Posted by: ekosuryanti | July 21, 2007

A glass of ice water and yellow wine…..

Hotel Santika Yogyakarta yang berada di dekat Tugu Whittpal itu semakin ramai. Angin senja bertiup sepoi-sepoi. Ketika aku berjalan memasuki pintu gerbang Santika, yang kulihat banyak orang keluar masuk dari kotak-kotak bermesin itu. Hillary keluar dari taxi dan segera menuju ruang rias, dia tidak mau terlambat, karena dia harus menari Jawa bersama teman-temannya. Teman-teman dari Monash University, Australia yang lain kayaknya sudah pada datang. Aku datang lebih awal dari teman-teman tutor yang lainnya, karena ingin memberi hadiah kepada beberapa dari mereka berupa majalah Balairung. Pakaian-pakaian dari dressmaker mana gue tidak tau. Teman-teman peserta dan tutor-tutor kursus bahasa dan budaya Indonesia di Fakultas Sastra UGM dalam program Monash University sedang berdandan di ruang rias hotel Santika Yogyakarta. Ada sekitar 7 – 9 an bule mendapatkan sampur untuk menari tarian tradisional. Suasana ruang rias hotel itu sangat meriah. Aku masih dalam suasana puasa, jadi agak kelaparan. Kulihat Jesse Wilkinson sudah selesai dirias, tinggal memakai kostum tari. Dia itu bule yang kalau bicara suka merendahkan hati, padahal Ayahnya manager department store di Melbourne, lho. Setelah selesai, dia berusaha membantu merias David, membenarkan cara David memakai kostum, yah David, nama bule itu, kalau nggak salah namanya. Dari mulut Jesse keluar celetukan, Hei, you are like monkey…….. David hanya cengar-cengir dirinya dikatakan kayak monyet. Jesse sebenarnya sudah memiliki boyfriend di Australia, cuman dia akrab sekali dengan teman-teman laki-laki yang lainnya. Asyik juga bisa berteman dengan teman cowok, ada bercandanya, nggak marah-marahan, dan mendapat perlindungan. Jesse adalah cewek bule yang akrab dengan saya. Kami suka diganggu oleh Mac, cowok Tmor Leste itu. Cowok yang sangat mengagumi Sri Sultan.

Ibu Hillary (aku agak lupa namanya) sedang memakai earing. Dia orang kebangsaan Amerika yang tinggal di Australia dan kuliah bahasa Indonesia di Monash University. Dia menjadi salah satu bule yang didapuk untuk menari tarian tradisional. Lupa saya tari apa ya waktu itu, oh ya kalau nggak salah tari Bondan, atau tari Gambyong ya, ah lupa…lupa. Uup, ternyata earingnya nyelip di tas. Dia sangat sibuk mencari. Akhirnya ketemu juga. Dia itu sangat suka musik lama. Orangnya menjuluki Jogja dengan ,”kota harmoni” harmony city untuk seluruh irama hidup di Jogja ini. Itulah yang membuatnya betah tinggal di Jogja.

 

Lama sekali aku menunggu acara dimulai. Aduh malunya aku. E…ternyata tanpa kusadari sepatuku jebol. Mudah-mudahan nggak ada yang melihat. Malam masih panjang, aduh……….Dari dalam hotel tidak terdengar adzan maghrib, tetapi waktunya kayaknya sudah sampai. Aduh di meja bundar hanya ada air es. Nggak papa, yang penting dahaganya hilang. Untung di hotel Santika ada mushola imitasinya, kalau tidak gimana aku sholat…….Ternyata ada Pak Adaby Darban, oh iya dia kan salah satu pembantu dekan. Yang kuherankan adalah dekan dan para pembantu dekan itu ternyata mau sholat di mushola itu bersama teman-teman mahasiswa lainnya.

Selepas Isyak acara segera dimulai. hanya saja dari tadi perutku ini hanya terisi air es. Waduh kapan acara dinnernya to. Sambutan-sambutan dari wakil Monash University, Fakultas Sastra dan Pusat Studi Indonesia silih berganti. Juga ada seorang wakil mahasiswa Monash yang ikut kursus didaulat untuk pidato. Acara itu akhirnya berlalu dengan tenangnya. Tidak tau apakah telinga betul pada di tempatnya. Aku nunggu acara makan nih. Aduh…aduh lapernya. Begitu sambutan dimulai seorang anak dosen menari di atas panggung. Matanya membelalak karena sedang menari Bali……..Kemudian giliran para mahasiswa Monash menari Jawa. Dari sekian banyak cewek, ada cowok yang menari. Lucunya mereka menari. Mau-maunya dikerjain orang-orang Pusat Studi Indonesia.

Akhirnya waktu makan malam tiba. Waktu yang kutunggu-tunggu. Jaga image dulu ah, lapar ya lapar, cuman tunggu giliran. Banyak hidangan penggugah selera ditunjukkan di situ. Tinggal milih. Buah-buahan, es campur, wah……..Teman-teman bule mempersilakan aku segera makan. Aku mendapat bolpoin dari Jesse Wilkinson, bulpen bertuliskan Melboune. Dari Mellisa Moris kudapatkan buku Souvenir of Australia. Alangkah indahnya bisa bertemu mereka. Betapa ramahnya mereka, karena mereka selalu berpikir bahwa orang Yogyakarta ramah.

Setelah acara wisuda peserta-peserta kursus Program Monash University, band geronimo mendapat giliran unjuk gigi. Eee, ternyata ada Surya Bagaskara sama Ninda Kariza. Mereka jadi MC di sana. Surya Bagaskara itu dosen yang nyambi jadi penyiar radio Geronimo dan TVRI Stasiun Yogyakarta, atau sebaliknya dia itu penyiar nyambi jadi dosen Perancis. Betul-betul dia dosen gaul. Memangnya Pak Surya sama Mbak Ninda pacaran, kok akrab. Ternyata nggak tau juga……. Kemudian kami menari-nari ala Barat. Foto-foto bareng, kenapa sih sepatuku. Aku terkesan sekali dengan gaya kebangsawanan Sheridan Parish. Aku malu sekali. Eiii… ada pemuda Timur Leste yang cakep sekali ikut juga kebetulan dia kuliah di Monash. Ramah sekali dia. Kalau nggak salah namanya Mac, untung bukan Mac Donald. Apresiasinya tentang Sultan dan Jogja sangat baik sekali. Aku memang agak belum nyambung sama dia. Aku agak marah juga waktu Timor Timur lepas dari Indonesia, tetapi mau bilang apa. Andaikan aku di hari yang lain bertemu dengannya, aku ingin bertanya tentang Indonesia dan Timor Timur, aku mau ngobrol lebih lama lagi. Sekali lagi budayaku memang belum bisa bersentuhan dengan budayanya. Sementara itu Ibu Lys menari Salsa dengan lincahnya, padahal usianya sudah tua. Dia menari dengan Pak Basuki, seorang dosen sastra Indonesia Monash University. Apa ya nggak capek…nari Spanyol kayak gitu. Sepatunya bergeletuk…….pakai koprol segala. Padahal keduanya sudah tua, kok masih energik ya. Pak Basuki adalah orang yang paling banyak menerima ciuman dari banyak mahasiswi Monash sebagai tanda terima kasih telah lulus kursus Bahasa Indonesia di UGM, mungkin………

Malam kian larut, pembesar-pembesar Sastra sudah pulang. Minuman-minuman penghangat mulai dikeluarkan dari lemari. Teman-teman Monash sudah ada yang memegang gelas-gelas wine. Aduh… ada beberapa bule seperti Mellisa Moris berusaha menghargai budaya kami, sehingga belum ingin mengeluarkan wine kesukaannya, padahal dia ingin mendirikan pabrik wine di Melbourne. Mungkin Pak Kyai akan marah padaku bila melihat aku berada semeja dengan orang-orang yang suka wine. Tetapi itulah budaya, selama saya tidak ikut minum kenapa. Padahal, kami tidak mempermasalahkan kalau Mellisa Moris mengambil minuman itu, toh mereka tidak menyuruh kami minum. Itu budaya mereka, just understanding. Jam 12 malam kami pulang dengan taxi…….Kenangan bersentuhan budaya lain sangat mengesankan sekali. Wine dan air es bisa berada di meja yang sama, tetapi bukan untuk dicampur, karena sedapnya masing-masing akan hilang………


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: