Posted by: ekosuryanti | October 2, 2007

Mencari Channel Hiburan dan Informasi yang Mendidik

Banyak buku yang menyatakan agar orangtua segera mematikan layar tv-nya, agar budaya belajar dan budaya baca menjamur di dalam masyarakat. Tetapi tunggu dulu karena ada sesuatu di dalamnya. Saya tidak menyuruh orang untuk menonton tv, tetapi kita juga harus jujur bahwa ada beberapa siaran televisi yang layak ditonton oleh anak-anak.

Ada banyak prasangka yang ditujukan kepada media. Medialah yang telah menjadi penyebab tunggal kebobrokan di dalam masyarakat. Padahal kita hanya membutuhkan suatu ketahanan budaya yang akan memfilter terhadap segala sesuatu yang beredar di dalam masyarakat kita. Di Jepang, media justru dilibatkan untuk mempromosikan budaya baca dan budaya belajar. Artis-artis mereka didaulat untuk terlibat di dalamnya, sehingga artis bukan hanya menjadi objek acara-acara gosip.

Beberapa minggu yang lalu saya mendengar seorang khotib di masjid yang menyinggung masalah acara-acara di televisi. Bagaimana di Jepang anak-anak dilatih untuk menjadi manusia ultra. Kita pernah menonton Ultraman, bukan? bagaimana Ultraman sebenarnya hanyalah seorang manusia biasa, tetapi bila ada monster yang ke kota dia selalu berubah. Monster-monster merupakan simbol dari segala kejahatan di bumi, pengaruh jelek, penjajahan terhadap bangsa Jepang. Untuk menghadapinya diperlukan Ultraman, manusia super.

Jepang sebagai negara maju tidak pernah kehilangan moment-moment budaya lokalnya. Karya-karya dalam media mereka penuh dengan bujukan / persuasi agar orang-orang bisa seperti Ultraman.

Ada lagi film yang sejenis, dengan tokoh kera sakti, Song gho ku (tulisan mungkin tidak seperti itu), “dragon ball”. Dia harus melawan monster-monster yang akan merusak bumi.

Jangan sampai anak-anak Jepang cengeng seperti Nobita (dari bahasa Inggris No bit = tidak menggigit) karena tidak punya taring di depan teman-temannya seperti Giant (simbol keperkasaan Amerika) dan Suneo (simbol ketakaburan/aroganisme Eropa). Jerman yang selalu memilih-milih teman, dan sebagainya. Padahal kalau di Jawa Giant itu disamakan dengan Gianto yang kadang-kadang katroo. Untuk menghadapi Giant dan Sune, Nobita harus memiliki kantung ilmu pengetahuan (Doraemon). Akan tetapi, tidak boleh untuk usil terhadap teman-temannya.

Selain itu media TV Jepang juga mendidik anak-anak Jepang untuk menjadi ahli analisis. Detektif Conan, detektif cilik yang selalu berhasil menyelesaikan problem-problem orang-orang dewasa karena kemampuan analisanya. Sailormoon mengajarkan gadis-gadis yang bisa melindungi dirinya.

Untuk menggoalkan antusiasme Jepang dalam pertandingan sepakbola piala dunia, ataupun liga Asia, diciptakanlah film kartun Tsubatsa, yang selalu gigih dalam setiap pertandingan dan dalam latihan.

Ketika Jepang ingin mempromosikan produk kulinernya mereka menciptakan kartun “Si Anak Cita rasa” yang dilahirkan untuk memasak. Dia pandai memadukan resep-resep memasak makanan, dan rajin mengikuti kompetisi memasak dengan koki-koki senior. Tentu saja cercaan selalu ditujukan padanya.

Berbeda dengan kebanyakan sinetron Indonesia yang bercerita tentang cinta monyet, dunia glamoritas, sehingga mendorong remaja-remaja untuk mengikuti pola hidup konsumtif. Semestinya film-film remaja Indonesia tidak hanya bertema cinta, tetapi juga cerita detektif, atau bertema problem solving sehingga remaja-remaja Indonesia menjadi lebih cerdas. Ini berarti media turut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ada juga film-film yang baik seperti Samsul dan Badriah. Tetapi akan menjadi jelek kalau nanti larinya ke arah cinta monyet. Samsul menjadi anak yang tangguh setelah beberapa hal yang mengenainya. Dia menjadi lebih dewasa dalam menghadapi kehidupannya. Walaupun demikian film tersebut mestinya ceritanya diarahkan ke arah setting umur Samsul, apakah cerita tersebut pantas untuk anak seusia Samsul, ataukah samsul yang masih anak-anak harus dipaksakan untuk menjadi orang dewasa.

Film Candy telah menyebabkan Rachel Amanda tetangisan terus, menjadikan seorang anak menjadi pemurung oleh segala persoalan hidup. Ibu menjadi sesuatu yang misterius baginya, bahkan kepercayaan orang kepada dirinya menjadi sulit baginya. Ibunya suka bohong. Ibunya digambarkan sebagai wanita yang tidak bisa berpikir sistematis, grusah-grusuh tanpa pertimbangan.

Film monyet cantik itu juga mengarah ke cinta monyet, tetapi film ini mengajarkan kalau anak itu tidak ramah dan mudah marah maka wajahnya akan mirip monyet.

Si Eneng kaos kaki ajaib menawarkan dunia keajaiban. Eneng bisa merubah keadaan dan bisa menolong orang lain dengan kantong ajaibnya.

Orangtua memang perlu mendampingi putranya menonton televisi, tetapi bukan berarti dipenjara dalam kehendak orangtua yang justru membelenggu kreatifitas anak-anak.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: