Posted by: ekosuryanti | July 13, 2007

Between Yogyakarta to Jakarta

Apabila kita semalam saja selain hari Minggu di kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor dan kota industri lainnya, pasti kita akan langsung terkesan betapa kota-kota tersebut pantas mendapat julukan never sleep city. Revitalisasi industri telah mengakibatkan banyak kota tidak pernah tidur, never sleep city. Pagi-pagi sehabis Subuh, pelajar, mahasiswa, pekerja pabrik, pegawai, guru telah berlomba-lomba mendapatkan angkutan. Mereka tidak mau terlambat kerja karena terjebak kemacetan. Kemacetan lalu lintas merupakan lagu lama yang terulang-ulang. Dengan was-was mereka menjalani hidup, karena preman-preman berkeliaran. Betul-betul hidup yang penuh perjuangan. Pengemis-pengemis dan pengamen-pengamen yang menolak diberi uang recehan dengan kasar. “Apaan, nih, uang kaya ngasih 100 rupiah! Nih, makan!” sambil dilemparkan yang memberi. Pagi-pagi Subuh berangkat, belum tentu saat maghrib nanti mereka bisa sampai di rumah. Macet menjebak perjalanan berangkat dan pulang kerja. Sopir dan kernet berteriak-teriak karena jalannya angkutan di depannya terkesan lamban. “Huei, lelet amat, Bang, cepetan, gue tabrak, hue, cepetan, tuh lampu sudah hijau, sopir Jawa pasti, ……Lo Gadung, Lo Gadung…..”. “Pung ‘tan, Kampung Rambutan, Kalires Kalideres”. Mata-mata boleh saling melotot, “Dagadu…dimane”. Sementara itu para penumpang sudah was-was kapan mereka akan sampai di rumah, mau pulang jam berapa, bagaimana anak-anak di rumah, karena yang di rumah biasanya pembantu-pembantu yang bergaya layaknya model, Inem Pelayan Seksi lah.

 

Jam kerja di pabrik ataupun di kantor tidak selalu mulai dari Subuh hingga waktu Asar, bisa saja dari Dhuhur hingga Subuh lagi datang. Itu berlangsung rutin. Banyak juga para pekerja yang hidup seperti kalong layaklah kalau di sana ada nama daerah “Rawa Kalong”, siang untuk tidur dan malam untuk bekerja. Kadang-kadang terjadi dialog demikian, “Tumben, mPok, tidak nglembur, biasanya nglembur sampai Subuh, sampai Subuhnya lupa. Matanya tidak sembab lagi, agak segar……”.”Wah aset penjualannya baru menurun…”. “Wah pagi tadi bagai fotomodel, sekarang kok kayak kucing kelaparan…”. Revitalisasi industri telah menyebabkan kota itu tidak pernah tidur dan manusia-manusia seperti kalong.

Kecemburuan sosial itu selalu ada dan bisa dimanifestasikan dalam bentuk intrik-intrik yang bisa mengganggu kenyamanan orang hidup. Preman-preman sok alim, penjahat berkedok “si kolor hijau”. Di tengah-tengah kota industri itu masih saja berlaku kepercayaan lama. Mereka segera menyediakan bambu kuning dan sebagainya untuk menanggulangi kedatangan makhluk tersebut.

Revitalisasi industri dan investasi telah membawa angin ekonomi pasar bebas. Semua ditentukan oleh ekonomi pasar. Cewek-cewek yang kalau baru berangkat kerja bagai fotomodel, tetapi ketika pulang kerja sudah bagaikan lutung gunung. Revitalisasi industri membawa dampak positif maupun negatif. Banyak anggota masyarakat yang mendapat tambahan penghasilan sebagai akibat dibukanya pusat-pusat industri itu. Kalau tidak berada di dalam zone pusat industri itu, ada usaha lain seperti laundry, rumah makan, rumah kos-kosan yang pasti tarifnya mahal. Guru-guru juga mendapat penghasilan tambahan, karena kesibukan orangtua tidak sempat mengajar anak-anaknya, sehingga semuanya diserahkan kepada guru-guru mereka. Dampak negatifnya, antara lain : persaingan yang ketat, kehidupan yang keras, kriminalitas terang-terangan maupun terselubung. Investor bisnis perbelanjaan juga marak di sana. Hampir di semua tempat, bila kita meninggalkan rumah, pasti sudah menemukan mall. Betul-betul kehidupan yang keras, tanpa kompromi. Mana kalau musim hujan bisa tidur di atas air, karena sedikit sekali lahan peresapan air.

Akankah Yogyakarta dibawa menuju ke sana, never sleep city, kota yang penuh kekerasan, kota yang penuh kesibukan, kota yang penuh kemacetan, kota yang penuh misteri, manusia-manusia kesepian di tengah-tengah hiruk pikuk kota, ruh-ruh budaya Jogja lenyap dari peredaran, romantisme klasik dan revolusi tidak terasa, candi-candi, museum-museum sepi, akhirnya berlumut, retak-retak lapuk dimakan masa.

Sebenarnya Yogyakarta sudah mendekati tanda-tanda ke arah never sleep city. Di Yogyakarta terdapat ratusan institusi pendidikan, dari yang menjadi milik swasta maupun pemerintah, dari level tinggi maupun dasar. Bahkan banyak investor pendidikan yang mendirikan sekolah-sekolah mahal di Yogya. Banyak yang memiliki alasan karena kepedulian kepada suramnya dunia pendidikan, ada juga yang murni berbisnis. Tempat fotocopian, penjilidan, penterjemahan, jasa konsultan skripsi (jasa pembuatan skripsi) telah menjadikan Jogja sedikit menjadi never sleep city.

Malioboro yang ramai, hampir tiap tahun bersolek. Malioboro merupakan muka seorang cewek yang namanya JOGJA yang terkenal cantik nan romantis dan penuh harmoni. Malioboro pun mulai meninggalkan ruh Jogja-nya, sehingga orang-orang yang ingin menemui Jogja tempo dulu memilih alternatif liburan ke daerah lain yang lebih berbudaya.

Investor-investor pusat perbelanjaan memusat di kota-kota dataran rendah, dari ibukota Jogja hingga Sleman. Pusat pendidikan menyebar dari Bulaksumur dan Karangmalang menyebar ke timur dan ke utara. Bahkan Gunung Kidulpun sudah memiliki Universitas. Perumahan-perumahan, real estate menyebar menggusur areal-areal gembala ternak dan pertanian. Hutan Kaliurang dibabat untuk vila dan real estate dan semacamnya. Lapangan golf dinilai lebih menghasilkan devisa daripada lahan pertanian. Para petani-petani mulai melirik gaya hidup yang baru. Sepeda motor segala merek didatangkan dari dealer-dealer ke desa-desa.

Investor-investor harus terus ditarik agar tertarik untuk menanamkan modalnya di Yogyakarta, tetapi harus memberi kesempatan kepada rakyat Yogya untuk menikmati hasil. Hasil di sini bukan seperti pengemis yang hanya menerima recehan uang logam kecil-kecil, tetapi juga menerima gaji, artinya mereka tanpa dibatasi umur, bentuk tubuh diberi kesempatan untuk menjadi pekerja di pabrik-pabrik itu. Selama ini rakyat Jogja malah disuruh melihat orang-orang di luar daerah menikmati penggusuran atas wilayahnya oleh pusat-pusat industri dan pusat perbelanjaan itu karena para investor, pengusaha justru membawa dari daerah asalnya. Mereka juga harus merekrut sarjana-sarjana dari Yogyakarta, sehingga betul-betul warga Jogja dapat menikmati gemerlapan kotanya.

Untuk mengatasi problem-problem berupa konflik-konflik kepentingan diperlukan pembagian zone-zone yang berdasarkan potensi wilayah masing-masing. Zone yang memang memiliki potensi Benda Cagar Budaya, maka harus dikembangkan menjadi zone budaya dan pariwisata. Inipun diperlukan investor-investor budaya sehingga zone tersebut juga memiliki daya saing. Bila ada kepentingan yang lain tentu harus menyesuaikan diri dengan kepentingan zone budaya dan pariwisata. Bagaimana banyak benda cagar budaya yang digempur dengan alasan kepentingan lain. Padahal benda-benda itu kalau dirumat oleh orang asing justru akan bernilai jual tinggi, tentu saja itu hanya untuk kepentingan mereka.

Di daerah-daerah yang berdaya saing menghasilkan hasil pangan baik pertanian maupun peternakan maka dikembangkan zone agrikultural. Paling tidak seperempat wilayah bisa dijadikan zone agricultural. DIY sangat berpotensi untuk pengembangan peternakan sebagai alternatif lain usaha pertanian. Sektor tersebut sebenarnya juga membutuhkan investor yang berjasa dalam revolusi pertanian dan revolusi pemasaran hasil pertanian/peternakan. Yogyakarta mampu menjadi pusat penyediaan sumber protein hewani bagi penduduk di kota-kota sebesar, tetapi agaknya kurang banyak investor yang mau menanamkan modalnya di bidang tersebut. Padahal siklus perdagangan ternak memberikan keuntungan bagi setiap subjek yang berperan di dalamnya, dari peternak, blantik, tukang jagal, pengusaha daging dan kulit, dan sebagainya.

Yang tidak boleh tergusur lagi, zone pemukiman penduduk. Kalau zone ini dipotong-potong untuk perumahan elit, penduduk diminta tinggal di mana lagi. Banyak penduduk yang tinggal di bawah jembatan. Di sanalah biasanya anak-anak jalanan setiap hari meluangkan waktu memandangi bintang-bintang di langit, hingga sang wajar nongol di ufuk timur.

Zone pendidikan telah menyebabkan lahirnya pemukiman-pemukiman baru. Perumahan-perumahan dosen, kos-kosan mahasiswa, asrama, ruko, tempat fotocopy, jasa penterjemahan, jasa konsultasi skripsi. Belum lagi pada musim-musim ujian lampu tidak pernah mati. Itu menunjukkan peran DIY sebagai pusat pendidikan membuatnya tidak pernah tidur.

Zone industri sebaiknya tidak mengganggu zone pemukiman penduduk, zone pendidikan, zone pertanian/peternakan yang subur, zone cagar budaya. Revitalisasi semua sumber daya yang ada dengan memanfaatkan sumber daya manusia hasil tamatan dari Universitas-Universitas yang ada di Yogyakarta yang tentu saja berkualitas. Yogyakarta bisa menjadi kota yang tidak pernah tidur dengan revitalisasi industri yang padat karya dan berimbas pada sosial ekonomi rakyat, tetapi tidak kehilangan ruh-ruh Ngayogyakarta. Yogyakarta harus memiliki suatu daerah yang memang khusus untuk menghidupkan ruh-ruh ke-Yogyakarta-an, sehingga tidak hilang, digerus globalisasi yang ada.

Remaja-remaja mall, tetapi tahu unggah-ungguh, pandai berbahasa daerah, tahu internet dan komputer, sekaligus bisa menarikan atau menyanyikan tarian dan tembang tradisional, dan tidak lupa beribadah sesuai waktu yang ditentukan. Penghargaan terhadap nilai-nilai budaya tradisional, benda cagar budaya semakin meningkat. Candi-candi selau dikunjungi, masuk museum tidak gengsi. Tetapi tidak pernah ketinggalan dengan Bahasa asing. Anak-anak muda memenuhi panggung teater tradisional seperti Sendratari Ramayana, walaupun pada saat lain mereka bisa melongok Spider 4, My heart, Mengejar Mas-Mas dan film-film lainnya baik nasional maupun internasional di sebuah gedung bioskop di Jogja. Nilai-nilai tradisional tidak boleh lenyap, tetapi harus berpadu dengan nilai-nilai modernitas.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: