal-hal yang memajukan pluralisme tetapi tidak menekankan kepada adanya perbedaan stratifikasi sosial yang ada di dalam masyarakat.

4). Pendidikan multikultural. Pr4ogram ini merupakan suatu reformasi pendidikan di sekolah-sekolah dengan menyediakan kurikulum serta materi-materi yang menekankan adanya perbedaan siswa dalam bahasa, yang keseluruhannya untuk memajukan pluralisme kebudayaan akan equilitas sosial.

5). Pendidikan multikultural yang sifatnya rekonstruksi sosial. Program ini merupakan suatu program baru yang bertujuan untuk menyatukan perbedaan-perbedaan kultural dan menantang ketimpangan-ketimpangan sosial yang ada dalam masyarakat. Program ini dinamakan “critical multicultural education“.

Pendidikan dan kebudayaan memiliki keterkaitan erat, sehingga dibutuhkan perundang-undangan yang mengatur mengenai hal tersebut. Euphoria standardisasi dan otonomi daerah yang setengah hati telah menghilangkan nilai-nilai esensial dari kebudayaan di dalam proses pendidikan nasional.

Konsep pendidikan multikultural yang kiranya dapat dikembangkan di tanah air kita sesuai dengan kondisi sosial, budaya, budaya dan politik di tanah air.

1. “Right to culture” dan identitas budaya lokal
2. Kebudayaan Indonesia yang menjadi
3. Konsep pendidikan multikultural normatif
4. Pendidikan multikultural merupakan suatu rekonstruksi sosial.
5. Pendidikan multikultural di Indonesia memerlukan pedagogik baru.

Kurikulum yang bersumber pada wawasan multikultural itu memang tidak mudah disusun. ada dua hal yang harus diperhatikan dalam upaya menyusun kurikulum yang multikultural, yaitu :

1. Kebudayaan lokal di Indonesia ratusan jumlahnya, maka dari semua “puncak-puncak kebudayaan daerah” itu harus dipilih beberapa saja yang relevan dan sedikit banyaknya lengkap inventarisasinya;

2. Sejalan dengan otonomi dalam bidang pendidikan, maka sebaiknya pilihan mana yang relevan dan mana yang tidak relevan untuk dimasukkan dalam mata pelajaran yang bersangkutan, harus diserahkan kepada daerah-daerah otonom untuk merundingkannya sendiri.

Multikulturalisme bertitik tolak pada kenyataan bahwa setiap orang hidup dalam budayanya masing-masing, selain individu juga hidup dalam budaya kultural, kelompok budaya sendiri yang majemuk. Pendidikan multikulturalisme mengandung tiga realita yang harus dituangkan dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat rendah, menengah hingga tinggi. Isi bahan ajar multikulturalisme berbeda dari daerah satu dengan daerah lain. Bahan ajar multikultural harus merupakan sebuah mata pelajaran yang komprehensif yang disusun dengan bantuan ahli budaya.

******ekosuryanti@yahoo.co.id*******


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: