Posted by: ekosuryanti | November 21, 2007

Ring Road Utara 2

Ringroad meninggalkan banyak cerita bagi yang tinggal di sekitar sana. Dia membelah banyak kampung, sehingga membagi pula lingkungan sekitarnya.

andan.jpg nandan.jpg Gb. jembatan dan hutan Nandan. Konon jembatan tersebut sangat tidak aman, tempatnya sepi, banyak gali, tetapi dengan kemajuan teknologi penerangan, semakin padatnya lokasi tersebut, jalan terebut aman-aman saja.

Banyak permainan tradisional berhasil saya mainkan waktu itu. Permainan yang paling membuat saya menangis adalah sepak sekong. Permainan sepak sekong dimainkan sekelompok orang anak, lebih banyak lebih ramai. Setelah beberapa anak hompimpah (hompimpah alahiyong gambreng) dan pingsut, yang menang pingsut harus menendang bola sedangkan yang lain bisa siap-siap sembunyi terlebih dahulu. Konon pada zaman sebelum saya bila sembunyi ada yang sampai sejauh 2 kilometer. Kadang-kadang yang jaga bola suka membawa bolanya sambil mencari teman-temannya. Yang paling beruntung yang berhasil sembunyi tanpa bisa ditemukan teman-temannya. Biasanya kalau penjaga sudah tidak sanggup untuk menemukannya, terus si penjaga bilang, “thit” semuanya memanggil teman yang sembunyinya aman tadi. Kalau yang sering menjaga biasanya ada beberapa anak yang sengaja ingin ngongking agar yang jaga anak itu terus. Si anak yang jaga terus bisa curang dengan pulang ke rumah duluan, atau mungkin menangis karena sudah tidak tahan lagi tidak pernah dapat giliran untuk bersembunyi. Untuk menyiasatinya agar tidak ada kongking-kongkingan, setiap lima ronde permainan, permainan dimulai dari awal untuk mencari penjaga berikutnya, atau dengan renteng pete.

 

Renteng pete, si penjaga yang tadi berdiri menghadap tembok matanya di tutup, teman-temannya di minta baris ke belakang. Si penjaga tadi menunjuk teman yang baris nomer berapa yang akan menjadi penjaga berikutnya tanpa tahu nama si anak

Renteng pete dipakai juga dalam permainan-permainan lainnya. Ada nama lain permainan sepak sekong, antara petak umpet, delik-delikan, yang berbeda hanya perangkatnya. Ada yang pakai pecahan genting kemudian ditumpuk-tumpuk. Bagi yang jaga harus menyusun pecahan genting tadi sehingga tidak ambrug.

Permainan dengan perkakas pecahan genting seperti di atas juga berlaku pada permainan boy-boynan. Beberapa anak membentuk dua kelompok. Pertama-tama pingsut, kelompok yang menang bertugas melempar menara pecahan candi dengan bola, kalau sudah ambrug, kemudian memencar menghindari tembakan bola. Kelompok yang satu harus menyusun pecahan genting tadi, sedangkan kelompok lawan lagi mengejar anggota mereka, kalau ketembak bola, maka kelompok lawan kehilangan salah seorang mitra dalam usaha menyusun genting tadi. Bola dilempar dari teman ke teman kelompok penjaga pecahan genting. Kalau kelompok lawan berhasil menyusun menara genting lagi tanpa kena tembak maka berarti kelompoknya menang. Tetapi bila belum tersusun menara genting, setiap kelompok penyusun genting tadi sudah tertembak bola semua, maka mereka gantian yang jaga.

Permainan egrang, permainan yang memakai bambu, bambu sepanjang 1 meter dilubangi di bagian bawah setinggi lutut untuk masuk bambu pendek Bambu kecil yang dipasang pada bambu panjang tadi harus kuat karena bambu tadi menjadi pijakan kaki kita. Tangan kita memegang bambu panjang, sementara kaki kita berada di atas bambu pendek yang terpasang di bambu panjang (kira-kira setinggi lutut). Permainan ini sering dipakai Pramuka Indonesia untuk adu kecepatan. Egrang menuntut keseimbangan badan. Egrang menjadi penyambung kaki.

Benthik juga memakai alat berupa kayu. Biasanya memakai kayu ceredede. Kayu sepanjang betis sebagai pemukul dan kayu sepanjang telapak kaki. Kayu kecil dipasang di atas lubang panjang kemudian didorong ke arah yang jauh. Di dalamnya ada seni bagaimana memukul kayu tadi, ada patel lele. Nilai ditentukan oleh panjang kayu kecil itu terlempar. Bagi yang di luar garis harus menangkap kayu kecil tadi. Kalau berhasil menangkap berarti dapat poin, apalagi kalau berhasil menangkap sebilah kayu itu dengan gigi. Sebagai penjaga seorang anak harus mengembalikan sebilah kayu kecil tadi mendekati lubang, agar lawannya tidak mendapat nilai. Apabila dalam melempar kayu bisa masuk ke lubang berarti akan menambah nilai yang ada di luar garis. Akan tetapi apabila jatuhnya kayu kecil jauh dari lubang maka menjadi poin bagi temannya yang memukul. Berarti dia bisa melanjutkan ke permainan berikut. Kalau yang pertama, kayu kecil ditaruh di atas lubang kecil panjang lalu di dorong jauh ke depan, pada permainan kedua kayu kecil di pukul jauh ke depan, pada permainan terakhir sebagian kayu di taruh di lubang sehingga kayu diposisikan miring, pukul hingga melambung ke atas kemudian dipukul jauh ke depan. Perhatikan gambar berikut :

benthik.jpg

Gb permainan benthik

Ada permainan lagi, namanya endhog-endhogan. Ceritanya ada seorang anak yang menjadi bebek yang punya banyak telur. Permainan ini dimainkan banyak anak. Setelah hompimpah dan pingsut, yang kalah harus jadi bebek yang berdiri di tengah. Sebelum permainan di mulai setiap anak harus mengumpulkan beberapa batu, tergantung kesepakatan, mau 5 atau 6, atau 7, dan seterusnya. Kemudian batu-batu masing-masing anak dikumpulkan di tengah lingkaran sebagai perumpamaan kandangnya. Anak-anak yang di luar lingkaran harus mengambil telurnya tadi sesuai jumlah kesepakatan tanpa tersentuh anak yang ada di tengah lingkaran. Setelah semuanya memeperoleh batu yang diibaratkan telur sesuai jumlah semula, maka masing-masing menyembunyikan telur-telurnya ke tempat yang kira-kira tidak ketahuan anak yang jadi bebek.

Permainan “angka 8“, anak-anak menggambar angka delapan besar di tanah lapang. Anak yang kalah pingsut (random) harus berada pada garis. Anak-anak yang lain harus berada di dalam angka delapan tidak boleh melewati garis, dan hati-hati agar tidak tersentuh oleh yang jaga di garis. Mereka haris berpindah dari lingkaran angka delapan yang satu ke lingkaran lain.

Permainan angka 8 hampir sama dengan gobag dodor, hanya saja medannya berbentuk persegi empat yang dibagi menjadi 6 bagian. Permainan dilakukan oleh dua kelompok. Kelompok yang jaga berada di garis-garis. Kelompok lainnya harus berada di dalam segi empat. Pertama-tama kelompok A berusaha masuk ke emdan main melewati garis start, sementara di sana ada anak kelompok B yang jaga. Kelompok A harus menyebar tidak hanya mengumpul pada satu kotak agar mereka bisa kembali melewati garis start.

Ada permainan yang juga bermedia lapangan, kasti. Ini permainan yang agak baru. Hampir sama dengan rondes. Beberapa anak dibagi dalam dua kelompok. Kelompok A menjadi penjaga di luar garis. Kelompok B adalah kelompok pemain. Setelah kelompok pemain memukul bola dia lari ke pos satu atau pos dua, terus langsung kembali ke dalam garis start tadi. Agar dia bisa lari dari pos ke pos dengan aman, maka dia harus memukul bola kasti sejauh-jauhnya agar dia tidak ditembak dengan boal (diembat). Kalau tertembak berarti dia merugikan kelompoknya, karena membuat kelompoknya mendapat giliran jaga.

(Dokumentasi : ekosuryanti@yahoo.co.id)

 


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: